Freiburg Kalahkan Trabzonspor 1-0, Gol Kubler Jadi Penentu
SC Freiburg menang 1-0 atas Trabzonspor di Conference League. Gol Lukas Kübler pada menit ke-14 menjadi penentu kemenangan tim tamu.
Bryan Adams / Reuters
Harianjogja.com, JOGJA—Musikus Kanada Bryan Adams menyuarakan penolakan terhadap campur tangan Amerika Serikat (AS) melalui album terbarunya, How’s It Goin’. Karya tersebut tidak hanya menyindir Presiden Donald Trump lewat lagu 51st State, tetapi juga mengangkat sejarah, budaya, keindahan alam, serta identitas masyarakat Kanada.
Album yang dirilis pada 6 November 2026 itu menjadi medium Adams untuk menanggapi ketegangan hubungan Kanada dan AS. Sejumlah lagu di dalamnya menyinggung kebijakan pemerintahan Trump, termasuk persoalan berkas Jeffrey Epstein dan polemik mengenai identitas wilayah Kanada.
Namun, Adams tidak ingin albumnya dipandang semata-mata sebagai luapan kemarahan terhadap pemerintah AS. Dalam wawancara dengan Los Angeles Times yang dikutip Kamis (5/11), ia mengatakan proses kreatif album tersebut justru membawanya mengenal lebih jauh sejarah negaranya sendiri.
Salah satu peristiwa yang dipelajarinya adalah Pertempuran Lundy’s Lane pada 1814. Pertempuran antara pasukan Amerika Serikat dan Inggris yang mempertahankan wilayah yang kelak menjadi Kanada itu merupakan bagian dari Perang 1812 dan ikut membentuk batas permanen kedua negara.
Adams mengaku menemukan banyak informasi yang sebelumnya tidak diketahuinya, meskipun ia lahir dan besar di Kanada. Ia juga mendapati sejumlah pendengar baru mengenal peristiwa tersebut setelah mendengarkan lagu-lagu dalam albumnya.
“Saya belajar banyak karena mulai mencari tahu hal-hal tentang Kanada yang sebelumnya tidak saya ketahui, meskipun saya berasal dari Kanada. Banyak orang mengatakan kepada saya, ‘Wah, saya bahkan tidak tahu tentang Pertempuran Lundy’s Lane atau kisah bagaimana Newfoundland bergabung,’” kata Adams.
Salah satu lagu yang mendapat perhatian adalah 51st State. Karya tersebut menyindir gagasan menjadikan Kanada sebagai negara bagian ke-51 AS, sekaligus menjadi respons Adams terhadap kebijakan dan pernyataan Trump mengenai negara tetangganya itu.
Adams mengatakan lagu tersebut mendapat sambutan positif ketika dibawakan dalam tur musim panas di Amerika. Penampilan perdananya berlangsung di St. Louis, Missouri. Ia mengaku terkejut karena penonton di sejumlah wilayah konservatif, termasuk Texas, memberikan tepuk tangan berdiri.
“‘51st State’ mendapat respons sangat baik. Kami memperkenalkan lagu itu di St. Louis dalam tur Amerika musim panas ini. Setiap malam penonton memberikan tepuk tangan berdiri. Itu mengejutkan kami karena kami tampil di banyak negara bagian yang konservatif,” ujarnya.
Menurut Adams, sambutan tersebut muncul meskipun lagu itu tidak memperoleh banyak perhatian dari radio maupun media. Ia menilai respons penonton justru datang setelah mereka mendengar langsung pesan yang disampaikan melalui liriknya.
Adams juga menegaskan bahwa dirinya tidak sedang menulis lagu karena diliputi kemarahan. Ia hanya menuangkan hal-hal yang diamati dan dirasakannya, yang kemudian berkembang menjadi materi album.
“Saya ingin orang tahu bahwa saya tidak marah. Saya hanya menulis tentang apa yang saya lihat, dan semuanya muncul dengan sangat cepat,” katanya.
Selain menyampaikan kritik politik, How’s It Goin’ menjadi penghormatan Adams terhadap tokoh dan perjalanan sejarah Kanada. Salah satu musikus yang menginspirasinya adalah Gordon Lightfoot, penyanyi folk Kanada yang meninggal pada 2023. Adams mengaku berharap Lightfoot masih hidup agar dapat diajak berkolaborasi dalam album tersebut.
