16 Tahun Hiatus, Lipstik Lipsing Kembali Bikin Haru di Prambanan

Catur Dwi Janati
Catur Dwi Janati Rabu, 09 September 2026 13:17 WIB
16 Tahun Hiatus, Lipstik Lipsing Kembali Bikin Haru di Prambanan

Penampilan band Lipstik Lipsing di Candi Prambanan pada Sabtu (22/8/2026)./Harian Jogja -- Catur Dwi Janati

Harianjogja.com, SLEMAN— Dua windu bukan waktu yang sebentar untuk sebuah band yang memilih menghilang dari panggung. Namun, 16 tahun setelah terakhir kali aktif tampil, nama Lipstik Lipsing ternyata masih hidup di ingatan para pendengarnya. Di Candi Prambanan, Sabtu (22/8/2026), band “mitos” asal Semarang itu kembali memainkan lagu-lagu yang selama bertahun-tahun hanya didengar melalui rekaman.

Senja di Prambanan menjadi saksi bagaimana karya yang lahir belasan tahun silam kembali menemukan ruangnya di hadapan ratusan penonton. Melalui panggung Cherrypop, Lipstik Lipsing tidak sekadar menggelar pertunjukan, tetapi seperti membuka kembali lembaran memori para pendengar yang telah menunggu selama dua windu. Berikut laporan Reporter Harian Jogja, Catur Dwi Janati.

16 Tahun Kemudian, “Intro” Kembali Menggema

Sabtu sore itu, Lipstik Lipsing seperti dihidupkan kembali dari tidur panjang. Tujuh pemusik berdiri di atas panggung, membawa kembali warna musik yang membuat mereka lekat dengan predikat band “mitos” dari Semarang.

Bram, vokalis sekaligus gitaris, tidak tampil seorang diri. Petikan gitar Bhaskoro dan Kevin menghidupkan kembali komposisi-komposisi lama, sementara Faishaldvtr mengisi posisi bass. Di belakang drum ada Mas Kartun, sedangkan Widya memainkan keyboard dan Ocsila memperkuat vokal latar.

Pertunjukan dibuka dengan “Intro”, bagian dari EP Room for Outside. Dentingan glockenspiel yang menjadi ciri khas lagu tersebut seketika membuat suasana berubah. Bagi sebagian penonton, suara itu bukan sekadar pembuka konser, melainkan suara dari masa lalu yang kembali terdengar setelah 16 tahun.

Hampir tanpa jeda, “Intro” disusul “Puerto Rico”. Petikan gitar Bhaskoro membuka lagu tersebut dan penonton yang telah hafal liriknya langsung ikut berdendang.

“So where'd you go, can i go too. So where'd you go, take me go too.”

Potongan lirik itu seolah menjadi gambaran paling tepat mengenai hubungan Lipstik Lipsing dengan para penggemarnya. Selama bertahun-tahun, pertanyaan tentang ke mana mereka pergi seperti terus menggantung. Kini, para pendengar akhirnya mendapat kesempatan untuk berjalan bersama mereka lagi, setidaknya selama 40 menit di panggung Cherrypop.

Setelah “Puerto Rico”, penonton diajak masuk ke “Young and Brittle”. Kali ini ambiens gitar Kevin menjadi pembuka. Meski memiliki nuansa awal yang sedikit berbeda dari versi rekaman, lagu tentang kerapuhan jiwa muda itu tetap mampu membangun energi di tengah penonton.

Lirik “You turn to wrong direction, You got to much glare of reflection, Now you lost your confession, You blind in a vision” terasa kembali menemukan relevansinya. Kerapuhan, kehilangan arah, dan pencarian jati diri yang tergambar dalam lagu tersebut seakan bertemu dengan pengalaman generasi yang hidup di tengah begitu banyak “silau” semu.

Setelah lagu ketiga selesai, Bram menyapa penonton sembari memperkenalkan dirinya. Sapaan itu terdengar sederhana, seolah ratusan orang di hadapannya belum mengenal band yang selama bertahun-tahun justru semakin dibicarakan karena ketidakhadirannya.

“Selamat sore Cherrypop, kami Lipstik Lipsing dari Semarang. Langsung ya,” kata Bram.

