Ciri Love Scam, Jangan Sampai Jadi Korban Penipuan Berkedok Cinta

Jumali
Jumali Kamis, 04 Juni 2026 09:57 WIB
Ciri Love Scam, Jangan Sampai Jadi Korban Penipuan Berkedok Cinta

Ilustrasi Tinder/Freepik\r\n

Harianjogja.com, JOGJA— Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap love scam atau penipuan berkedok hubungan asmara yang memanfaatkan platform digital dan aplikasi kencan daring.

Kepala Eksekutif Pengawasan Perilaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Perlindungan Konsumen OJK, Friderica Widyasari Dewi, mengatakan love scam merupakan kejahatan lintas negara yang memanfaatkan hubungan emosional untuk memperoleh keuntungan finansial dari korban.

Menurutnya, pelaku biasanya membangun kedekatan secara intens dengan korban hingga tercipta rasa percaya dan hubungan yang dianggap spesial. Setelah itu, korban dibujuk untuk mengirimkan sejumlah uang dengan berbagai alasan.

“Para korban dimanipulasi emosinya sehingga merasa memiliki hubungan yang khusus. Akibatnya, korban secara sukarela mentransfer sejumlah uang kepada pelaku,” ujar Friderica dikutip Kamis (4/6/2026).

Modus ini umumnya berawal dari aplikasi atau situs kencan daring. Setelah komunikasi berjalan intensif, pelaku biasanya mengajak korban berpindah ke saluran komunikasi pribadi seperti WhatsApp, Telegram, email, atau telepon.

Tujuannya untuk menghindari pengawasan dan sistem keamanan yang dimiliki platform tempat mereka pertama kali berkenalan.

Berdasarkan informasi dari Komisi Perdagangan Federal Amerika Serikat (FTC), pelaku love scam akan berusaha membangun kepercayaan korban melalui komunikasi yang intens dan romantis. Setelah korban merasa dekat, pelaku mulai meminta uang dengan berbagai alasan, mulai dari biaya perjalanan, kebutuhan medis, pengurusan dokumen, hingga investasi palsu.

Ciri-Ciri Love Scam yang Perlu Diwaspadai

Masyarakat perlu mengenali sejumlah tanda yang umum ditemukan dalam kasus love scam, antara lain:

  1. Menghindari pertemuan langsung. Pelaku selalu memiliki alasan untuk menolak bertemu atau melakukan panggilan video.
  2. Meminta uang. Permintaan dana dapat disampaikan dengan berbagai alasan, termasuk keadaan darurat atau kebutuhan investasi.
  3. Cerita tidak konsisten. Informasi mengenai pekerjaan, tempat tinggal, atau latar belakang pribadi sering berubah-ubah.
  4. Hubungan berkembang terlalu cepat. Pelaku cenderung terburu-buru menyatakan perasaan atau mengajak korban berkomunikasi di luar aplikasi resmi.
  5. Menggunakan foto profil mencurigakan. Foto yang digunakan sering kali merupakan hasil pencurian dari internet atau akun orang lain.

Cara Menghindari Love Scam

Untuk meminimalkan risiko menjadi korban, masyarakat disarankan melakukan beberapa langkah pencegahan berikut:

  • Jangan pernah mengirimkan uang kepada seseorang yang belum pernah ditemui secara langsung.
  • Hentikan komunikasi apabila mulai muncul permintaan dana atau tanda-tanda mencurigakan.
  • Diskusikan hubungan yang dijalani dengan keluarga atau teman dekat untuk mendapatkan sudut pandang yang lebih objektif.
  • Lakukan penelusuran identitas melalui mesin pencari untuk memverifikasi informasi yang diberikan.
  • Periksa keaslian foto profil menggunakan fitur reverse image search.

OJK mengingatkan bahwa hubungan yang dibangun secara daring tetap memerlukan kewaspadaan. Masyarakat diharapkan tidak mudah terbawa emosi dan selalu melakukan verifikasi terhadap identitas maupun informasi yang diberikan oleh orang yang baru dikenal melalui internet.

Selain menimbulkan kerugian finansial, kasus love scam juga dapat berdampak pada kesehatan mental korban akibat rasa kehilangan, trauma, dan hilangnya kepercayaan terhadap orang lain. Karena itu, kewaspadaan menjadi langkah penting untuk mencegah terjadinya penipuan berkedok hubungan asmara.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online