Adams juga terpengaruh tradisi musik folk dan rock yang memiliki tempat dalam kebudayaan Kanada. Ia mengenang foto musikus Amerika Woody Guthrie yang memegang gitar dengan tulisan “Mesin ini membunuh kaum fasis” sebagai salah satu inspirasi ketika menyusun lagu-lagu bertema negaranya.
Dalam lagu utama album, Adams menyebut sejumlah tempat yang merepresentasikan bentang alam Kanada, seperti Capilano Bridge, Lake Louise, Bruce Peninsula, dan Davie Street. Ia juga mengangkat kisah Terry Fox, atlet yang kehilangan salah satu kakinya akibat kanker, tetapi tetap berlari melintasi sebagian wilayah Kanada untuk menggalang dana penelitian kanker.
Bagi Adams, perjuangan Fox merupakan kisah tentang pengorbanan dan kemampuan menghadapi kesulitan. Ia bahkan menilai Fox sebagai salah satu atlet terbesar di dunia karena perjuangannya mampu menyatukan masyarakat Kanada ketika isu separatisme Quebec tengah mengemuka.
“Ini adalah kisah yang bisa diambil pelajarannya oleh semua orang karena berbicara tentang pengorbanan dan mengatasi kesulitan,” kata Adams.
Adams turut menyinggung gerakan separatis di Alberta. Ia berpandangan pemerintah perlu mendengarkan aspirasi masyarakat, tetapi menilai tidak ada keinginan luas untuk memisahkan diri dari Kanada.
Persoalan identitas dan sejarah masyarakat adat mendapat tempat tersendiri dalam lagu Lake Ontario. Melalui lagu tersebut, Adams mengingatkan pentingnya menghormati akar sejarah masyarakat adat yang berkaitan dengan penamaan dan identitas danau tersebut.
Adams tumbuh di British Columbia, wilayah yang memiliki komunitas masyarakat adat Haida dan kelompok lainnya. Latar belakang itu membuatnya memandang penghormatan terhadap sejarah masyarakat adat sebagai bagian penting dari identitas Kanada.
“Ini soal rasa hormat. Hormatilah masa lalu, jangan tiba-tiba memutuskan bahwa sesuatu lebih baik bagi Amerika atau pihak lain, lalu mengubahnya begitu saja,” ujarnya.
Ia juga mempersoalkan keputusan sepihak yang menurutnya tidak didahului pembicaraan dengan pemerintah Kanada maupun proses pembahasan di Kongres AS.
Di tengah ketegangan hubungan kedua negara, Adams mengaku pernah menerima permintaan maaf dari sejumlah penggemar Amerika atas kebijakan pemerintah mereka. Ia juga melihat sebagian penggemar menunjukkan ketidaksetujuan melalui ekspresi maupun percakapan ketika isu tersebut dibahas.
Adams berharap masyarakat Amerika membandingkan janji politik yang pernah disampaikan dengan kebijakan yang dijalankan saat ini. Menurutnya, hal itu dapat menjadi salah satu petunjuk untuk melihat arah politik AS dalam dua tahun mendatang.
Meski mengkritik Trump dan menyinggung berkas Epstein melalui karyanya, Adams mengaku tidak terlalu memikirkan kemungkinan pemerintah AS melakukan pembalasan. Namun, ia melontarkan gurauan bahwa persoalan tersebut mungkin terlintas kembali ketika dirinya menjalani pemeriksaan imigrasi.
“Saya tidak terlalu memikirkannya. Namun, lain kali saat melewati pemeriksaan imigrasi, mungkin saya akan memikirkannya,” tandasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
SC Freiburg menang 1-0 atas Trabzonspor di Conference League. Gol Lukas Kübler pada menit ke-14 menjadi penentu kemenangan tim tamu.
Hyundai menyiapkan Ioniq P, SUV listrik kompak dengan teknologi ADAS Level 2 dan dua pilihan jarak tempuh untuk pasar India.
Timnas Indonesia membatalkan laga melawan Yordania karena pertimbangan keamanan. Australia tetap dijadwalkan bertanding di Amman pada 17 November.
Google menonaktifkan Gemini dan Search secara default untuk akun pelajar K-12. Sekolah harus mengaktifkannya melalui administrator.
Oki Rengga meminta maaf setelah videonya berdebat dengan suporter PSMS soal spanduk kritik karhutla di Stadion Utama Sumatera Utara viral.
Asita DIY meminta koordinasi pengamanan Titik Nol diperkuat agar kenyamanan wisatawan dan citra wisata Jogja tetap terjaga.