Gitar Kevin kemudian kembali memandu “Rebirth”. Lagu yang kurang lebih mengajak pendengar untuk lahir kembali dan bangkit menghadapi kehidupan yang terus berubah itu mendapat respons berupa koor dari penonton.

Terutama ketika bagian berikut dinyanyikan:

“In every place they give you home, Every road they give you ride, All the stars shine in your eyes, Here you are.”

Sekitar 16 menit setelah penampilan dimulai, Lipstik Lipsing memperkenalkan materi yang asing bagi telinga penonton. Lagu baru tersebut dibuka dengan ketukan drum Mas Kartun.

Samar terdengar lirik, “You know how it feels, We were closer than we knew, Still we had so much to lose, Back to how it used to be.”

Jika empat lagu sebelumnya membawa penonton menyusuri nostalgia, materi baru tersebut menjadi penanda bahwa Lipstik Lipsing tidak sepenuhnya datang untuk mengulang masa lalu.

“Suburban Love” dan Memori yang Tak Hilang

Lagu keenam yang dimainkan adalah “Suburban Love”. Salah satu andalan dari EP Room for Outside tersebut seperti membuka pintu waktu ketika senja mulai turun di Prambanan.

Begitu intro “Suburban Love” dimainkan, riuh penonton langsung terdengar. Sebagian besar mereka ikut bernyanyi, seakan lagu tersebut memiliki ruang memorinya sendiri.

Baris lirik “If this is your game, But you never let me find the rules, I'm tired to play this one, And I loose myself for nothing” terdengar begitu lekat di antara suara penonton.

Belasan tahun berlalu, tetapi lagu itu ternyata tidak kehilangan daya magisnya. Bagi pendengar yang pernah menemukan kisah dan perasaannya di dalam lagu tersebut, “Suburban Love” bukan hanya komposisi musik, melainkan bagian dari perjalanan hidup.

Setelah “Suburban Love” yang mengharu biru, Lipstik Lipsing membawakan medley “If Only We Could Choose Our Own Happiness”. Pertunjukan kemudian ditutup dengan “Early Express”.

Lagu terakhir itu dinyanyikan bersama-sama oleh banyak penonton. Ketika potongan lirik “But now we’ve found the end” terdengar, pertunjukan sore itu benar-benar berakhir.

Namun, berakhirnya konser ternyata tidak serta-merta mengakhiri kegembiraan para penggemar.

Teara Menunggu 16 Tahun untuk Bertemu Langsung

Raut bahagia terlihat jelas dari wajah Teara. Sejak pertunjukan belum dimulai, ia sudah berada di deretan depan panggung untuk menyaksikan band favoritnya.

Bukan penantian singkat. Teara telah menunggu sekitar 16 tahun untuk akhirnya mendengarkan lagu-lagu Lipstik Lipsing secara langsung.

Sore itu jaraknya hanya sekitar satu meter dari panggung. Ia menikmati lagu demi lagu yang dimainkan kelompok musik asal Semarang tersebut.

Ketika pertunjukan selesai, Teara tidak hanya bertepuk tangan. Ia ikut berebut kenang-kenangan berupa setlist hingga lembaran lirik yang diberikan Lipstik Lipsing kepada penonton.

Ia juga bersorak ketika menyapa para personel yang meninggalkan panggung.

“Mantaaaap! Luar biasa, baru pertama [nonton Lipstik Lipsing,” kata Teara bahagia.

Teara mulai mendengarkan karya Lipstik Lipsing sekitar 2010 ketika masih kuliah. Berbeda dengan penonton yang mengenal mereka melalui pertunjukan, Teara lebih dahulu akrab dengan band tersebut lewat MP3.

“Udah lama suka Lipstik Lipsing dari 2000 berapa ya, 2010, pokoknya [masih] kuliahlah,” ujarnya

“Terus sekarang manggung baru lihat ini. Sebelumnya cuma dengar MP3 gitu-gitu doang,” ungkap Teara.

Kini, setelah sekitar 40 menit menyaksikan idolanya secara langsung, Teara tidak meminta banyak. Harapannya sederhana: Lipstik Lipsing kembali naik panggung.

“Semoga terus manggung, karena kalau aku dengar-dengar dari selama hiatus baru ini kan pertama,” ujarnya.

