Nelayan Bantul Kembali Melaut, Gelombang 4 Meter Mengintai
Nelayan Bantul kembali melaut setelah gelombang tinggi mereda. BMKG mengingatkan potensi gelombang 2,5-4 meter di perairan selatan DIY.
Sejumlah pengunjung saat menikmati suasana destinasi wisata Lembah Oya Kedungjati di Selopamioro, Imogiri, Bantul belum lama ini. Sejak beroperasi, tempat ini menjadi harapan baru bagi pemuda setempat sebagai sumber mata pencarian./Harian Jogja-Yosef Leon
Lembah Oya Kedungjati di Selopamioro, Imogiri, Bantul, bukan sekadar destinasi wisata berbasis sungai. Sejak beroperasi pada 2023, kawasan tersebut berkembang menjadi sumber pendapatan baru bagi warga sekaligus membuka ruang bagi pemuda setempat untuk bekerja dan mengembangkan potensi kampung. Berikut laporan wartawan Harian Jogja, Yosef Leon.
Siang itu, suara musik dangdut koplo menemani Rian, 26, bersama sejumlah rekannya yang berjaga di Lembah Oya Kedungjati. Di tengah cuaca terik, mereka sesekali bercanda sambil menatap layar ponsel dari pos penjagaan.
Beberapa meter di bawah pos, sejumlah wisatawan berswafoto dengan latar perbukitan dan aliran Sungai Oya yang jernih. Jarum jam menunjukkan pukul 14.00 WIB dan baru segelintir pengunjung yang datang.
"Biasanya ramai sore hari, sekitar jam 15.00 WIB atau 16.00 WIB," ujar Rian.
Rian telah dua tahun bekerja di destinasi tersebut. Sebelum bergabung dalam pengelolaan Lembah Oya Kedungjati, dia merupakan buruh serabutan yang terkadang membantu tetangga di sawah atau ladang dengan penghasilan tidak menentu.
"Dulu ya bisa dibilang pendapatan serba tidak pasti. Kadang ada, kadang sama sekali tidak ada untuk mencukupi kebutuhan harian," kata Rian.
Kini, menurut dia, Lembah Oya Kedungjati menjadi lebih dari sekadar tempat wisata. Destinasi tersebut memberikan kesempatan bagi pemuda untuk memperoleh pendapatan sekaligus ikut berkontribusi terhadap kampung halaman.
"Tempat ini jadi ladang rezeki dan harapan baru terutama para pemuda," ujarnya.
Berawal dari Gotong Royong Pemuda
Pengelola Lembah Oya Kedungjati, Hardi, mengatakan destinasi tersebut bermula dari inisiatif anak-anak muda Karang Taruna setempat. Sebelum dikembangkan sebagai tempat wisata, kawasan itu memang sudah sering digunakan warga untuk bermain air.
Potensi tersebut kemudian mendorong para pemuda untuk mengelolanya secara lebih serius. Saat pertama dirintis, kawasan Lembah Oya Kedungjati masih berupa lahan yang cukup rimbun.
Para pemuda bergotong royong membuka dan menata kawasan. Modal awal mereka juga terbatas, bahkan peralatan kano yang menjadi salah satu daya tarik wisata pada awalnya diperoleh dengan cara meminjam.
"Awalnya kami belum punya modal. Bahkan yang kerja di sini juga gotong royong. Kami pinjam kanonya. Setelah ramai dan omzetnya ada, baru beli sendiri," kata Hardi.
Setelah kunjungan mulai meningkat dan menghasilkan pendapatan, pengelola membeli kano sendiri. Saat ini terdapat sekitar 10 kano yang dapat digunakan pengunjung.
Pengembangan fasilitas dilakukan secara bertahap menggunakan pendapatan wisata. Sejumlah fasilitas seperti kamar mandi dan area parkir dibangun dari hasil pengelolaan destinasi.
Pengelola juga mendapatkan dukungan dari salah satu kampus untuk sejumlah fasilitas, termasuk jembatan rangka besi, tempat duduk, dan lampu panel surya.
Pengelolaan Lembah Oya Kedungjati melibatkan pemuda dari enam RT. Masing-masing RT mengirimkan dua pemuda sehingga terdapat 12 orang yang memegang tanggung jawab dalam pengelolaan destinasi tersebut.
Sistem kerja dibuat fleksibel karena sebagian pemuda masih memiliki pekerjaan lain sebagai buruh. Mereka tidak harus bekerja setiap hari dan dapat bergantian sesuai kebutuhan wisata.
"Kalau untuk anak-anak lainnya yang kerja di sini tidak setiap hari sama. Kadang ganti si A, atau ada si B dan yang lain," katanya.
Keberadaan wisata tersebut turut menghidupkan interaksi para pemuda di kawasan. Ketika ada wisatawan yang berkemah, pemuda setempat ikut memastikan kawasan tetap aman dan nyaman.
