Persib Pindah 3 Laga Kandang ke Si Jalak Harupat, Ini Jadwalnya
Persib memindahkan tiga laga kandang Oktober 2026 ke Si Jalak Harupat karena perawatan GBLA. Persib menargetkan kembali pada November.
Foto ilustrasi pengasuhan anak dibuat oleh Artificial Intelligence ChatGpt.
Harianjogja.com, JOGJA— Setiap orang tua pasti ingin memberikan perlindungan terbaik bagi anak-anaknya. Niat mulia untuk memastikan tumbuh kembang anak berjalan optimal sering kali mendorong orang tua untuk terlibat dalam hampir setiap aspek kehidupan anak. Namun, sikap yang terlalu ikut campur dalam setiap urusan anak justru dapat menghambat proses perkembangan mereka.
Fenomena ini dikenal dengan istilah helicopter parenting—gaya pengasuhan di mana orang tua mengawasi dan mengendalikan hampir seluruh aspek kehidupan anak serta selalu siap turun tangan saat anak menghadapi masalah. International School Parent menggambarkan pola asuh ini sebagai orang tua yang terus "mengitari" anak layaknya helikopter dan selalu siap turun tangan ketika muncul masalah.
Meski dilandasi niat baik, pola asuh ini dinilai dapat menghambat perkembangan kemampuan anak dalam jangka panjang. Berikut sejumlah dampak helicopter parenting yang perlu diwaspadai.
Sulit Mengambil Keputusan Secara Mandiri
Anak yang sejak kecil selalu diarahkan dalam setiap situasi cenderung kesulitan mengambil keputusan secara mandiri. Mereka terbiasa menunggu arahan orang tua, baik untuk persoalan sederhana maupun keputusan yang lebih besar.
Padahal, kemampuan berpikir kritis dan menentukan pilihan merupakan bekal penting saat anak memasuki masa remaja hingga dewasa. Jika kesempatan tersebut terus diambil alih, anak akan lebih sulit mempercayai kemampuan dirinya sendiri. Dalam jangka panjang, mereka mungkin akan terus bergantung pada orang lain untuk membuat keputusan dalam hidupnya.
Kurang Mampu Mengelola Emosi
Anak juga membutuhkan pengalaman menghadapi tantangan agar mampu mengelola emosi dengan baik. Ketika selalu dijauhkan dari rasa kecewa, frustrasi, atau tekanan, mereka kehilangan kesempatan untuk belajar mengatasi berbagai situasi sulit.
Akibatnya, saat menghadapi masalah tanpa pendampingan orang tua, anak lebih rentan merasa cemas dan kewalahan. Mereka tidak memiliki "otot emosional" yang cukup kuat untuk menghadapi kenyataan bahwa hidup tidak selalu berjalan mulus.
Menurunkan Rasa Percaya Diri
Kepercayaan diri umumnya terbentuk ketika seseorang berhasil menyelesaikan sesuatu melalui usahanya sendiri. Namun, jika orang tua terus mengambil alih berbagai urusan anak, kesempatan untuk membangun rasa percaya diri menjadi semakin terbatas.
Dalam jangka panjang, anak bisa merasa dirinya tidak cukup mampu tanpa bantuan orang lain. Mereka pun menganggap keberhasilan lebih banyak ditentukan oleh campur tangan orang tua dibanding kemampuan pribadi. Pola pikir ini dapat membentuk ketergantungan yang sulit dihilangkan hingga dewasa.
Tidak Siap Menghadapi Kegagalan
Kegagalan merupakan bagian dari proses belajar. Melalui pengalaman tersebut, seseorang dapat mengevaluasi kesalahan, memperbaiki strategi, dan menjadi lebih tangguh. Ini adalah pelajaran hidup yang tidak bisa didapatkan hanya dari buku atau nasihat orang tua.
Sebaliknya, anak yang selalu dilindungi dari kegagalan cenderung memiliki toleransi yang rendah terhadap rasa frustrasi. Ketika menghadapi hambatan di kemudian hari, mereka lebih mudah menyerah karena tidak terbiasa menghadapi tantangan. Mereka mungkin akan menghindari situasi baru yang berisiko gagal, sehingga kehilangan banyak peluang dalam hidup.
Meningkatkan Risiko Gangguan Kesehatan Mental
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pola asuh yang terlalu mengontrol berkaitan dengan meningkatnya risiko gangguan kecemasan dan depresi pada anak maupun remaja.
Hal ini terjadi karena anak tidak terbiasa mengambil keputusan sendiri dan kurang memiliki keyakinan terhadap kemampuannya. Ketika dihadapkan pada situasi yang menuntut kemandirian, rasa takut berbuat salah pun menjadi lebih besar. Rasa cemas yang terus-menerus ini dapat berubah menjadi gangguan kecemasan kronis atau depresi.
Memicu Rasa Berhak Selalu Dibantu
Helicopter parenting juga berpotensi menumbuhkan rasa entitlement atau keyakinan bahwa orang lain akan selalu memenuhi kebutuhan dan menyelesaikan masalah yang dihadapi.
Jika kondisi ini terus berlangsung, anak menjadi kurang terbiasa bertanggung jawab serta berusaha keras untuk mencapai sesuatu secara mandiri. Mereka mungkin akan tumbuh dengan keyakinan bahwa dunia "berutang" kepada mereka, dan bahwa orang lain—termasuk pasangan, rekan kerja, atau atasan—harus selalu siap membantu mereka.
Mengubah Pola Asuh: Memberi Ruang untuk Tumbuh
Karena itu, orang tua disarankan memberikan ruang bagi anak untuk belajar mengambil keputusan, menghadapi kegagalan, dan menyelesaikan masalah sesuai usianya. Dengan cara tersebut, anak memiliki kesempatan mengembangkan rasa percaya diri, kemandirian, serta ketahanan mental yang akan menjadi bekal penting saat memasuki kehidupan dewasa.
Beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan antara lain:
Mengubah pola asuh membutuhkan waktu dan kesabaran. Namun, investasi ini akan membuahkan hasil berupa anak yang mandiri, percaya diri, dan tangguh menghadapi berbagai tantangan hidup.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Persib memindahkan tiga laga kandang Oktober 2026 ke Si Jalak Harupat karena perawatan GBLA. Persib menargetkan kembali pada November.
Jadwal DAMRI YIA-Jogja Sabtu 3 Oktober 2026 tersedia ke lima tujuan. Simak jam keberangkatan dan informasi tarif DAMRI dari YIA.
Jadwal KA Prameks Jogja-Kutoarjo Sabtu 3 Oktober 2026 tersedia 10 perjalanan. Cek jadwal lengkap dari Jogja dan Kutoarjo.
Jadwal KA Bandara YIA Sabtu 3 Oktober 2026 tersedia 24 perjalanan. Simak jadwal YIA-Tugu dan Tugu-YIA lengkap beserta tipsnya.
Jadwal KRL Solo-Jogja dari Palur pada Sabtu 3 Oktober 2026 tersedia mulai pukul 05.00 WIB. Simak jadwal lengkap tiap stasiun.
Jadwal KRL Jogja-Solo Sabtu 3 Oktober 2026 tersedia 15 perjalanan. Simak jadwal lengkap tiap stasiun dan tarifnya Rp8.000.