Dari seluruh lagu yang dimainkan, “Early Express” menjadi salah satu yang paling dinantikan Teara. Ketika lagu tersebut akhirnya dimainkan sebagai penutup, ia ikut bernyanyi dari depan panggung.

“Terakhir, Early Express mantap,” ujarnya.

Tidak ada kisah khusus yang membuat Teara begitu menyukai lagu tersebut. Ia hanya sering mendengarkannya.

“Enggak sih, soalnya sering dengerin aja,” kata Teara lantas izin pergi untuk berfoto dengan Lipstik Lipsing yang menyapa para penggemarnya.

Andrew: “Puerto Rico” Favorit, “Early Express” Paling Mengena

Penantian panjang juga dialami Andrew. Jika Teara mengenal Lipstik Lipsing sejak masa kuliah, Andrew sudah mendengarkan band tersebut ketika masih SMP.

Pemuda berusia 21 tahun itu mengatakan dirinya mulai mendengarkan Lipstik Lipsing sekitar lima hingga enam tahun lalu. Pada masa itu, band tersebut sudah vakum dari panggung.

“Aku kurang lebih dari SMP. Berarti 5 tahun lalu, 5-6 tahun lalu,” kata pemuda berusia 21 tahun tersebut.

“Aku selama ini cuma denger doang ya, itu pun Spotify udah enggak ada kan ya, cuma dari YouTube, dan emang menyenangkan ya rasa-rasanya,” tuturnya.

Andrew bahkan tidak lagi mengingat secara detail bagaimana dirinya menemukan karya Lipstik Lipsing. Namun satu lagu masih melekat sebagai pintu masuknya mengenal band tersebut, yakni “Puerto Rico”.

“Wah kalau itu aku lupa ya detailnya, cuma tahu-tahu langsung nyangkut aja gitu, yang Puerto Rico kalau enggak salah waktu itu pertama,” ujar Andrew

Tahun 2026 menjadi kesempatan pertama Andrew melihat Lipstik Lipsing secara langsung. Kebetulan, pemuda asal Cianjur itu kini tengah menempuh pendidikan perguruan tinggi di Jogja.

Begitu mengetahui Lipstik Lipsing akan tampil di Candi Prambanan, ia tidak membutuhkan banyak pertimbangan untuk membeli tiket.

“Iya ini yang paling aku tunggu hari ini justru Lipstik Lipsing,” tegasnya.

“Puerto Rico” tentu menjadi lagu yang paling ia tunggu. Namun, pengalaman di depan panggung justru membuat “Early Express” menjadi lagu yang paling menyenangkan baginya.

“Kalau personal favorit, Puerto Rico ya. Cuma kalau tadi paling menyenangkan, Early Express, karena pada nyanyi semua kan. Jadi lebih vibes konsernya lebih dapet gitu,” tuturnya

Andrew tidak mempermasalahkan jika aransemen yang dimainkan secara langsung berbeda dari rekaman yang selama ini ia dengarkan. Justru perbedaan tersebut menjadi bagian dari pengalaman menonton konser.

“Ya emang festival kan poinnya di situ ya, kita dengerin secara live mungkin beda, dan itu justru perks-nya di situ. Yang membuat festival jadi menyenangkan kan di situnya , ngelihat live-nya,” tegas Andrew.

Ke Mana Lipstik Lipsing Setelah Prambanan?

Pertanyaan berikutnya muncul setelah gemuruh panggung mereda. Ke mana lokomotif musik Lipstik Lipsing akan melaju setelah Cherrypop?

Ditemui seusai manggung, Bram Syah, gitaris sekaligus vokalis Lipstik Lipsing, menjawab teka-teki mengenai menghilangnya mereka dari peredaran musik selama belasan tahun.

Ia tidak menjelaskan secara rinci alasan mereka hiatus. Ketika ditanya ke mana Lipstik Lipsing selama ini, jawabannya justru disampaikan dengan seloroh.

“Sibuk menghadapi dunia yang munafik,” seloroh Bram disusul tawa di akhir.

Sekitar dua windu sebelumnya, Lipstik Lipsing sebenarnya sempat memberikan kejutan. Pada 2025, mereka tiba-tiba kembali bermain di panggung Lokalisasi di kota kelahiran mereka, Semarang.

