Prof Uceng Singgung Sumpah Pemuda dan Serukan Revolusi di Jogja
Prof Uceng mengajak massa aksi mengacungkan tiga jari dan meneriakkan revolusi di Titik Nol Jogja saat demonstrasi, Rabu (28/10/2026).
Kelompok musik Kiai Kanjeng tampil dalam pertunjukan World Music Kiai Kanjeng di Purawisata Amphitheater Jogja, Selasa (3/11/2026) malam. Dalam pertunjukan tersebut, Kiai Kanjeng menyuguhkan beragam genre musik, mulai dari campursari, religi, hingga lagu-lagu populer Barat. - Harian Jogja/ Ariq Fajar Hidayat
Harianjogja.com, JOGJA— Lagu Fix You milik Coldplay mendapat sentuhan berbeda dalam pertunjukan World Music Kiai Kanjeng di Purawisata Amphitheater Jogja, Selasa (3/11/2026) malam. Lagu populer grup musik asal Inggris tersebut diaransemen dengan memadukan instrumen gamelan Jawa dan musik modern.
Aransemen itu menghadirkan warna musikal yang berbeda dari versi aslinya yang identik dengan nuansa pop-rock. Kiai Kanjeng mengolah lagu tersebut melalui karakter bunyi gamelan tradisional sehingga menjadi salah satu penampilan menarik dalam pertunjukan malam itu.
Perpaduan tersebut sekaligus memperlihatkan kemampuan musik tradisional untuk berdialog dengan berbagai genre musik dunia tanpa harus meninggalkan identitas budayanya.
Mantan Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saifuddin, yang hadir menyaksikan pertunjukan tersebut mengaku bersyukur dapat kembali menikmati penampilan Kiai Kanjeng. Ia menilai kelompok musik yang tidak bisa dilepaskan dari sosok Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun itu memiliki kemampuan menggabungkan kekayaan budaya lokal dengan unsur musik dari berbagai bangsa.
"Ini sebuah orkestrasi para musisi yang tidak hanya piawai memainkan sejumlah alat musik, tetapi juga mampu menggali kekayaan budaya kita dan memadukan kebudayaan dari beragam bangsa di dunia," ujar Lukman usai menyaksikan penampilan Kiai Kanjeng.
Lukman Hakim Soroti Peran Cak Nun
Menurut Lukman, perjalanan Kiai Kanjeng selama puluhan tahun tidak terlepas dari konsistensi Cak Nun dalam mengembangkan musik. Kesenian tersebut tidak hanya menjadi ruang untuk merawat kebudayaan, tetapi juga menyampaikan nilai-nilai kemanusiaan.
Ia memandang musik yang dibawakan Kiai Kanjeng memiliki makna lebih luas daripada sekadar hiburan. Karya-karya kelompok tersebut dapat menjadi pengingat agar manusia tetap memiliki pegangan dalam menjalani kehidupan di tengah berbagai perubahan.
"Saya merasa bersyukur dan berterima kasih kepada Kiai Kanjeng yang terus bisa menjaga, merawat musik agar kemanusiaan kita tidak tercabut dari kondisi yang sekarang ini semakin membuat kita kehilangan pegangan," kata dia.
Lukman berharap pertunjukan Kiai Kanjeng tidak hanya berlangsung di Jogja, tetapi juga dapat digelar secara rutin di Jakarta dan kota-kota besar lainnya. Terlebih, sejumlah daerah memiliki komunitas Maiyah yang dapat menjadi ruang pertemuan bagi para penikmat karya kelompok musik tersebut.
Dengan penyelenggaraan yang lebih luas, masyarakat dan jemaah Maiyah di berbagai daerah diharapkan bisa kembali menikmati pertunjukan Kiai Kanjeng.
Kiai Kanjeng Tawarkan Wajah Lain Musik Tradisional
Sementara itu, Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata DIY, Ellya Shari, melihat pertunjukan tersebut sebagai gambaran lain dari Kiai Kanjeng. Kelompok musik ini selama ini kerap identik dengan penampilan bernuansa religi, tetapi dalam pertunjukan World Music kali ini menghadirkan pilihan lagu yang lebih beragam.
Mulai dari tembang Jawa hingga lagu-lagu populer Barat, semuanya dikemas dengan perpaduan instrumen gamelan dan alat musik modern. Menurut Ellya, pendekatan tersebut membuat pertunjukan terasa lebih segar sekaligus menunjukkan bahwa kebudayaan tradisional dapat disajikan dengan cara yang menyenangkan.
"Budaya itu tidak selalu membosankan. Bisa menjadi lebih fun, lebih funky. Kita juga wajib memperkenalkan kepada generasi penerus bahwa budaya tidak selalu membosankan, tetapi bisa dilihat dari sisi yang menyenangkan seperti pertunjukan malam ini," ujar Ellya.
Ia menilai konsep pertunjukan seperti itu dapat menjadi salah satu pendekatan untuk memperkenalkan kebudayaan tradisional kepada generasi muda. Apalagi, Kiai Kanjeng mampu menghadirkan suasana pertunjukan yang energik meskipun sebagian pemain dan penonton menikmati musik dalam suasana relatif santai.
Ellya berharap konsep serupa dapat kembali dihadirkan. Baginya, pertunjukan Kiai Kanjeng tidak hanya menawarkan pengalaman berbeda dalam menikmati musik tradisional, tetapi juga membuka kesempatan bagi generasi muda untuk mengenal lebih dekat kekayaan budaya Jawa.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Prof Uceng mengajak massa aksi mengacungkan tiga jari dan meneriakkan revolusi di Titik Nol Jogja saat demonstrasi, Rabu (28/10/2026).
Simak jadwal lengkap KRL Jogja-Solo Kamis 5 November 2026 dari Stasiun Yogyakarta hingga Palur. Tarif sekali jalan Rp8.000.
TNI AL membenarkan pengerahan personel ke Jakarta. Total 20.980 prajurit direncanakan memperkuat pengamanan dan mengantisipasi situasi.
Pakar UII Yudi Prayudi menjelaskan fungsi LIMS dan pentingnya pengawasan hukum serta audit forensik dalam penyadapan.
Menko Polkam Dudung Abdurachman menilai penetapan mantan petinggi Polri sebagai tersangka kasus penyadapan menjadi momentum pembenahan institusi.
Helikopter MI-17V5 jatuh saat menjalankan misi pemadaman karhutla di Tanjung Puting. Dua kru meninggal dunia dan satu masih dicari.