Jangan Ikut Terbawa, Ini Cara Menjaga Mental dari Orang Pesimistis

Jumali
Jumali Jum'at, 06 November 2026 11:57 WIB
Jangan Ikut Terbawa, Ini Cara Menjaga Mental dari Orang Pesimistis

Foto ilustrasi kesehatan mental. - Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Berada di dekat orang yang terus-menerus mengeluh atau melihat segala sesuatu dari sisi buruk bisa membuat suasana hati ikut menurun. Jika berlangsung terus-menerus, interaksi semacam ini berpotensi menguras energi emosional, terutama ketika seseorang merasa harus selalu menghibur atau menjaga perasaan orang lain.

Situasi tersebut bisa terjadi dalam hubungan pertemanan, keluarga, maupun lingkungan kerja. Seseorang mungkin awalnya hanya ingin mendengarkan keluhan, tetapi lama-kelamaan merasa terbebani karena percakapan selalu berujung pada persoalan dan kemungkinan buruk.

Psikolog klinis Patricia Dixon, PsyD, menjelaskan bahwa terlalu sering berada di sekitar orang yang tidak bahagia dapat memengaruhi suasana hati. Ia mengibaratkan perubahan tersebut seperti cuaca cerah yang mendadak mendung.

"Jika Anda terus-menerus berada di sekitar seseorang yang selalu tidak bahagia, Anda bisa mulai merasa tidak bahagia juga," ujar Dixon, seperti dikutip dari Real Simple.

Dalam artikel tersebut, orang dengan kecenderungan terus melihat sisi negatif kehidupan digambarkan sebagai karakter Eeyore, tokoh keledai dalam cerita Winnie-the-Pooh yang dikenal murung dan pesimistis. Istilah ini merupakan gambaran populer, bukan kategori atau diagnosis psikologis.

Psikolog klinis sekaligus neuropsikolog forensik Judy Ho, PhD, menambahkan bahwa orang yang berhadapan dengan individu pesimistis terkadang merasa bertanggung jawab menjaga suasana hati kedua belah pihak. Mereka berusaha memberikan dukungan dan menunjukkan sisi positif, tetapi upaya itu justru melelahkan ketika selalu dibalas dengan alasan bahwa keadaan tidak akan membaik.

Kebiasaan tersebut juga berpotensi memengaruhi rasa percaya diri. Karen Vincent, LCSW, psikolog klinis sekaligus direktur klinis Octave, menjelaskan bahwa orang yang terus berfokus pada hal negatif cenderung kurang memperhatikan kelebihan, pencapaian, dan hal-hal baik dari orang di sekitarnya.

Karena itu, menjaga hubungan dengan orang pesimistis bukan berarti harus memutus komunikasi atau memaksa mereka berubah. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan emosional tanpa mengabaikan perasaan orang lain.

5 Cara Menghadapi Orang yang Selalu Berpikiran Negatif

1. Sampaikan perilakunya dengan baik-baik

Orang yang terbiasa mengeluh belum tentu menyadari bahwa kebiasaannya berdampak pada orang lain. Karena itu, menyampaikan persoalan secara langsung dengan bahasa yang tidak menyudutkan dapat menjadi langkah awal.

Psikolog klinis Karen Vincent menyarankan agar kecenderungan pesimistis tersebut disampaikan secara baik-baik. Dengan mengetahui bagaimana perilakunya memengaruhi orang sekitar, seseorang memiliki kesempatan untuk menyadari pola tersebut dan mempertimbangkan perubahan.

Hindari langsung memberi cap buruk kepada lawan bicara. Fokuskan pembicaraan pada perilaku yang dirasakan, bukan menyerang kepribadiannya.

2. Tetapkan batas waktu dan topik pembicaraan

Mendengarkan keluhan orang lain merupakan bentuk kepedulian. Namun, seseorang juga perlu mengetahui batas kemampuan emosionalnya sendiri.

