Baby Boomer Suka Tatap Muka, Gen Z Pilih Rapat Virtual

Jumali
Jumali Rabu, 04 November 2026 11:07 WIB
Baby Boomer Suka Tatap Muka, Gen Z Pilih Rapat Virtual

Ilustrasi. /Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Perbedaan generasi di tempat kerja tidak hanya terlihat dari cara berkomunikasi dan menyelesaikan tugas, tetapi juga dari kebiasaan saat mengikuti rapat. Baby Boomer, Gen X, Milenial, hingga Gen Z memiliki preferensi masing-masing dalam menjalani pertemuan bersama rekan kerja.

Sebagian karyawan lebih nyaman bertemu langsung untuk membahas persoalan pekerjaan. Namun, ada pula yang menganggap rapat terlalu sering justru mengurangi waktu produktif karena sejumlah hal sebenarnya bisa disampaikan melalui pesan singkat atau komunikasi digital.

Perbedaan tersebut berkaitan dengan cara setiap generasi memandang komunikasi, efektivitas kerja, dan penggunaan waktu. Memahami kebiasaan ini dapat membantu perusahaan maupun karyawan membangun pola rapat yang lebih efektif dan mengakomodasi kebutuhan tim.

Mengutip YourTango, Rabu (4/11/2026), berikut gambaran kebiasaan Baby Boomer, Gen X, Milenial, dan Gen Z ketika mengikuti rapat di kantor.

1. Baby Boomer Lebih Suka Rapat Tatap Muka

Karyawan generasi Baby Boomer cenderung menyukai komunikasi secara langsung. Mereka merasa pertemuan tatap muka lebih nyaman, terutama ketika harus membahas persoalan penting atau sensitif yang berkaitan dengan pekerjaan.

Preferensi tersebut juga terlihat dari cara mereka mempersiapkan diri sebelum rapat. Generasi ini dikenal memiliki etos kerja kuat dan memandang pekerjaan sebagai tanggung jawab yang perlu dijalankan secara serius.

Karena itu, mereka biasanya berusaha datang dengan persiapan matang. Beberapa di antaranya melakukan riset terlebih dahulu dan mengingat kembali komunikasi sebelumnya dengan atasan melalui surat elektronik.

Bagi Baby Boomer, persiapan sebelum rapat merupakan bagian dari tanggung jawab profesional. Mereka juga cenderung tidak mempermasalahkan pertemuan yang berlangsung cukup lama selama dianggap penting untuk pekerjaan.

2. Gen X Mengutamakan Rapat Singkat dan Efektif

Berbeda dengan Baby Boomer, generasi X atau Gen X lebih menyukai rapat yang singkat dan langsung membahas persoalan utama.

Generasi yang lahir pada rentang 1965–1980 ini memiliki orientasi kuat terhadap hasil pekerjaan. Mereka ingin mengetahui informasi yang dibutuhkan tanpa harus menghabiskan banyak waktu dalam pertemuan.

Gen X juga cenderung mengutamakan penyelesaian tugas dibandingkan terlibat dalam dinamika politik kantor. Jika suatu pekerjaan dapat diselesaikan secara mandiri, mereka tidak selalu merasa perlu melibatkan banyak orang.

Bagi generasi ini, rapat merupakan sarana yang dibutuhkan dalam situasi tertentu, bukan aktivitas yang harus selalu dilakukan. Mereka mengharapkan pembahasan singkat, jelas, dan disertai informasi yang relevan.

Setelah agenda selesai, Gen X biasanya lebih memilih kembali bekerja daripada melanjutkan obrolan panjang dengan rekan kerja.

Kemandirian juga menjadi salah satu karakter yang dikaitkan dengan generasi ini. Mereka cenderung nyaman menyelesaikan tanggung jawab tanpa pengawasan terus-menerus dari atasan.

3. Milenial Cenderung Multitasking saat Rapat

Generasi Milenial, yang lahir pada rentang 1981–1996, memiliki pendekatan berbeda terhadap pertemuan di tempat kerja.

