Sering Bilang Hati-hati ke Anak? Ini Dampaknya dan 5 Penggantinya

Jumali
Jumali Sabtu, 05 September 2026 16:27 WIB
Sering Bilang Hati-hati ke Anak? Ini Dampaknya dan 5 Penggantinya

Ilustrasi. /Ist-Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Rasa khawatir terhadap keselamatan anak merupakan hal yang wajar bagi orang tua. Ketika melihat buah hati hendak berlari, menaiki tangga, bermain, atau melakukan aktivitas yang dianggap berisiko, kata "hati-hati" sering kali spontan keluar.

Ucapan tersebut memang dimaksudkan sebagai bentuk perhatian. Namun, terlalu sering mengatakan "hati-hati" ternyata bukan selalu cara paling efektif untuk mengajarkan anak mengenai keselamatan.

Mengutip The Soccer Mom Blog, "hati-hati" merupakan peringatan yang terlalu umum. Anak tidak secara langsung diberi tahu apa yang harus diperhatikan, risiko apa yang mungkin muncul, maupun tindakan yang perlu dilakukan.

Akibatnya, anak bisa saja mendengar peringatan tersebut tanpa benar-benar memahami pesan keselamatan yang ingin disampaikan orang tua.

Terlalu Sering Bilang Hati-hati Bisa Memicu Kecemasan

Selain kurang memberikan arahan yang konkret, penggunaan kata "hati-hati" secara berlebihan berpotensi membuat sebagian anak menjadi lebih cemas.

Ucapan tersebut dapat memberikan kesan bahwa sesuatu yang buruk atau berbahaya akan segera terjadi. Padahal, aktivitas yang sedang dilakukan anak belum tentu berbahaya.

Bagi anak yang mudah merasa khawatir, pola komunikasi seperti ini dapat membuat mereka lebih banyak memikirkan kemungkinan buruk daripada memahami dan menikmati aktivitas yang sedang dilakukan.

Frekuensi juga menjadi faktor penting. Jika anak terus-menerus mendengar kata "hati-hati", peringatan tersebut lama-kelamaan dapat kehilangan maknanya.

Anak bisa menjadi terbiasa mendengar kata tersebut sehingga tidak lagi memberikan perhatian khusus ketika orang tua mengucapkannya.

Bukan berarti orang tua harus berhenti mengingatkan anak. Yang perlu diubah adalah cara menyampaikan peringatannya.

Daripada menggunakan peringatan yang bersifat umum, orang tua dapat memberikan instruksi yang spesifik sesuai dengan situasi. Dengan demikian, anak bukan hanya diberi tahu bahwa ada risiko, tetapi juga belajar bagaimana menghadapinya.

5 Kalimat Pengganti Hati-hati

Mengutip Motherly dan The Soccer Mom Blog, berikut sejumlah kalimat yang dapat digunakan sebagai alternatif ketika orang tua ingin mengingatkan anak mengenai keselamatan.

1. "Perhatikan baik-baik saat kamu sedang..."

Kalimat ini dapat membantu mengarahkan perhatian anak pada aktivitas tertentu.

Orang tua dapat menyesuaikannya dengan kondisi, misalnya, "Perhatikan baik-baik saat kamu sedang menaiki tangga" atau "Perhatikan baik-baik saat kamu menggunakan gunting."

Dengan cara tersebut, anak mengetahui bagian mana yang perlu diperhatikan.

2. "Jangan terburu-buru, pelan-pelan saja."

Kalimat ini memberikan instruksi yang lebih jelas dibandingkan sekadar mengatakan "hati-hati".

Anak dapat memahami bahwa ia perlu memperlambat gerakan untuk mengurangi risiko terjatuh, tersandung, atau melakukan kesalahan.

3. "Tetap waspada saat..."

Ungkapan ini dapat digunakan ketika anak melakukan aktivitas yang membutuhkan konsentrasi dan perhatian terhadap lingkungan sekitar.

Misalnya, orang tua dapat mengatakan, "Tetap waspada saat menyeberang jalan" sehingga anak memahami bahwa ia perlu memperhatikan kondisi di sekitarnya.

4. "Coba perhatikan sekelilingmu. Apakah kamu merasa stabil?"

Pertanyaan tersebut dapat membantu anak belajar mengenali kondisi tubuh dan lingkungan secara mandiri.

Anak tidak hanya menerima instruksi dari orang tua, tetapi juga diajak menilai apakah posisinya sudah aman atau perlu melakukan penyesuaian.

5. "Coba melangkah dengan hati-hati."

Kalimat ini masih menggunakan konsep kehati-hatian, tetapi memberikan arahan yang lebih spesifik terhadap tindakan yang sedang dilakukan.

Misalnya, ketika anak berjalan di permukaan yang tidak rata, orang tua dapat mengatakan, "Coba melangkah dengan hati-hati karena jalannya tidak rata."

Bukan Berarti Orang Tua Tidak Boleh Mengingatkan

Mengurangi penggunaan kata "hati-hati" bukan berarti orang tua harus membiarkan anak menghadapi situasi berbahaya tanpa pengawasan.

Sebaliknya, orang tua tetap perlu memberikan peringatan, terutama ketika terdapat risiko nyata. Hanya saja, peringatan tersebut sebaiknya disesuaikan dengan situasi dan disampaikan dalam bentuk instruksi yang mudah dipahami.

Contohnya, ketika anak hendak berlari di lantai yang licin, orang tua dapat mengganti ucapan "Hati-hati!" dengan, "Lantainya licin, coba jalan pelan-pelan."

Pesan tersebut membuat anak memahami alasan di balik larangan sekaligus mengetahui tindakan yang perlu dilakukan.

Cara komunikasi seperti ini juga dapat membantu anak belajar mengenali risiko secara bertahap. Mereka tidak hanya mengandalkan peringatan orang tua, tetapi mulai memahami hubungan antara kondisi tertentu dan tindakan yang aman.

Pada akhirnya, tujuan mengajarkan keselamatan bukan membuat anak takut terhadap berbagai kemungkinan bahaya. Orang tua justru perlu membantu anak membangun kemampuan untuk mengenali risiko, mengambil keputusan, dan menjaga keselamatan dirinya.

Dengan mengganti peringatan umum seperti "hati-hati" menjadi instruksi yang lebih spesifik, orang tua dapat menjadikan setiap aktivitas sebagai kesempatan bagi anak untuk belajar lebih mandiri dan percaya diri.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online