Tak Cuma Bikin Gemuk, Kebiasaan Ngemil Berlebihan Bisa Rusak Jantung

Jumali
Jumali Senin, 29 Juni 2026 21:37 WIB
Tak Cuma Bikin Gemuk, Kebiasaan Ngemil Berlebihan Bisa Rusak Jantung

Ngemil bareng anak. - Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Kebiasaan ngemil telah menjadi bagian dari gaya hidup banyak orang. Di sela pekerjaan, saat menonton film, atau ketika bersantai, camilan sering menjadi pilihan untuk mengusir rasa lapar maupun sekadar mencari hiburan. Namun di balik rasanya yang lezat, konsumsi makanan ringan secara berlebihan dapat membawa dampak negatif bagi kesehatan jika tidak dikendalikan.

Makanan ringan pada dasarnya berfungsi sebagai pengganjal perut di antara waktu makan utama. Akan tetapi, banyak jenis camilan yang beredar di pasaran mengandung kalori tinggi, gula berlebih, garam, dan lemak jenuh, tetapi miskin nutrisi penting bagi tubuh. Jika dikonsumsi terus-menerus dalam jumlah besar, kebiasaan ini dapat memicu berbagai masalah kesehatan.

Salah satu dampak yang paling sering terjadi adalah kenaikan berat badan. Dilansir dari Alodokter, camilan seperti keripik, biskuit, cokelat, atau makanan cepat saji mengandung kalori yang cukup tinggi. Ketika asupan kalori melebihi kebutuhan tubuh dan tidak diimbangi aktivitas fisik yang memadai, kelebihan energi tersebut akan disimpan sebagai lemak.

Kenaikan berat badan yang berlangsung terus-menerus dapat meningkatkan risiko obesitas. Kondisi ini tidak hanya memengaruhi penampilan, tetapi juga menjadi faktor risiko berbagai penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, hingga penyakit jantung.

Konsumsi camilan tinggi gula juga berpotensi mengganggu kestabilan kadar gula darah. Makanan manis dapat menyebabkan lonjakan gula darah secara cepat yang kemudian diikuti penurunan drastis. Kondisi ini sering membuat seseorang kembali merasa lapar dan terdorong untuk mengonsumsi makanan manis dalam jumlah lebih banyak.

Dalam jangka panjang, kebiasaan tersebut dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 2. Asupan gula berlebih membuat tubuh harus memproduksi insulin dalam jumlah besar secara terus-menerus sehingga meningkatkan risiko terjadinya resistensi insulin.

Selain itu, makanan ringan yang mengandung lemak trans dan lemak jenuh dapat meningkatkan kadar kolesterol jahat (LDL) dalam darah. Penumpukan kolesterol di pembuluh darah dapat mempersempit aliran darah dan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, termasuk penyakit jantung koroner dan stroke.

Masalah lain yang kerap muncul adalah gangguan pencernaan. Banyak camilan olahan mengandung sedikit serat sehingga kurang mendukung kesehatan sistem pencernaan. Akibatnya, risiko sembelit dan gangguan saluran cerna lainnya menjadi lebih tinggi.

Kesehatan gigi juga dapat terdampak. Kandungan gula pada permen, cokelat, maupun camilan manis lainnya menjadi sumber makanan bagi bakteri di dalam mulut. Bakteri tersebut menghasilkan asam yang dapat merusak lapisan email gigi dan memicu gigi berlubang.

Konsumsi camilan secara berlebihan juga berpotensi menyebabkan ketidakseimbangan gizi. Saat seseorang terlalu sering merasa kenyang karena camilan, porsi makanan utama yang mengandung protein, vitamin, dan mineral penting bisa berkurang. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat mengganggu pemenuhan kebutuhan nutrisi harian.

Tidak hanya itu, makanan ringan yang tinggi gula dan garam sering kali memicu efek ketagihan. Kombinasi rasa manis, asin, dan gurih dapat merangsang pelepasan dopamin di otak yang menimbulkan rasa senang, sehingga mendorong seseorang untuk terus mengonsumsinya.

Kandungan natrium yang tinggi pada berbagai camilan kemasan juga berpotensi meningkatkan tekanan darah. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi ini dapat berkembang menjadi hipertensi yang menjadi faktor risiko utama penyakit jantung dan stroke.

Meski mampu memberikan energi instan, camilan tinggi gula umumnya hanya menghasilkan energi dalam waktu singkat. Setelah kadar gula darah kembali turun, tubuh justru bisa merasa lebih lemas dan kurang bertenaga dibanding sebelumnya.

Lebih jauh lagi, konsumsi makanan olahan secara berlebihan dapat memicu peradangan kronis di dalam tubuh. Peradangan jangka panjang diketahui berkaitan dengan peningkatan risiko berbagai penyakit serius, termasuk penyakit jantung, stroke, dan beberapa jenis kanker.

Meski demikian, bukan berarti masyarakat harus sepenuhnya menghindari camilan. Kuncinya adalah memilih jenis camilan yang lebih sehat dan mengonsumsinya secara bijak. Buah segar, kacang-kacangan tanpa tambahan garam, yogurt rendah gula, maupun cokelat hitam dapat menjadi alternatif yang lebih baik.

Membatasi porsi, membaca informasi nilai gizi pada kemasan, serta memastikan kebutuhan nutrisi utama tetap terpenuhi melalui makanan bergizi seimbang merupakan langkah sederhana untuk menjaga kesehatan. Dengan pola konsumsi yang tepat, camilan tetap dapat dinikmati tanpa harus mengorbankan kesehatan dalam jangka panjang.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online