OJK Cabut Izin 9 BPR dan BPRS Sepanjang 2026, Ini Daftarnya
OJK telah mencabut izin usaha sembilan BPR dan BPRS sepanjang 2026. Simak daftar bank yang ditutup serta alasan pencabutan izinnya.
Gulai Lemea/ist
Harianjogja.com, REJANG LEBONG—Gulai lemea adalah kuliner khas Suku Rejang yang bermukim di Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu. Kuliner tradisional ini populer sebagai hidangan berbuka puasa.
Mimi, 55, salah seorang pedagang lauk-pauk di Pasar Ramadhan di Lapangan Setia Negara Curup, Rejang Lebong. gulai lemea ini masih menjadi kuliner favorit bagi masyarakat lokal, hal ini terbukti dengan banyak warga yang mencarinya.
Makanan khas masyarakat Suku Rejang yang terbuat dari permentasi rebung atau bambu muda dan ikan sungai ini sudah ada lama dan dulunya hanya bisa dikonsumsi oleh kalangan menengah ke atas saja, namun saat ini setiap orang di daerah itu bisa membuat atau membelinya.
"Setiap harinya selalu habis, kalau hari ini saya bawa 10 potong. Perpotongnya saya jual Rp15.000, dan sebelum sore biasanya sudah habis," ujarnya Rabu (23/5/2018).
Kalangan masyarakat Rejang Lebong yang akan membeli gulai lemea ini tambah dia, bisa mendapatkannya dalam keadaan siap saji atau sudah masak, seperti yang dijualnya saat ini.
Selain itu mereka juga bisa membelinya di pasar di wilayah itu dalam keadaan mentah atau belum dimasak. Untuk memasak lauk ini tidaklah susah yakni dengan menggunakan bumbu-bumbu berupa cabai merah, cabai rawit, bawang merah dan bawang putih, ditambah sayuran jenis terong bulat dan daun keladi.
Sementara itu menurut Medi, 50, salah seorang warga yang biasa membuat gulai lemea, kuliner itu berasal dari kata lemeah dalam bahasa Rejang yang berarti lemah atau tidak bertenaga karena nikmatnya masakan tersebut.
Memakan Waktu
Kuliner khas daerah ini dulunya banyak disajikan untuk acara perayaan hari besar keagamaan, menjamu tamu dari luar daerah atau pun sajian di acara pernikahan dan hajatan lainnya.
Untuk membuat gulai ini menurut dia, dibutuhkan ketelatenan karena pengolahannya bisa memakan waktu tiga hingga lima hari. Adapun bahan-bahan dibutuhkan ialah rebung muda yang di potong-potong berbentuk bulat dadu dan ikan sungai bisa menggunakan ikan baung, ikan mas, mujair dan jenis lainnya.
Rebung yang sudah dipotong kecil-kecil ini kemudian cuci hingga bersih, seterusnya disimpan dalam toples selama 24 jam, dan airnya harus diganti setiap delapan jam sekali. Setelah itu airnya disaring dan hanya menyisakan rebung kering yang selanjutnya dicampurkan dengan ikan lalu disimpan kembali dalam toples selama 24 jam.
"Gulai ini baru bisa dimasak proses fermentasi dilakukan tiga sampai lima hari, orang yang memakannya akan merasakan gurih, pedas dan sedikit keasam-asaman," ujar dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
OJK telah mencabut izin usaha sembilan BPR dan BPRS sepanjang 2026. Simak daftar bank yang ditutup serta alasan pencabutan izinnya.
KPK menyebut OTT Bupati Pemalang terkait dugaan korupsi proyek dan jual beli jabatan. Uang tunai lebih dari Rp2 miliar turut disita.
PSEL Piyungan akan mengolah 1.000 ton sampah per hari tanpa mengganggu operasional TPST di DIY yang tetap menjadi bagian sistem pengelolaan sampah.
PAN DIY menargetkan satu kursi DPRD di setiap Dapil di Kulonprogo untuk mengembalikan posisinya sebagai partai pemenang.
Job Fair 2026 di Kota Magelang membuka 2.681 lowongan kerja dari 18 perusahaan, termasuk peluang bagi penyandang disabilitas.
Simak rekomendasi 9 mobil van terbaik di Indonesia mulai dari Wuling Formo, Gran Max, Hiace Premio hingga Mercedes-Benz V-Class. Cocok untuk keluarga maupun bis