Portugal Menang 2-1 di Kandang Norwegia, Ronaldo Dicadangkan
Portugal menang 2-1 atas Norwegia di UEFA Nations League. João Félix dan Gonçalo Ramos mencetak gol, Cristiano Ronaldo dicadangkan.
Ilustrasi/Magnific
Harianjogja.com, JOGJA—Kata “oke” hampir selalu muncul dalam percakapan sehari-hari. Kata ini bisa digunakan ketika seseorang menyetujui sesuatu, memastikan informasi, atau sekadar memberikan respons singkat dalam percakapan.
Di balik penggunaannya yang terasa sangat biasa, “oke” ternyata memiliki sejarah panjang. Jejak tertua yang diketahui dalam bentuk cetak membawa kata “OK” ke Amerika Serikat pada 1839, ketika istilah tersebut muncul dalam sebuah surat kabar di tengah tren penggunaan singkatan dan ejaan jenaka.
Sejarah “OK” sempat dikelilingi berbagai teori. Salah satunya mengaitkannya dengan istilah “Okeh” yang disebut berasal dari bahasa suku Indian. Ada pula teori lain yang mencoba menghubungkannya dengan nama atau istilah tertentu.
Namun, penelitian ahli bahasa Allen Walker Read memberikan penjelasan yang kemudian menjadi salah satu dasar utama pembahasan sejarah kata tersebut. Dalam penelitian berjudul The First Stage in the History of O.K. pada 1963, Read menelusuri kemunculan awal “OK” dalam berbagai dokumen dan surat kabar.
Menurut penelusuran Read, penggunaan cetak paling awal yang diketahui muncul pada 23 Maret 1839 di Boston Morning Post. Redaktur surat kabar tersebut, Charles Gordon Greene, menggunakan “o.k.” dalam sebuah tulisan bernuansa humor.
Istilah itu berkaitan dengan frasa “oll korrect”, yakni bentuk sengaja yang dipelesetkan dari “all correct”. Pada masa itu, penggunaan singkatan dan salah eja secara sengaja sedang menjadi tren dalam lingkungan tertentu di Amerika Serikat.
Dengan demikian, “OK” pada awal kemunculannya bukanlah singkatan formal seperti yang biasa dikenal sekarang. Istilah tersebut justru lahir dari permainan bahasa dan kemudian berkembang jauh melampaui konteks humor ketika pertama kali digunakan.
Penelitian Read menunjukkan bahwa kemunculan “OK” terjadi dalam suasana ketika surat kabar dan penutur bahasa Inggris di Amerika gemar memainkan kata, membuat singkatan, serta menggunakan ejaan yang sengaja dipelesetkan. Tren tersebut menjadi lingkungan yang memungkinkan istilah “OK” berkembang dan dikenal lebih luas.
Seiring waktu, penggunaan “OK” tidak lagi terbatas pada permainan bahasa di surat kabar. Istilah tersebut berkembang menjadi ungkapan yang dapat digunakan dalam berbagai situasi.
“OK” bisa muncul sebagai respons terhadap pertanyaan, tanda persetujuan atas permintaan, maupun penegasan bahwa sesuatu berjalan sesuai harapan. Kesederhanaan bentuknya membuat istilah ini mudah digunakan dalam percakapan.
Penggunaannya kemudian menyebar ke luar bahasa Inggris dan masuk ke berbagai bahasa lain. Dalam bahasa Indonesia, bentuk yang digunakan dan tercatat dalam kamus adalah “oke”.
Perkembangan tersebut juga menunjukkan bagaimana sebuah istilah yang awalnya muncul sebagai permainan bahasa dapat berubah menjadi bagian dari percakapan sehari-hari. Bentuknya sangat singkat sehingga mudah disisipkan dalam komunikasi lisan maupun tulisan.
Salah satu karakteristik “OK” adalah bentuknya yang sangat pendek dan mudah diucapkan. Karena itu, penggunaannya dapat menyesuaikan banyak konteks tanpa membutuhkan kalimat panjang.
Namun, singkatnya respons tersebut juga membuat maknanya sangat bergantung pada konteks. “OK” dapat menunjukkan penerimaan atau persetujuan, tetapi dalam percakapan tertentu juga dapat terasa berbeda tergantung situasi dan cara seseorang menyampaikannya.
Perjalanan istilah tersebut akhirnya membuat “OK” menjadi salah satu bentuk ungkapan yang sangat dikenal. Dari sebuah singkatan bernuansa humor di surat kabar Amerika pada abad ke-19, penggunaannya berkembang menjadi bagian dari komunikasi sehari-hari di berbagai tempat.
Dalam bahasa Indonesia, bentuk “oke” tercatat dalam KBBI sebagai kata percakapan. Maknanya adalah “kata untuk menyatakan setuju; ya”, sementara sebagai verba berarti “setuju”.
Makna tersebut membuat penggunaan “oke” dalam percakapan Indonesia cukup luas. Kata ini dapat digunakan untuk menerima ajakan, menyetujui permintaan, memberikan tanda bahwa seseorang memahami informasi, atau menyatakan bahwa tidak ada masalah.
Meski begitu, “oke” tetap termasuk ragam percakapan. Artinya, penggunaannya lebih dekat dengan komunikasi sehari-hari dibandingkan bahasa formal.
Jadi, ketika seseorang mengetik atau mengucapkan “oke”, kata yang tampak sederhana itu sebenarnya membawa sejarah lebih dari satu setengah abad. Jejaknya dapat ditelusuri hingga 23 Maret 1839 ketika bentuk “O.K.” tercatat dalam Boston Morning Post sebagai bagian dari permainan singkatan dan ejaan jenaka pada masa itu.
Dari penggunaan awal tersebut, “OK” kemudian berkembang menjadi ungkapan serbaguna dan akhirnya dikenal luas dalam berbagai bahasa, termasuk sebagai “oke” dalam bahasa Indonesia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Portugal menang 2-1 atas Norwegia di UEFA Nations League. João Félix dan Gonçalo Ramos mencetak gol, Cristiano Ronaldo dicadangkan.
Tren baju murah untuk foto liburan merebak di kalangan turis China. Pakaian lalu dibuang atau dijual kembali dan memicu isu limbah tekstil.
Power window mobil seret bisa disebabkan debu hingga karet aus. Kenali penyebab dan cara mengatasinya dengan silicone spray.
Nguyen Xuan Son cedera hamstring dan absen 4-6 pekan. Striker Vietnam itu harus mundur dari FIFA ASEAN Cup 2026
Cek harga emas Antam, Galeri24 dan UBS di Pegadaian beserta harga buyback dalam berbagai ukuran, dari 0,5 gram hingga 1.000 gram.
Kata oke ternyata punya sejarah sejak 1839. Istilah OK pertama kali tercatat di Boston Morning Post sebagai singkatan jenaka.