Dad Jokes Ternyata Baik untuk Otak, Ini Penjelasan Ilmiahnya
Dad jokes ternyata bermanfaat untuk kesehatan otak. Tertawa bisa menurunkan stres dan meningkatkan hormon bahagia.
Ilustrasi katarak (Freepik)
Harianjogja.com, JAKARTA—Kondisi mata yang kerap berair sering kali dianggap sepele. Namun, jika di saat bersamaan mata justru terasa kering, kondisi ini perlu diwaspadai, terutama bagi Anda yang sehari-hari banyak beraktivitas di depan layar digital atau terpapar polusi udara.
Dokter spesialis mata dari Marengo Asia Hospitals, Gurgaon, Dr. Shibal Bhartiya, menjelaskan bahwa mata berair tidak selalu berarti mata dalam kondisi sehat. Justru, hal itu bisa menjadi tanda adanya gangguan pada lapisan pelindung mata.
“Mata yang terus berair namun didiagnosis sebagai mata kering memang terdengar kontradiktif, tetapi sebenarnya kondisi ini cukup umum terjadi,” ujarnya dikutip dari Antara, Kamis (25/6/2026)
Menurut Bhartiya, kebiasaan menatap layar gadget dalam waktu lama membuat frekuensi berkedip berkurang drastis, bahkan hanya sepertiga dari kondisi normal. Padahal, kedipan berfungsi penting untuk menyebarkan air mata secara merata di permukaan mata.
Akibatnya, kelenjar minyak di kelopak mata bisa tersumbat dan lapisan air mata menjadi tidak stabil. Kondisi ini diperparah oleh paparan polusi udara, ruangan ber-AC, serta aktivitas harian yang padat, seperti perjalanan jauh.
Ia menjelaskan bahwa air mata terdiri dari tiga komponen utama, yaitu minyak, air, dan lendir (mukus). Ketiga lapisan ini bekerja bersama menjaga kelembapan dan kenyamanan mata. Jika salah satu terganggu, mata akan mengirim sinyal ke otak untuk memproduksi air mata secara berlebihan.
Respons ini dikenal sebagai reflex tearing, yaitu produksi air mata secara berlebihan sebagai bentuk perlindungan. Namun, air mata yang dihasilkan tidak cukup efektif untuk melumasi mata secara optimal, sehingga mata tetap terasa kering meskipun tampak berair.
Beberapa gejala yang perlu diwaspadai antara lain mata berair yang semakin parah di malam hari, sensasi terbakar atau perih, penglihatan kabur yang membaik setelah berkedip, hingga sensitivitas terhadap angin atau udara dingin dari pendingin ruangan.
Selain itu, mata juga bisa terasa lelah meskipun tubuh telah mendapatkan istirahat yang cukup.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, Bhartiya menyarankan beberapa langkah sederhana, seperti mengompres mata dengan air hangat, mengonsumsi suplemen omega-3, serta membatasi waktu penggunaan layar digital.
Ia juga menekankan pentingnya membiasakan diri berkedip secara sadar saat menggunakan gadget untuk menjaga kelembapan mata.
Jika gejala berlangsung lebih dari dua minggu, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter mata untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.
“Jangan hanya mengandalkan obat tetes mata tanpa pemeriksaan, karena bisa saja kondisi yang dialami membutuhkan penanganan lebih lanjut,” kata Bhartiya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Dad jokes ternyata bermanfaat untuk kesehatan otak. Tertawa bisa menurunkan stres dan meningkatkan hormon bahagia.
Kemendag memberi masa transisi hingga 18 bulan bagi seller marketplace mengurus NIB sesuai Permendag Nomor 19 Tahun 2026.
Hasil Rapat Dewan Komisioner (RDK) pada 22 Juni 2026, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memutuskan untuk menetapkan Tingkat Bunga Penjaminan (TBP) sebesar 3,75%
Disdukcapil Gunungkidul menggelar layanan one day service di Karangwuni. Sebanyak 97 warga telah mengaktivasi IKD hingga Kamis pagi.
Penataan Pantai Sepanjang Gunungkidul masih berlanjut. Pemkab membutuhkan sekitar Rp16 miliar untuk jalan, kios, trotoar, dan parkir.
Berawal dari modal Rp4,3 juta, Djoen Leather di Bantul sukses menembus pasar dunia. Simak kisah UMKM binaan BNI yang berkembang hingga pasar ekspor.