Mereka menyukai komunikasi terbuka dengan atasan, tetapi tidak selalu menganggap rapat formal sebagai satu-satunya cara untuk bertukar informasi. Perkembangan teknologi membuat generasi ini terbiasa menggunakan berbagai saluran komunikasi digital.

Di sisi lain, Milenial memiliki sejumlah tantangan dalam menjalani pekerjaan. Mereka berusaha menjaga keteraturan tugas, tetapi juga menghadapi risiko kelelahan kerja atau burnout.

Generasi ini terkadang merasa pekerjaan dapat diselesaikan lebih efektif secara mandiri dibandingkan melalui rapat bersama tim. Banyaknya tanggung jawab yang harus dituntaskan membuat sebagian karyawan Milenial memandang pertemuan yang tidak efektif sebagai kegiatan yang menyita waktu.

Ketika harus menghadiri rapat, mereka juga cenderung melakukan beberapa pekerjaan sekaligus atau multitasking. Kebiasaan tersebut muncul karena keinginan untuk tetap menyelesaikan tugas lain di tengah agenda pertemuan.

Milenial juga digambarkan cukup memahami kekhawatiran atau persoalan yang disampaikan rekan kerja. Namun, sikap memahami tersebut tidak selalu diikuti tindakan langsung untuk menyelesaikan masalah.

4. Gen Z Menyukai Komunikasi Cepat dan Langsung

Gen Z, yang lahir pada rentang 1997–2012, cenderung lebih kritis terhadap frekuensi dan pelaksanaan rapat di tempat kerja.

Bagi generasi ini, terlalu banyak pertemuan dapat mengganggu produktivitas. Mereka menilai komunikasi tidak harus selalu dilakukan melalui rapat formal, terutama jika persoalan yang dibahas dapat diselesaikan lewat pesan singkat.

Tumbuh di tengah perkembangan teknologi membuat Gen Z terbiasa menggunakan komunikasi digital. Mereka cenderung menyukai pesan yang ringkas dan informal dibandingkan pertemuan panjang untuk membicarakan hal-hal sederhana.

Jika harus mengikuti rapat, Gen Z lebih menyukai suasana yang santai dan fleksibel. Mereka juga cenderung memilih pertemuan virtual karena memberikan keleluasaan dalam mengatur waktu dan tempat bekerja.

Dalam menyampaikan pendapat, generasi ini dikenal lebih terbuka dan langsung menuju inti persoalan. Penggunaan istilah korporasi atau bahasa formal yang berbelit-belit bukan sesuatu yang mereka sukai.

Keinginan untuk menyelesaikan pembahasan secara efisien juga membuat Gen Z cenderung menghindari basa-basi. Mereka lebih memilih menyampaikan pendapat secara langsung agar rapat tidak berlangsung lebih lama dari yang diperlukan.

Gen Z juga memiliki pandangan bahwa menikmati pekerjaan sama pentingnya dengan memperoleh penghasilan. Karena itu, rapat yang terlalu sering atau tidak memiliki tujuan jelas dapat dipandang sebagai kegiatan yang mengurangi kenyamanan dan produktivitas kerja.

Memahami Perbedaan Generasi untuk Membuat Rapat Lebih Efektif

Perbedaan kebiasaan tersebut menunjukkan bahwa satu pola rapat belum tentu cocok untuk seluruh anggota tim. Karyawan senior mungkin lebih nyaman membahas persoalan penting secara langsung, sedangkan sebagian karyawan muda mengutamakan komunikasi digital yang cepat.

Perusahaan dapat mempertimbangkan tujuan dan kebutuhan peserta sebelum menentukan format pertemuan. Persoalan yang membutuhkan diskusi mendalam bisa dibahas melalui rapat, sementara informasi sederhana dapat disampaikan lewat pesan atau surat elektronik.

Dengan agenda yang jelas, durasi terukur, dan saluran komunikasi yang tepat, rapat diharapkan tidak sekadar menjadi rutinitas, tetapi benar-benar membantu pekerjaan tim.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online