Patricia Dixon menyarankan agar seseorang membuat batasan mengenai topik yang ingin dibicarakan dan durasi interaksi. Jika percakapan terus berputar pada persoalan negatif, tidak ada salahnya mengalihkan pembicaraan atau mengakhiri obrolan dengan sopan.

Batasan tersebut bukan berarti tidak peduli. Justru, langkah ini membantu seseorang tetap bisa memberikan dukungan tanpa harus mengorbankan kondisi emosionalnya sendiri.

3. Ajak melihat persoalan dari sudut pandang lain

Meminta orang pesimistis agar langsung berpikir positif tidak selalu efektif. Kalimat seperti "lihat sisi baiknya" justru bisa membuat mereka merasa tidak didengarkan.

Judy Ho menyarankan penggunaan pertanyaan terbuka untuk membantu seseorang mempertimbangkan kemungkinan lain. Salah satu contohnya adalah, "Apa kemungkinan penjelasan lainnya?"

Pertanyaan semacam ini dapat membuka ruang bagi lawan bicara untuk memikirkan situasi secara lebih seimbang. Tujuannya bukan menyangkal masalah yang sedang dihadapi, melainkan membantu mereka tidak hanya terpaku pada kemungkinan terburuk.

4. Ajak menyebutkan satu hal positif

Cara lain yang dapat dicoba adalah mengajak lawan bicara menemukan satu hal positif setiap kali menyampaikan keluhan.

Karen Vincent menyebut pendekatan ini sebagai salah satu cara untuk membangun perspektif yang lebih seimbang. Ketika seseorang mulai terbiasa membicarakan hal-hal baik, ia berpeluang lebih mudah mengenali sisi positif dalam kesehariannya.

Misalnya, ketika seseorang mengeluhkan pekerjaan yang melelahkan, ajak ia menyebutkan satu hal yang berjalan baik pada hari itu. Langkah sederhana tersebut tidak harus menghapus persoalan, tetapi dapat membantu percakapan tidak hanya dipenuhi keluhan.

5. Luangkan waktu bersama lingkungan yang suportif

Interaksi dengan orang yang terus-menerus pesimistis perlu diimbangi dengan hubungan sosial yang memberikan dukungan. Seseorang dapat meluangkan waktu bersama teman, keluarga, atau rekan yang membuatnya merasa dihargai dan nyaman.

Karen Vincent menjelaskan bahwa menghabiskan waktu bersama orang-orang yang memiliki suasana hati positif dapat membantu mengimbangi pengalaman melelahkan ketika berhadapan dengan individu yang sering mengeluh.

Lingkungan suportif juga memberi kesempatan untuk berbagi cerita secara lebih seimbang. Dengan begitu, seseorang tidak terus-menerus berada dalam percakapan yang hanya berpusat pada masalah.

Tidak Semua Orang Bisa Dipaksa Berubah

Meski berbagai pendekatan tersebut dapat dicoba, seseorang tetap perlu memahami bahwa perubahan sikap tidak bisa dipaksakan. Keinginan untuk menjadi lebih optimistis harus muncul dari kesadaran individu yang bersangkutan.

Judy Ho mengingatkan bahwa seseorang dapat mendorong orang lain untuk melihat persoalan secara lebih fleksibel, tetapi tidak bisa memaksa mereka menjadi optimistis. Karen Vincent juga menilai upaya terus-menerus meyakinkan orang yang tidak ingin berubah justru dapat membuat kedua belah pihak frustrasi.

Karena itu, penting untuk membedakan antara memberikan dukungan dan mengambil tanggung jawab atas emosi orang lain. Seseorang tetap bisa menunjukkan empati tanpa harus memikul seluruh beban perasaan lawan bicara.

Jika kebiasaan pesimistis tersebut tidak membuat orang yang bersangkutan mengalami masalah dalam kehidupannya, perbedaan cara pandang juga perlu diterima. Hal terpenting adalah menjaga batasan agar suasana hati dan kesejahteraan emosional diri sendiri tidak terus-menerus terdampak.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online