Paniki Masuk Daftar Makanan Terburuk Dunia

Jumali
Jumali Senin, 22 Juni 2026 03:37 WIB
Paniki Masuk Daftar Makanan Terburuk Dunia

Paniki/Wikipedia

Harianjogja.com, JOGJA— Situs kuliner global TasteAtlas kembali merilis daftar 100 makanan terburuk di dunia untuk tahun 2026. Dalam daftar tersebut, salah satu hidangan khas Indonesia, paniki dari Sulawesi Utara, masuk dalam peringkat 100 besar dan menempati posisi ke-24 dengan skor 2,2.

Paniki merupakan makanan tradisional masyarakat Minahasa yang berbahan dasar kelelawar buah. Hidangan ini dikenal memiliki cita rasa khas rempah Nusantara, namun kerap dianggap ekstrem oleh sebagian penilai internasional karena bahan utamanya yang tidak lazim di sejumlah negara.

Hidangan tradisional dari Sulawesi Utara

Secara historis, paniki telah lama menjadi bagian dari kuliner adat masyarakat Minahasa di Sulawesi Utara. Hidangan ini biasanya diolah dalam bentuk sup dengan kuah santan yang kaya rempah. Proses memasaknya dimulai dengan memanggang kelelawar untuk menghilangkan bulu, kemudian dibersihkan sebelum dipotong kecil dan direbus bersama bumbu seperti bawang putih, bawang merah, jahe, serai, daun kari, cabai, serta santan.

Dalam penyajiannya, paniki umumnya disantap bersama nasi putih dan memiliki cita rasa gurih, pedas, serta aroma rempah yang kuat. Tekstur daging kelelawar yang digunakan cenderung alot, terutama pada bagian tertentu seperti sayap.

Kuliner ekstrem dan pergeseran konsumsi

Paniki juga dikenal sebagai bagian dari kuliner ekstrem di kawasan Minahasa, yang dalam beberapa kasus turut melibatkan bahan lain seperti tikus hutan dan ular di sejumlah pasar tradisional tertentu. Salah satu lokasi yang kerap disebut dalam konteks kuliner ekstrem tersebut adalah Pasar Extreme Tomohon di Kota Tomohon, Sulawesi Utara.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, keberadaan paniki semakin jarang ditemui. Faktor utama yang memengaruhi adalah menurunnya populasi kelelawar akibat berkurangnya habitat alami serta aktivitas perburuan. Saat ini, paniki lebih sering disajikan pada momen khusus seperti perayaan adat, Natal, Tahun Baru, atau acara syukuran.

Sebagai alternatif, sebagian masyarakat mulai menggunakan bumbu paniki untuk mengolah bahan lain seperti ayam, sehingga cita rasa khasnya tetap dapat dinikmati tanpa harus menggunakan bahan utama kelelawar.

Sorotan internasional dan perspektif budaya

Masuknya paniki dalam daftar makanan terburuk versi TasteAtlas kembali memunculkan perdebatan mengenai penilaian kuliner berbasis budaya. Di satu sisi, daftar tersebut mencerminkan persepsi global terhadap makanan tertentu. Namun di sisi lain, hidangan seperti paniki merupakan bagian dari identitas budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun di daerah asalnya.

Keberadaan paniki menunjukkan bahwa keragaman kuliner Indonesia tidak hanya kaya rasa, tetapi juga sarat nilai budaya, meskipun tidak selalu diterima secara universal oleh standar kuliner global.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online