Tak Terdeteksi, Perempuan Ternyata Banyak yang Kena Penyakit Ginjal

Newswire
Newswire Jum'at, 29 Juni 2018 16:35 WIB
Tak Terdeteksi, Perempuan Ternyata Banyak yang Kena Penyakit Ginjal

Ilustrasi rumah sakit/Reuters

Harianjogja.com, JOGJA—Tanpa disadari, banyak perempuan di Indonesia yang terkena penyakit ginjal. Gejalanya hampir tak ada tetapi tiba-tiba kondisi tubuh turun drastis dan telah sampai pada tahap penyakit ginjal kronik (PGK).   

Menurut data Pengurus Besar Perhimpunan Nefrologi Indonesia (Pernefri) ada sekitar 40% penderita PGK yang menjalani dialisis (cuci darah).  Ketua Pengurus Besar Pernefri, dokter Aida Lydia, mengatakan  dari data Internasional menunjukkan sekitar 195 juta perempuan di seluruh dunia menderita penyakit ginjal kronik, dengan 600.000 kematian setiap tahunnya.

“Di Indonesia, pasien yang menjalani dialisis atau cuci darah sekitar 43,6 persennya adalah perempuan," ujar dia belum lama ini.

Sejumlah kondisi yang menjadi faktor risiko terjadinya PGK pada perempuan antara lain banyaknya perempuan yang terkena lupus, penyakit autoimun yang dapat menyerang ginjal dan risiko menderita pre-eklampsia dan eklampsia selama kehamilan.

"Perempuan mengalami kehamilan. Saat kehamilan bisa mengalami komplikasi yang disebut pre-eklampsi dan eklampsi. Kondisi ini menyebabkan kematian. Kalau ibu hamil mengalami  pre-eklampsi berisiko terkena PGK dan kalau dia mengalami terkena PGK duluan maka dia bersiko terkena pre-eklampsi. Kehamilan juga sering menyebabkan gangguan ginjal akut, kelainan hipertensi saat hamil," kata Aida.

Faktor lainnya adalah tingginya kejadian infeksi saluran kemih pada perempuan akibat struktur anatomi saluran kemih pada perempuan yang lebih pendek dari laki-laki.  "Satu dari tiga orang mengalami  gangguan saluran kemih. Kalau infeksi berulang, berisiko terkena PGK," tutur Aida.

Di samping itu, tingginya kejadian penyakit kanker serviks juga seringkali mengakibatkan gangguan fungsi ginjal pada perempuan.  Hanya saja, jumlah perempuan yang menjalani cuci darah rendah tergolong rendah, salah satunya karena perjalanan penyakit yang lebih lambat, ditambah rendahnya kesadaran akan penyakit ginjal sehingga mengakibatkan keterlambatan atau tidak dimulainya dialisis.

Berbeda dari penyakit lainnya, penyakit ginjal tak bergejala khas sehingga penangannya terlambat. Sebagian besar penderita gagal ginjal tidak menunjukkan gejala sampai mereka kehilangan fungsi ginjalnya sebanyak 90%. "Keluhan timbul bila fungsi ginjal sudah amat rendah," kata Aida.

Namun, ada sejumlah tanda yang dicurigai antara lain tekanan darah tinggi, perubahan frekuensi buang air kecil dalam sehari, adanya darah dalam urin, mual, muntah dan bengkak terutama pada kaki dan pergelangan kaki.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Maya Herawati
Maya Herawati Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online