Jangan Ikut Terbawa, Ini Cara Menjaga Mental dari Orang Pesimistis
Kebiasaan menghadapi orang pesimistis bisa menguras emosi. Simak lima cara menjaga batasan dan suasana hati menurut psikolog.
Ilustrasi/Magnific
Harianjogja.com, JOGJA—Menetapkan target tinggi dan berusaha menyelesaikan pekerjaan sebaik mungkin merupakan kebiasaan yang dapat membantu seseorang berkembang. Namun, bagaimana jika setiap hasil selalu terasa kurang, kesalahan kecil membuat seseorang terus menyalahkan diri sendiri, atau pekerjaan sulit diselesaikan karena takut hasilnya tidak sempurna?
Kondisi tersebut bisa menjadi tanda perfeksionisme yang mulai membebani kehidupan sehari-hari. Seseorang tidak hanya berusaha memberikan hasil terbaik, tetapi juga menetapkan standar yang terkadang sulit dicapai dan menjadikan pencapaian sebagai tolok ukur untuk menilai harga dirinya.
Perfeksionisme merupakan kecenderungan menetapkan standar sangat tinggi, disertai penilaian kritis terhadap diri sendiri. Dalam beberapa keadaan, tuntutan tersebut juga diarahkan kepada orang lain sehingga seseorang mudah kecewa ketika lingkungan tidak berjalan sesuai harapannya.
Mengutip pembahasan mengenai perfeksionisme dari Verywell Mind, ada sejumlah pola perilaku yang dapat membantu seseorang mengenali kecenderungan tersebut. Memahaminya penting agar ambisi untuk berkembang tidak berubah menjadi tekanan yang mengganggu pekerjaan maupun hubungan sosial.
Salah satu tanda yang sering terlihat adalah pola pikir serba hitam-putih. Seseorang cenderung menganggap pekerjaan berhasil hanya jika hasilnya sesuai dengan standar ideal yang sudah ditetapkan.
Akibatnya, pencapaian yang sebenarnya baik bisa terasa tidak berarti hanya karena terdapat kekurangan kecil. Mereka lebih mudah mengingat bagian yang dianggap gagal daripada menghargai usaha dan kemajuan yang sudah dilakukan.
Pola ini juga membuat seseorang terlalu terpaku pada hasil akhir. Padahal, proses mengerjakan sesuatu dapat memberikan pengalaman, keterampilan, dan pelajaran yang berguna untuk pekerjaan berikutnya.
Orang dengan kecenderungan perfeksionis dapat merasa kecewa ketika hasil tidak sesuai harapan. Bahkan setelah menyelesaikan pekerjaan dengan baik, mereka mungkin tetap merasa belum melakukan cukup banyak.
Kondisi tersebut membuat kepuasan atas pencapaian menjadi sulit dirasakan. Target yang sudah tercapai segera digantikan dengan tuntutan baru, sementara kekurangan yang ditemukan terus menjadi bahan kritik terhadap diri sendiri.
Jika berlangsung terus-menerus, kebiasaan ini dapat membuat seseorang merasa tidak pernah cukup baik. Padahal, tidak semua hasil harus sempurna untuk bisa disebut sebagai kemajuan.
Ketakutan terhadap kegagalan juga menjadi salah satu pola yang perlu diperhatikan. Kesalahan kecil bisa dipandang sebagai bukti ketidakmampuan, bukan sebagai bagian wajar dari proses belajar.
Karena khawatir hasil pekerjaannya tidak memenuhi standar, seseorang mungkin enggan mencoba hal baru atau mengambil tantangan yang belum pernah dihadapi. Mereka cenderung memilih situasi yang dirasa aman daripada menghadapi kemungkinan melakukan kesalahan.
Dampaknya tidak hanya terasa pada pekerjaan. Kesempatan untuk mengembangkan kemampuan, mencoba pengalaman baru, atau mengambil keputusan juga dapat terhambat oleh kekhawatiran berlebihan.
Perfeksionisme juga dapat berkaitan dengan prokrastinasi atau kebiasaan menunda pekerjaan. Hal ini bisa terjadi ketika seseorang terlalu lama memikirkan cara terbaik untuk mengerjakan tugas karena takut hasil akhirnya tidak sesuai harapan.
Alih-alih segera memulai, mereka terus memeriksa rencana, mempertimbangkan berbagai kemungkinan, atau menunggu kondisi yang dianggap ideal. Akibatnya, pekerjaan justru semakin sulit diselesaikan.