Kembalinya mereka saat itu membuat pendengar menduga Lipstik Lipsing akan kembali aktif mengisi panggung musik. Namun dugaan tersebut belum menjadi kenyataan.

Setelah tampil di Semarang pada 2025, Lipstik Lipsing kembali menghilang. Tidak ada kabar mengenai panggung berikutnya. Mereka kembali menjadi semacam mitos di tengah penikmat musik.

Hingga akhirnya Prambanan menjadi lokasi penampilan kedua mereka setelah hiatus 16 tahun.

“Ya, betul setahun lalu. Itu juga kalau buat kita senang-senang aja lah ya. Ini [main di Cherrypop] juga bagian dari senang-senang sih. Mumpung lagi pas momennya, ya udah kita -- Yuk, berangkat, yuk,” jawab Bram ringan.

Kerinduan untuk bermusik menjadi salah satu alasan mereka kembali tampil.

Bram juga mendengar cerita dari teman-temannya bahwa Lipstik Lipsing tengah banyak dicari oleh penikmat musik melalui media sosial. Awalnya ia tidak percaya.

Namun, setelah mengetahui bahwa masih banyak pendengar yang menantikan mereka, Bram kemudian mengumpulkan orang-orang untuk kembali membawa nama Lipstik Lipsing ke panggung.

“Yang pertama [alasan] kangen iya,” tuturnya.

“Tapi teman-teman ada yang ngecek sosial media kan -- Band mu tuh lagi banyak dicari di sosial media -- Ah masa sih, masa sih?. Akhirnya ngumpulinlah orang-orang yang sebenarnya bukan, orang-orangnya, tapi ya yang penting ini kemauannya pada dipenuhi,” ungkap Bram.

Keputusan tersebut mendapat respons luar biasa di Cherrypop. Dari atas panggung, Bram bahkan terlihat keheranan melihat jumlah penonton yang hadir untuk menyaksikan band yang selama 16 tahun baru dua kali kembali tampil.

“Ramai sekali. Kita yang enggak pernah main jadi enggak enak,” tutur Bram di atas panggung.

Bagi Bram, sambutan tersebut bukan sekadar kegembiraan. Ada perasaan haru ketika mengetahui bahwa karya yang mereka tinggalkan belasan tahun lalu ternyata masih diingat.

“Senang lah, pasti senang. Terharu sih lebih tepatnya. Maksudnya, oh kita tuh masih diingat sama orang ya,” ujarnya.

Lagu Baru Jadi Sinyal Lipstik Lipsing Belum Selesai

Salah satu kejutan terbesar sore itu muncul ketika Lipstik Lipsing memainkan materi baru menjelang senja.

Bram mengonfirmasi lagu tersebut berjudul “Coasted Away”. Kehadiran lagu baru itu menjadi sinyal bahwa perjalanan Lipstik Lipsing mungkin belum benar-benar selesai.

Bram juga tidak menutup kemungkinan adanya materi baru.

“Disemogain aja. Iya [ada materi baru],” ujarnya.

Namun, alasan awal pembuatan lagu baru itu ternyata sangat sederhana. Mereka membutuhkan tambahan materi untuk memenuhi durasi penampilan selama 40 menit di Cherrypop.

Dengan jumlah lagu yang tersedia, Lipstik Lipsing merasa masih membutuhkan satu lagu tambahan. Maka, materi baru tersebut diracik dan akhirnya diperdengarkan untuk pertama kali kepada penggemar.

“Tadi juga ada lagu baru. Itu juga ada lagu baru kok. Kita tadi apa, sebelum main, kan kita kan, -- Wah, main berapa menit nih? 40 menit. Wah, kurang satu nih -- Ya udah kita bikin gitu,” ungkap Bram sambil tertawa.

Lagu tersebut tidak dibuat secara terburu-buru dalam hitungan hari. Bram menyebut proses pembuatannya telah dimulai sekitar tiga hingga empat bulan sebelumnya.

“Bikinnya tiga bulan yang lalu, empat bulan yang lalu,” tandasnya.

Ketika ditanya apakah lagu baru tersebut akan menjadi awal lahirnya EP atau album baru Lipstik Lipsing, Bram belum memberikan jawaban pasti.

