Batuk Lebih dari 2 Pekan? Waspadai Gejala Tuberkulosis

Newswire
Newswire Sabtu, 17 Oktober 2026 11:37 WIB
Batuk Lebih dari 2 Pekan? Waspadai Gejala Tuberkulosis

Skrining TBC - Ilustrasi Antara

Harianjogja.com, JAKARTA—Batuk yang berlangsung lebih dari dua pekan perlu diwaspadai karena dapat menjadi salah satu gejala tuberkulosis (TB). Risiko tersebut perlu diperhatikan terutama jika batuk disertai demam pada sore atau malam hari, keringat malam, penurunan nafsu makan, hingga berat badan yang terus berkurang.

Dokter spesialis paru konsultan infeksi, Dr. dr. Fathiyah Isbaniah, Sp.P(K), M.Pd.Ked., mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan batuk berkepanjangan. Pemeriksaan medis diperlukan untuk mengetahui penyebab keluhan tersebut, termasuk kemungkinan infeksi TB.

“Batuk lebih dari dua minggu perlu dicurigai sebagai TB. Pada orang dengan penurunan daya tahan tubuh, seperti penderita HIV dan diabetes, batuk dengan durasi berapa pun perlu diwaspadai,” kata Fathiyah kepada ANTARA, Sabtu (17/10/2026).

Dokter lulusan Universitas Indonesia itu menegaskan, orang dengan daya tahan tubuh rendah perlu lebih berhati-hati. Pada kelompok tersebut, batuk yang berlangsung kurang dari dua pekan sekalipun perlu mendapatkan perhatian.

Gejala TB Tidak Hanya Batuk Berkepanjangan

Dokter spesialis paru Prof. Dr. dr. Faisal Yunus, Ph.D., Sp.P(K), menjelaskan gejala tuberkulosis dapat muncul dalam berbagai bentuk. Selain batuk berkepanjangan, penderita bisa mengalami penurunan nafsu makan, berat badan turun, serta demam ringan yang kerap muncul pada sore atau malam hari.

“Gejalanya bervariasi, tapi yang terakhir itu lebih dari dua pekan, kemudian nafsu makan berkurang, berat badan turun. Kemudian ada gejala-gejala demam sore hari atau malam hari, kadang-kadang berkeringat malam,” kata Faisal ketika dihubungi ANTARA, Sabtu.

Menurut mantan Ketua Umum Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) tersebut, penderita TB juga dapat merasakan tubuh lebih cepat lelah, lemah, dan kehilangan semangat untuk menjalani aktivitas sehari-hari.

Gejala yang muncul bisa berbeda pada setiap orang. Karena itu, masyarakat perlu memperhatikan keluhan yang berlangsung terus-menerus, terlebih jika beberapa gejala muncul secara bersamaan.

Batuk Kerap Dianggap Keluhan Biasa

Faisal menilai batuk masih sering diabaikan karena dianggap sebagai gangguan kesehatan ringan. Kondisi ini terutama terjadi pada perokok yang terbiasa mengalami batuk sehingga tidak segera mencari pertolongan medis.

“Batuk paling sering diabaikan orang. ‘Enggak, batuk biasa kok.’ Apalagi kalau merokok, batuk terus, itu sering diabaikan banyak orang,” ujarnya.

Sebagian masyarakat juga memilih mengonsumsi obat batuk atau obat herbal terlebih dahulu tanpa memastikan penyebab keluhan. Padahal, batuk akibat TB bisa berupa batuk kering maupun batuk berdahak sehingga tidak selalu memiliki ciri khusus yang mudah dikenali.

Faisal menjelaskan batuk berdarah dapat muncul pada kondisi tertentu. Namun, gejala tersebut juga bisa disebabkan penyakit lain sehingga pemeriksaan medis tetap diperlukan untuk memastikan diagnosis.

Temuan Kasus TB di Jakarta Melampaui 40 Ribu

Pentingnya pemeriksaan sejak dini menjadi perhatian di tengah upaya penemuan kasus tuberkulosis di DKI Jakarta. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebelumnya melaporkan telah menemukan lebih dari 40.000 kasus TB dari target sekitar 68.000 kasus.

Faisal mengatakan peningkatan jumlah temuan dapat berkaitan dengan upaya penemuan kasus secara aktif. Salah satunya melalui pemeriksaan terhadap orang yang memiliki kontak dengan pasien TB.

Menurut dia, penemuan kasus selama ini kerap bergantung pada pasien yang datang ke fasilitas kesehatan setelah mengalami gejala. Padahal, upaya menemukan penderita secara aktif diperlukan untuk memperluas jangkauan pemeriksaan.

“Kalau kita tidak melakukan secara aktif, TB ini tidak bisa habis. Makanya namanya active case finding, menemukan pasien secara aktif,” ujarnya.

Ketika seseorang terdiagnosis TB, anggota keluarga dan orang yang memiliki kontak erat juga perlu menjalani pemeriksaan. Langkah tersebut bertujuan mengetahui kemungkinan adanya penularan di lingkungan terdekat pasien.

Kapan Harus Memeriksakan Diri?

Masyarakat disarankan segera memeriksakan diri ke puskesmas, rumah sakit, atau dokter praktik jika mengalami batuk berkepanjangan. Terlebih apabila keluhan disertai penurunan berat badan, demam, atau tubuh mudah lelah.

Pemeriksaan diperlukan karena gejala saja belum cukup untuk memastikan seseorang terinfeksi tuberkulosis. Dokter akan menentukan pemeriksaan yang sesuai untuk mengetahui penyebab keluhan dan memastikan diagnosis.

Dengan mengenali gejala sejak awal dan tidak menganggap batuk berkepanjangan sebagai keluhan biasa, masyarakat dapat memperoleh penanganan yang sesuai dengan kondisi kesehatannya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online