3 Kebiasaan Warga Finlandia yang Bisa Membuat Hidup Bahagia

Jumali
Jumali Sabtu, 17 Oktober 2026 18:37 WIB
3 Kebiasaan Warga Finlandia yang Bisa Membuat Hidup Bahagia

Bahagia - Ilustrasi Freepik

Harianjogja.com, JOGJA— Kebahagiaan tidak selalu harus diukur dari kekayaan, pencapaian, atau pengakuan orang lain. Cara seseorang memandang kehidupan, menjaga hubungan dengan lingkungan, dan memperlakukan orang lain juga menjadi hal yang patut diperhatikan. Prinsip-prinsip tersebut tercermin dalam kebiasaan masyarakat Finlandia, negara yang konsisten menempati peringkat teratas dalam World Happiness Report.

Salah satu ungkapan yang dikenal dalam masyarakat Finlandia berbunyi “Kell' onni on, se onnen kätkeköön.” Pepatah tersebut dapat dimaknai sebagai ajakan untuk tidak membandingkan kebahagiaan dengan orang lain ataupun memamerkannya.

Filsuf sekaligus peneliti psikologi asal Finlandia, Frank Martela, menjelaskan tiga kebiasaan yang menurutnya berkaitan dengan cara masyarakat Finlandia menjaga kesejahteraan hidup. Ketiganya mencakup kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain, mengabaikan alam, serta merusak kepercayaan dan mengambil hak orang lain.

1. Tidak Menjadikan Kehidupan Orang Lain sebagai Tolok Ukur

Kebiasaan membandingkan pencapaian dengan orang lain dapat membuat seseorang terus mengejar standar yang belum tentu sesuai dengan kebutuhannya sendiri. Menurut Martela, masyarakat Finlandia cenderung tidak menyukai pamer kekayaan dan lebih memilih menjalani kehidupan secara sederhana.

Pandangan tersebut sejalan dengan pepatah “Kell' onni on, se onnen kätkeköön” yang menekankan pentingnya menjaga kebahagiaan tanpa harus menjadikannya sebagai bahan perbandingan atau pamer kepada orang lain.

Dalam penjelasannya, Martela menyoroti pentingnya menentukan ukuran keberhasilan berdasarkan hal-hal yang benar-benar membuat seseorang bahagia. Dengan cara itu, perhatian tidak terus-menerus tertuju pada pencapaian orang lain atau penampilan kesuksesan di hadapan masyarakat.

Prinsip ini mengajak seseorang mengenali kebutuhan dan standar hidupnya sendiri. Kebahagiaan tidak harus mengikuti ukuran yang sama dengan orang lain karena setiap individu mempunyai keadaan dan prioritas yang berbeda.

2. Tidak Mengabaikan Alam dalam Kehidupan Sehari-hari

Hubungan dengan alam juga menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Finlandia. Survei yang dilakukan Sitra pada 2021 menunjukkan sebanyak 87% responden menganggap alam sangat penting atau cukup penting dalam kehidupan mereka.

Alam dipandang mampu memberikan ketenangan pikiran, energi, serta kesempatan untuk beristirahat dari rutinitas. Kedekatan dengan lingkungan alami juga berkaitan dengan cara masyarakat Finlandia menghabiskan waktu luang.

Salah satu kebiasaan yang disebut dalam pembahasan mengenai gaya hidup warga Finlandia adalah memanfaatkan libur musim panas untuk pergi ke pedesaan. Pekerja di Finlandia disebut berhak memperoleh cuti musim panas selama empat minggu atau sekitar satu bulan penuh.

Waktu libur tersebut dapat dimanfaatkan untuk menikmati suasana alam dan menjauh sejenak dari kesibukan sehari-hari. Bahkan, liburan dengan fasilitas modern yang terbatas, seperti tempat tanpa aliran listrik atau air bersih, digambarkan sebagai pengalaman yang tetap bernilai bagi sebagian orang.

Menghabiskan waktu di alam terbuka juga dikaitkan dengan kesejahteraan, ketahanan dalam menghadapi kehidupan, dan pengembangan diri. Kebiasaan ini menunjukkan bahwa waktu untuk beristirahat tidak selalu harus diisi dengan aktivitas yang rumit atau fasilitas yang berlimpah.

3. Menjaga Kejujuran dan Menghormati Hak Orang Lain

Kepercayaan antarmanusia menjadi aspek lain yang berkaitan dengan kesejahteraan masyarakat. Penelitian yang dirujuk dari National Bureau of Economic Research membahas hubungan antara kebahagiaan suatu negara dan tingginya kejujuran serta rasa saling percaya di antara warganya.

Salah satu gambaran mengenai kejujuran masyarakat dapat dilihat melalui eksperimen dompet hilang yang dilakukan Reader’s Digest. Pada eksperimen tersebut, sebanyak 192 dompet dijatuhkan di 16 kota di berbagai negara untuk mengamati apakah orang yang menemukannya akan mengembalikan dompet tersebut kepada pemiliknya.

Hasil eksperimen menunjukkan Helsinki, Finlandia, mencatat tingkat pengembalian yang tinggi. Sebanyak 11 dari 12 dompet yang dijatuhkan di kota tersebut berhasil kembali kepada pemiliknya.

Menurut Martela, masyarakat Finlandia sangat menghargai kejujuran dan kepercayaan. Ia menggambarkan warga di negara tersebut sebagai orang-orang yang bersedia mengembalikan barang berharga yang tertinggal di tempat umum dan tidak mengambil barang yang sengaja ditinggalkan sementara oleh pemiliknya.

Kepercayaan seperti itu juga tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak di Finlandia, misalnya, disebut terbiasa menggunakan bus umum ketika pulang sekolah dan bermain di luar rumah tanpa pengawasan ketat dari orang dewasa.

Kebiasaan tersebut menggambarkan lingkungan sosial yang memberi ruang bagi anak-anak untuk menjalani aktivitas sehari-hari dengan tingkat kemandirian tertentu. Kejujuran, rasa saling percaya, serta penghormatan terhadap hak orang lain menjadi bagian dari prinsip hidup yang disoroti dalam pembahasan mengenai kebahagiaan masyarakat Finlandia.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online