Penundaan tersebut bukan selalu disebabkan oleh kemalasan. Dalam sejumlah kasus, rasa takut menghasilkan sesuatu yang tidak sempurna dapat membuat seseorang kesulitan mengambil langkah pertama.
Masukan atau kritik yang sebenarnya bertujuan membantu bisa diterima sebagai serangan pribadi. Orang perfeksionis mungkin merasa perlu membela diri karena menganggap kritik menunjukkan bahwa kemampuan atau hasil kerjanya tidak cukup baik.
Respons defensif ini dapat menghambat proses evaluasi. Padahal, kritik yang disampaikan secara konstruktif bisa menjadi kesempatan untuk memperbaiki kekurangan dan meningkatkan kualitas pekerjaan.
Kecenderungan terlalu kritis juga bisa memengaruhi hubungan dengan orang lain. Ketika standar pribadi diterapkan secara berlebihan kepada lingkungan sekitar, orang lain dapat merasa terus dinilai atau dituntut memenuhi ekspektasi yang sulit dicapai.
Kebiasaan berfokus pada kekurangan dapat memengaruhi cara seseorang memandang dirinya. Pencapaian yang sudah diraih seolah tidak cukup untuk membangun rasa percaya diri karena perhatian terus tertuju pada hal-hal yang belum berhasil.
Perfeksionisme yang tidak dikelola juga berkaitan dengan tekanan psikologis, kecemasan, dan rendahnya kesejahteraan. Canadian Psychological Association menjelaskan bahwa perfeksionisme bukan gangguan mental, tetapi pola kepribadian yang dapat meningkatkan kerentanan terhadap sejumlah kesulitan psikologis dan hubungan sosial.
Memiliki standar tinggi bukan berarti seseorang harus menghilangkan ambisi atau berhenti berusaha. Hal yang perlu diperbaiki adalah tuntutan yang tidak realistis dan kebiasaan mengukur nilai diri hanya berdasarkan keberhasilan.
Salah satu langkah yang bisa dilakukan adalah melatih dialog positif dengan diri sendiri. Ketika melakukan kesalahan, cobalah menilai situasi secara lebih seimbang dan mencari hal yang bisa diperbaiki tanpa langsung menyimpulkan bahwa diri sendiri gagal.
Mengurangi kebiasaan membandingkan pencapaian dengan orang lain juga dapat membantu. Setiap orang memiliki kemampuan, kondisi, dan proses perkembangan yang berbeda sehingga hasil orang lain tidak selalu tepat dijadikan ukuran keberhasilan pribadi.
Selain itu, seseorang dapat membiasakan diri menikmati proses, menetapkan target yang realistis, dan memberikan apresiasi atas kemajuan kecil. Latihan mindfulness juga dapat membantu mengarahkan perhatian pada keadaan saat ini, bukan terus-menerus memikirkan kemungkinan buruk yang belum tentu terjadi.
Jika kecenderungan perfeksionisme sudah mengganggu pekerjaan, hubungan, atau keseharian, bantuan profesional dapat dipertimbangkan. Terapi perilaku kognitif atau cognitive behavioral therapy (CBT), misalnya, dapat membantu mengenali pola pikir yang tidak realistis dan membangun cara pandang yang lebih sehat.
Pada akhirnya, berusaha memberikan hasil terbaik tetap merupakan hal positif. Namun, seseorang juga perlu memberi ruang bagi kesalahan dan keterbatasan. Hasil yang belum sempurna bukan berarti seluruh usaha sia-sia, sebab proses belajar dan perkembangan juga merupakan bagian penting dari keberhasilan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kebiasaan menghadapi orang pesimistis bisa menguras emosi. Simak lima cara menjaga batasan dan suasana hati menurut psikolog.
BPS DIY mencatat pekerja informal mencapai 55,14% pada Agustus 2026, naik 1,17 poin persentase dibandingkan tahun sebelumnya.
Kozo Tashima resmi maju sebagai calon Presiden FIFA 2027. Didukung JFA, ia mengusung integritas dan harus memenuhi syarat nominasi.
Taj Yasin menyampaikan apresiasi kepada Stikom Semarang yang turut memberikan kesempatan kepada mahasiswa asal Jawa Tengah untuk menempuh pendidikan tinggi.
Jalur Gedang Klutuk menuju Pantai Wediombo rawan kecelakaan. Warga Jepitu berharap pemerintah melakukan pelebaran jalan.
Xiaomi merekrut tenaga otomotif di Australia dan menyiapkan ekspansi mobil setir kanan pada 2028. Indonesia berpeluang menjadi salah satu pasar.