Pendapatan Wisata Kembali ke Desa
Manfaat ekonomi Lembah Oya Kedungjati tidak hanya dirasakan oleh para pemuda yang terlibat langsung dalam pengelolaan. Sebagian pendapatan wisata dikelola Karang Taruna dan masuk ke kas desa.
Dana tersebut kemudian dapat digunakan untuk mendukung kebutuhan pembangunan maupun kegiatan masyarakat. Hardi mencontohkan pembangunan gapura Selamat Datang Desa Kedungjati yang turut didukung dari pendapatan wisata.
Ketika terdapat kebutuhan perbaikan akses jalan, pengelola juga memberikan anggaran. Dukungan serupa diberikan untuk kegiatan sosial dan budaya masyarakat.
Dalam kegiatan Merti Dusun berupa kirab budaya yang digelar empat tahunan, pengelola memberikan dukungan dana sebesar Rp17 juta.
"Alhamdulillah, semenjak ada wisata ini kemajuan desa sangat terbantu. Jadi manfaat wisata memang kembali ke warga," ujarnya.
Lembah Oya Kedungjati mengandalkan kano sebagai layanan utama. Pengunjung dapat menikmati kano dengan tarif Rp10.000 per orang untuk durasi 15 menit.
Wisatawan yang ingin bermain air dapat menyewa pelampung dengan tarif Rp5.000. Sementara itu, tarif camping dipatok Rp10.000 per orang, dengan perlengkapan yang bisa dibawa sendiri maupun disewa.
"Tidal ada toket masuk, pengunjung hanya membayar biaya penitipan sepeda motor sebesar Rp5.000," kata Hardi.
Pernah Sepi, Kini Dikunjungi Wisatawan dari Luar DIY
Perjalanan Lembah Oya Kedungjati tidak selalu berjalan mulus. Destinasi tersebut sempat mengalami penurunan kunjungan setelah terjadi kecelakaan air di kawasan Jembatan Oren pada 2023.
Menurut Hardi, pemberitaan yang keliru mengenai lokasi kejadian turut berdampak terhadap kunjungan wisata. Namun, kondisi perlahan berubah setelah sejumlah kegiatan dan konten media sosial kembali memperkenalkan kawasan tersebut kepada publik.
Pada 2024, kegiatan mahasiswa KKN yang menggelar acara di tengah bebatuan sungai ikut menarik perhatian masyarakat dan membuat kunjungan kembali meningkat.
Kini wisatawan yang datang tidak hanya berasal dari Bantul dan wilayah DIY. Rombongan wisatawan dari Jawa Barat, Jawa Timur, Jakarta hingga Bogor pernah berkunjung.
Wisatawan mancanegara juga beberapa kali datang, di antaranya dari Brasil dan Rusia.
Meski kunjungan terus berkembang, Hardi menyadari Lembah Oya Kedungjati masih memiliki tantangan sebagai destinasi wisata berbasis sungai. Saat musim hujan tiba dan debit air meningkat, kawasan tersebut harus ditutup demi keselamatan pengunjung.
Karena itu, pengelola tengah menyiapkan pengembangan aktivitas susur sungai menggunakan perahu karet. Konsep rafting tersebut diharapkan dapat memperluas pilihan aktivitas wisata sehingga destinasi tidak sepenuhnya bergantung pada kondisi musim kemarau.
"Harapannya wisata ini tidak cuma di musim kemarau. Ketika musim hujan dan arusnya tidak terlalu deras, kami bisa memanfaatkan sungai dengan rafting atau susur sungai," katanya.
Rencana tersebut sekaligus menjadi upaya memperpanjang manfaat ekonomi wisata bagi warga Selopamioro. Semakin banyak aktivitas yang dapat dilakukan dengan tetap memperhatikan keamanan dan kelestarian alam, semakin besar pula peluang keterlibatan masyarakat lokal.
Bagi pemuda Selopamioro, Lembah Oya Kedungjati akhirnya bukan hanya tentang kedatangan wisatawan. Destinasi itu telah membuka pekerjaan dan pendapatan, mendukung kegiatan sosial, serta menjadi ruang bagi anak-anak muda untuk mengelola potensi kampung mereka sendiri.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Nelayan Bantul kembali melaut setelah gelombang tinggi mereda. BMKG mengingatkan potensi gelombang 2,5-4 meter di perairan selatan DIY.
Cek Kesehatan Gratis atau CKG telah menjangkau 99,1 juta jiwa pada 2026 dan ditargetkan mencapai 130 juta jiwa.
Buruh masih mengawal 10 isu dalam RUU Pelindungan Ketenagakerjaan, mulai dari upah, PHK, outsourcing hingga JKP.
Jamsostek Award 2026 DIY memberikan penghargaan kepada pemda, kalurahan, serta perusahaan. Simak daftar lengkap para penerimanya.
Lembah Oya Kedungjati di Selopamioro, Bantul, membuka peluang kerja dan pendapatan bagi pemuda sekaligus menggerakkan ekonomi desa.
Geely dan NIO memperkuat bisnis baterai dan charging dengan investasi Rp1,7 triliun serta pengembangan teknologi battery swapping.