Baginya, bermusik tetap merupakan bagian dari kesenian. Karena itu, ia tidak ingin membebani perjalanan band dengan target yang terlalu kaku.

“[Materi] yang belum tahu. Yang pokoknya, pokoknya disenang-senangin karena itu ini kesenian. Ya kan, ini bukan eksakta, jadi senang-senangin aja,” tuturnya.

Ketika “Mitos” Dibiarkan Menjadi Mitos

Petang itu, perbincangan dengan Bram berlangsung tanpa jarak. Berdiri di balik pagar yang memisahkan area penonton dan penampil, ia menjawab berbagai pertanyaan sambil sesekali bersandar santai.

Salah satu topik yang muncul adalah label “mitos” atau cult yang kini melekat pada Lipstik Lipsing. Di berbagai kanal platform, nama mereka kerap disebut sebagai band mitos dari Semarang.

Bram tidak merasa perlu membongkar alasan di balik label tersebut. Baginya, jika sesuatu sudah menjadi mitos, biarkan saja tetap menjadi mitos.

Ia kemudian mengibaratkannya dengan wejangan nenek zaman dahulu yang melarang seseorang duduk di depan pintu.

“Kalau dariku [soal mitos] itu harga jualnya kayaknya ya,” kelakarnya

“Jadi, mitos itu kan kayak kalau kata nenek kan -- enggak boleh duduk depan pintu -- enggak tahu alasannya kenapa. Ya udah, yaitu mitos aja gitu,” imbuh Bram.

Namun, Bram memastikan mereka tidak sengaja menghilang demi mendapatkan label tersebut.

Para personel Lipstik Lipsing memiliki kesibukan masing-masing. Sejak awal pun band tersebut tidak dibangun dengan intensi untuk sepenuhnya terjun ke industri musik.

“Sibuk masing-masing, sibuk masing-masing, iya. Tidak ada ini sih, maksudnya gak ada intensi ke memang ke musik tadinya. Karena ya, iya [seru-seruan], ya udah aja gitu,” jelasnya.

Pada akhirnya, label apa pun yang melekat pada Lipstik Lipsing tidak mengubah satu kenyataan. Karya-karya mereka yang lahir sekitar 16 tahun lalu ternyata tetap bertahan.

“Suburban Love”, “Puerto Rico”, “Early Express”, dan lagu-lagu lainnya terus diputar meski bandnya lama tidak hadir di panggung.

Mereka mungkin hanya dua kali tampil dalam rentang 16 tahun. Namun, lagu-lagu mereka bisa saja telah diputar ribuan kali oleh pendengar yang berbeda, di tempat dan waktu yang berbeda.

Dua windu Lipstik Lipsing pergi, tetapi karya mereka tidak ikut menghilang.

“Ternyata Kita Masih Dicintai”

Kepada para penggemar yang hadir di Prambanan, Bram hanya bisa menyampaikan terima kasih.

Ia mengaku masih merasakan ketegangan ketika kembali naik panggung setelah belasan tahun. Terlebih, sambutan yang diterima jauh lebih besar dari yang dibayangkan.

“Iya, terima kasih banyak sih. Maksudnya sudah berapa tahun ya, terakhir kita main 2011 kayaknya apa 2010 gitu kan udah 16 tahun ya dan saya masih amazed sama, animonya, segede itu,” tuturnya.

“Saya juga tadi apa, deg-degan lah -- ini kok banyak banget ya [yang nonton] gitu -- ternyata kita masih dicintai,” ungkap Bram.

“Early Express” menjadi lagu pamungkas kembalinya Lipstik Lipsing sore itu. Menariknya, lagu tersebut sebenarnya bukan penutup EP Room for Outside.

Penempatannya di akhir pertunjukan bisa saja hanya kebetulan, atau mungkin memiliki makna lain. Namun yang pasti, kemunculan kembali Lipstik Lipsing terasa seperti perjalanan ekspres, persis dengan potongan lirik mereka, “Early express for you.”

Kali ini, lokomotif musik “mitos” asal Semarang tersebut tidak pergi begitu saja tanpa pamit.

Ketika ditanya apakah akan ada panggung berikutnya setelah Cherrypop, Bram hanya memberikan satu jawaban.

“Semoga aja, semoga,” tuturnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online