Influenza A Naik, Kenali Gejala dan Tanda Bahayanya

Jumali
Jumali Kamis, 01 Oktober 2026 11:37 WIB
Influenza A Naik, Kenali Gejala dan Tanda Bahayanya

Ilustrasi, warga antre untuk menjalani pemeriksaan kesehatan di puskesmas./Antara-Raisan Al Farisi/agr

Harianjogja.com, JOGJA— Aktivitas influenza di Indonesia meningkat pada September 2026. Bagi masyarakat yang sehari-hari beraktivitas di sekolah, kantor, transportasi umum, atau ruang publik, mengenali gejala influenza A sejak awal penting agar bisa segera beristirahat dan mengurangi risiko menularkan virus kepada orang lain.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat positivity rate influenza mencapai 56 persen pada minggu ke-38 tahun 2026. Meski meningkat, pemerintah menyebut aktivitas influenza masih berada dalam kategori medium dan belum menunjukkan situasi yang mengkhawatirkan.

Kemenkes juga menegaskan subtipe influenza yang paling banyak ditemukan di Indonesia saat ini adalah influenza A(H1N1)pdm09. Dengan demikian, peningkatan aktivitas influenza yang terjadi sekarang tidak berarti Indonesia sedang didominasi influenza A(H3N2) subclade K yang belakangan di masyarakat kerap disebut “superflu”.

Pemantauan influenza dilakukan melalui jaringan surveilans yang mencakup 39 puskesmas, 35 rumah sakit, dan 14 balai karantina kesehatan. Dalam pemantauan hingga pekan ke-38, Kemenkes mencatat 1.527 spesimen positif influenza dari 8.757 pemeriksaan sepanjang 2026.

Gejala Influenza A yang Sering Muncul

Influenza merupakan infeksi saluran pernapasan akibat virus influenza. Keluhannya dapat muncul secara tiba-tiba dan pada sebagian orang terasa lebih berat dibandingkan flu biasa. Namun, gejala saja tidak cukup untuk memastikan seseorang terkena influenza karena berbagai infeksi saluran pernapasan dapat menimbulkan keluhan yang serupa. Pemeriksaan dapat diperlukan untuk memastikan diagnosis.

Berikut sejumlah gejala yang perlu diperhatikan ketika tubuh mulai terasa tidak sehat:

  • Demam atau menggigil. Suhu tubuh dapat meningkat dan penderita bisa merasa meriang atau menggigil. Namun, tidak semua orang yang terkena influenza mengalami demam.

  • Batuk. Batuk merupakan salah satu gejala umum influenza dan dapat berupa batuk kering.

  • Kelelahan. Tubuh dapat terasa lemas atau sangat lelah sehingga aktivitas sehari-hari menjadi terganggu.

  • Nyeri otot atau badan. Rasa pegal dan nyeri dapat muncul pada berbagai bagian tubuh.

  • Sakit kepala. Keluhan ini juga termasuk gejala yang umum pada influenza.

  • Sakit tenggorokan. Tenggorokan dapat terasa nyeri atau tidak nyaman, terutama ketika menelan.

  • Hidung berair atau tersumbat. Keluhan pada hidung juga dapat muncul bersamaan dengan batuk dan sakit tenggorokan.

Menurut CDC, gejala influenza biasanya muncul secara mendadak. Selain demam, batuk, sakit tenggorokan, hidung tersumbat atau berair, nyeri tubuh, sakit kepala, dan kelelahan, sebagian penderita juga dapat mengalami muntah atau diare, terutama anak-anak.

Tidak Semua Flu Berarti Influenza A

Batuk, demam, pilek, atau badan lemas tidak otomatis berarti seseorang terkena influenza A. Gejala influenza dapat menyerupai penyakit pernapasan lain sehingga masyarakat sebaiknya tidak memastikan jenis penyakit hanya berdasarkan satu atau dua keluhan.

CDC menyebut pemeriksaan merupakan cara untuk memastikan influenza, meski dokter juga dapat membuat diagnosis berdasarkan gejala dan kondisi pasien. Karena itu, keluhan yang berat, menetap, atau semakin memburuk perlu mendapatkan perhatian tenaga kesehatan.

Sebagian besar penderita influenza dapat pulih tanpa harus menjalani perawatan di rumah sakit. Kemenkes menyebut penanganan pada kasus ringan dapat dilakukan dengan istirahat cukup dan obat sesuai gejala, sedangkan kasus berat dapat membutuhkan perawatan di rumah sakit.

Kapan Gejala Influenza Perlu Diperiksakan?

Kelompok tertentu memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi influenza. CDC memasukkan orang berusia 65 tahun ke atas, anak-anak terutama yang masih sangat kecil, ibu hamil, serta orang dengan penyakit kronis tertentu seperti asma, diabetes, atau penyakit jantung sebagai kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih.

Pada sebagian penderita, influenza dapat berkembang menjadi komplikasi seperti pneumonia, infeksi telinga atau sinus, serta memperburuk penyakit kronis yang sudah dimiliki. Komplikasi berat juga dapat mencakup gangguan jantung, peradangan organ tertentu, sepsis, hingga kegagalan organ.

Segera mencari pertolongan medis apabila muncul tanda bahaya seperti kesulitan bernapas, nyeri atau tekanan di dada, kebingungan, dehidrasi, atau kondisi yang terus memburuk. Tanda-tanda tersebut tidak sebaiknya ditunggu sampai gejala flu berlangsung lama.

Apa yang Bisa Dilakukan Saat Mulai Sakit?

Ketika mulai mengalami gejala infeksi saluran pernapasan, istirahat dan mencukupi kebutuhan cairan menjadi bagian penting dari pemulihan. Mengurangi kontak dekat dengan orang lain juga membantu menekan risiko penularan, terutama kepada anggota keluarga atau orang lain yang memiliki risiko komplikasi lebih tinggi.

Masyarakat juga tidak dianjurkan membeli atau mengonsumsi obat antivirus influenza secara sembarangan. Kemenkes menegaskan Oseltamivir bukan obat yang digunakan secara massal atau diminum untuk berjaga-jaga tanpa penilaian medis; penggunaannya terutama ditujukan bagi pasien influenza berat dan kelompok berisiko berdasarkan pemeriksaan serta pertimbangan dokter.

Aktivitas influenza yang meningkat pada September 2026 masih dinilai mengikuti pola musiman. Kemenkes menyebut kenaikan aktivitas influenza pada periode September hingga akhir tahun juga terlihat dalam pola beberapa tahun sebelumnya, sehingga masyarakat diminta tetap waspada tanpa perlu panik.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online