Indonesia Jadi Pendiri Organisasi AI Dunia, Roadmap Disiapkan

Anggara Pernando
Anggara Pernando Minggu, 19 Juli 2026 09:27 WIB
Indonesia Jadi Pendiri Organisasi AI Dunia, Roadmap Disiapkan

Artificial Intelligence alias kecerdasan buatan - Ilustrasi/Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA—Indonesia resmi bergabung sebagai salah satu negara pendiri World Artificial Intelligence Cooperation Organization (WAICO), organisasi antarpemerintah yang dibentuk untuk memperkuat tata kelola kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI) di tingkat global. Keikutsertaan Indonesia juga menjadi langkah strategis dalam mempercepat penyusunan peta jalan atau roadmap AI nasional yang diharapkan dapat dimanfaatkan oleh berbagai sektor, termasuk pelaku usaha dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat posisi Indonesia dalam pengembangan teknologi masa depan sekaligus membuka peluang yang lebih besar terhadap transfer teknologi, kolaborasi riset, dan peningkatan investasi di sektor ekonomi digital.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan keputusan Indonesia menjadi negara pendiri WAICO merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat pengembangan dan pemanfaatan AI di dalam negeri.

"Kehadiran Indonesia dalam organisasi tersebut diharapkan dapat mendorong menjembatani kesenjangan teknologi sekaligus memperkuat pengembangan AI yang aman, tepercaya, dan beretika," ujar Airlangga dalam paparan media melalui Zoom, Jumat (17/7/2026).

Menurut Airlangga, pemerintah saat ini tengah menyusun roadmap AI nasional yang akan menjadi acuan pengembangan teknologi kecerdasan buatan di berbagai sektor. Peta jalan tersebut diharapkan mampu mendorong pemanfaatan AI secara lebih luas dengan tetap mengedepankan aspek keamanan, etika, dan kebermanfaatan bagi masyarakat.

Bergabungnya Indonesia ke dalam WAICO juga diharapkan memperkuat akses terhadap transfer teknologi dari negara-negara lain, memperluas kerja sama riset, serta membuka kesempatan yang lebih besar bagi dunia usaha untuk mengadopsi teknologi AI dalam meningkatkan produktivitas dan daya saing.

Dalam rapat terbatas pada 13 Juli 2026, pemerintah memutuskan Indonesia ikut mendirikan WAICO bersama sejumlah negara lain. Hingga saat ini, sebanyak 29 negara telah menandatangani pembentukan organisasi tersebut, di antaranya Malaysia, Kamboja, Rusia, Kuba, dan Oman. Jumlah negara pendiri masih berpotensi bertambah hingga batas waktu penandatanganan pada 31 Juli 2026.

Perkuat Tata Kelola AI Global

Pembentukan WAICO diumumkan dalam pembukaan World Artificial Intelligence Conference (WAIC) 2026 di Shanghai yang dihadiri Presiden Tiongkok Xi Jinping, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres, serta para pemimpin dari negara-negara pendiri lainnya.

Dalam pidatonya, Xi Jinping menegaskan pengembangan teknologi AI seharusnya dilakukan melalui kolaborasi internasional dan tidak didominasi oleh satu negara saja.

"Pengembangan AI tidak seharusnya menjadi 'a solo performance' oleh satu negara, melainkan 'a symphony of global collaboration'," kata Xi Jinping.

WAICO dibentuk sebagai organisasi internasional antarpemerintah yang mengusung prinsip Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, yakni inklusif dan berpusat pada manusia (human-centered). Organisasi tersebut bertujuan memperkuat kerja sama internasional dalam tata kelola AI agar teknologi yang dikembangkan tetap aman, tepercaya, beretika, serta mampu memberikan manfaat secara merata bagi berbagai negara.

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres turut menyambut pembentukan WAICO sebagai wadah kerja sama global untuk mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) melalui pemanfaatan AI yang inklusif dan bertanggung jawab.

Bagi Indonesia, keikutsertaan sebagai negara pendiri juga dinilai penting untuk memastikan kepentingan negara berkembang memperoleh ruang dalam penyusunan tata kelola AI global. Langkah tersebut diharapkan dapat membantu menjembatani kesenjangan teknologi yang selama ini masih menjadi tantangan di berbagai negara.

Selain penguatan kerja sama AI, Airlangga mengungkapkan hubungan ekonomi digital Indonesia dan Tiongkok juga terus diperkuat. Dalam kunjungannya ke Shanghai, pemerintah menandatangani nota kesepahaman dengan Menteri Perdagangan Tiongkok Wang Wentao terkait evaluasi kerja sama industri dan perdagangan, termasuk sektor ekonomi digital.

Nilai perdagangan Indonesia dan Tiongkok saat ini mencapai sekitar 160 miliar dolar AS. Sementara itu, investasi langsung Tiongkok ke Indonesia tercatat sekitar 7 miliar dolar AS, belum termasuk investasi melalui Hong Kong yang mencapai sekitar 10 miliar dolar AS.

Dalam agenda kunjungan tersebut, Airlangga juga dijadwalkan bertemu dengan sejumlah mitra strategis, termasuk Huawei dan BYD, guna membahas peluang kerja sama pengembangan teknologi serta investasi di bidang kecerdasan buatan. Penguatan kolaborasi tersebut diharapkan dapat mendukung percepatan transformasi digital Indonesia dan membuka lebih banyak peluang pemanfaatan AI bagi masyarakat maupun dunia usaha di masa mendatang.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Artikel Penulis