Operasi Caesar Pengaruhi Kesehatan Pencernaan Bayi, Ini Cara Menyiasatinya

Newswire
Newswire Kamis, 10 September 2026 08:37 WIB
Operasi Caesar Pengaruhi Kesehatan Pencernaan Bayi, Ini Cara Menyiasatinya

Ibu Hamil, Wanita Hamil, Kehamilan - Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA— Operasi caesar menjadi pilihan bagi sebagian calon orang tua ketika persalinan normal dinilai memiliki risiko tertentu. Namun, metode persalinan tersebut juga memiliki konsekuensi yang perlu diperhatikan, salah satunya terkait keseimbangan mikrobiota di dalam usus bayi.

Angka persalinan melalui prosedur bedah caesar saat ini cenderung meningkat. Selain kondisi kesehatan ibu dan janin, terdapat pula alasan non-medis yang mendorong sebagian ibu memilih persalinan melalui operasi caesar.

“Satu dari empat perempuan Indonesia melahirkan dengan operasi caesar, ini sudah jauh melebihi angka batas dari WHO,” kata dr. Febriansyah Darus, Sp.OG, Subsp.KFm. pada diskusi media di Jakarta Selatan, Rabu (9/9/2026).

Kapan Operasi Caesar Diperlukan?

Operasi caesar pada dasarnya dapat dilakukan berdasarkan rekomendasi medis yang berkaitan dengan kondisi ibu, janin, maupun waktu kehamilan.

Ibu yang memiliki riwayat penyakit jantung dan ginjal, misalnya, dapat menghadapi risiko lebih tinggi apabila menjalani proses persalinan normal.

Selain kondisi ibu, posisi janin yang melintang dan ukuran bayi yang terlalu besar juga dapat menjadi pertimbangan untuk melakukan operasi caesar. Kehamilan yang melewati batas waktu juga menjadi salah satu kondisi yang dapat dipertimbangkan.

Persalinan caesar memang dapat memberikan manfaat bagi ibu maupun janin. Namun, terdapat konsekuensi lain yang perlu menjadi perhatian, termasuk kemungkinan terjadinya ketidakseimbangan mikrobiota usus bayi.

Mikrobiota Berperan dalam Pencernaan dan Imunitas

Mikrobiota merupakan kumpulan seluruh mikroorganisme yang terdiri atas bakteri, virus, jamur, dan mikroba lainnya. Sebagian mikrobiota hidup di dalam saluran pencernaan dan membantu proses mencerna makanan.

“Tiga tahun pertama kehidupan merupakan periode yang sangat penting karena mikrobiota usus terus berkembang bersamaan dengan sistem imun,” jelas Dr. dr. Andy Darma, Sp.A, Subsp.GH(K). di kesempatan yang sama pada Rabu (9/9/2026).

Andy menjelaskan bayi yang lahir secara normal akan terpapar mikroorganisme dari jalan lahir ibunya. Paparan tersebut berkontribusi terhadap pembentukan mikrobiota usus anak.

Sementara itu, bayi yang dilahirkan melalui operasi caesar tidak melewati proses yang sama. Bayi lebih banyak terpapar mikroorganisme yang berasal dari kulit ibu.

Kondisi tersebut dapat membuat keseimbangan mikrobiota anak lebih mudah mengalami gangguan selama masa pertumbuhan. Gangguan keseimbangan mikrobiota tersebut dikenal sebagai gut dysbiosis.

1.000 Hari Pertama Kehidupan Jadi Periode Penting

Keseimbangan mikrobiota juga berkaitan dengan periode 1.000 hari pertama kehidupan. Pada periode tersebut, tubuh anak memiliki tingkat plastisitas yang tinggi.

Apa yang dikonsumsi anak serta kondisi lingkungan dapat memengaruhi keseimbangan mikrobiota. Karena itu, persalinan pervaginam sangat direkomendasikan apabila tidak terdapat alasan risiko kesehatan yang mengharuskan dilakukan operasi caesar.

Lantas, bagaimana menjaga keseimbangan mikrobiota apabila persalinan harus dilakukan melalui operasi caesar?

"Paling penting adalah mengembalikan keseimbangan mikrobiota, cara paling mudah dan murah adalah dengan memberikan ASI,” kata Febriansyah saat menjelaskan apa yang sebaiknya dilakukan bila harus menjalani caesar.

ASI Bisa Membantu Menjaga Mikrobiota Bayi

Pemberian air susu ibu (ASI) menjadi salah satu cara sederhana yang dapat dilakukan untuk menjaga keseimbangan mikrobiota bayi.

ASI mengandung human milk oligosaccharides (HMO), terutama pada kolostrum. Kandungan tersebut dapat menjadi asupan bagi mikrobiota baik yang terdapat di dalam usus bayi.

Dengan demikian, bayi yang dilahirkan melalui operasi caesar tetap dapat dijaga keseimbangan mikrobiotanya melalui pemberian ASI.

Selain ASI, makanan berbasis biotik seperti prebiotik, probiotik, maupun sinbiotik juga dapat menjadi pilihan sesuai kebutuhan dan rekomendasi tenaga kesehatan.

Pemahaman mengenai mikrobiota pencernaan tidak hanya menjadi tanggung jawab di ruang praktik dokter. Diperlukan kolaborasi lintas disiplin, mulai dari dokter, ahli nutrisi, hingga pemangku kebijakan.

Kolaborasi tersebut kemudian menjadi salah satu latar belakang pembentukan Gut and Immunity Council. Platform ilmiah ini memfasilitasi diskusi lintas bidang untuk meningkatkan edukasi dan kesadaran masyarakat.

Selain itu, Gut and Immunity Council mendorong pengembangan regulasi dan intervensi berbasis bukti yang berkaitan dengan kesehatan usus dan imunitas.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online