Pameran Dark Garden Terawang Iklim di Masa Depan

Galih Eko Kurniawan
Galih Eko Kurniawan Minggu, 19 Juli 2026 22:37 WIB
Pameran Dark Garden Terawang Iklim di Masa Depan

Karya seni yang dipamerkan dalam Dark Garden: Living in Paradox, Growing in Networks di Loka Carita, Nitiprayan, Kasihan, Bantul. - Harian Jogja/Ist

Harianjogja.com, BANTUL—Sedikitnya 16 seniman internasional menggelar karya dalam pameran Dark Garden: Living in Paradox, Growing in Networks yang mengangkat persepsi mereka terhadap iklim di masa depan.

Pameran ini menjadi puncak dari program Climate Futures Incubator (CFI) 2026 yang resmi dibuka pada 19 Juli 2026 pukul 19.00 WIB di Loka Carita, Nitiprayan, Kasihan, Bantul yang akan berlangsung sampai 2 Agustus 2026.

Koordinator proyek CFI, Michael Chew, menuturkan CFI 2026 antara lain melibatkan tiga seniman Indonesia dan tiga seniman Australia yang mengikuti program inkubasi secara langsung di Jogja serta 10 seniman daring dari Indonesia, Australia dan Italia.

“Melalui karya seni, pameran ini mencoba mengajak publik untuk peduli dengan lingkungan. Semua yang terlibat di pameran ini sepakat iklim akan kacau apabila tidak ada kepedulian sejak sekarang,” tuturnya seusai artist talk di Loka Carita, Minggu (19/7/2026).

CFI 2026 merupakan program inkubasi, residensi, dan pameran seni yang mempertemukan praktisi seni, peneliti, akademisi dan komunitas dari Indonesia dan Australia dalam sebuah ruang kolaborasi berbasis iklim yang adil.

Program ini memandang perubahan iklim bukan hanya persoalan lingkungan, melainkan juga isu sosial, budaya, ekonomi dan keadilan yang memengaruhi kehidupan masyarakat secara tidak merata.

CFI menjadi kolaborasi asli Australia-Indonesia yang dirancang bersama dengan kolektif seniman Yogyakarta House of Natural Fiber dan terhubung dengan situs serta komunitas lokal.

Para seniman yang terlibat seperti Hana Hanraisy, Ragil Dwi Putra, Jahan Xanlü, Panda Wong, Sarah Taylor, Paul Kiram dan Lisa Speed. Mereka yang terlibat membawa perspektif unik dari riset lapangan di berbagai lokasi.

Hana Hanraisy dari Majalengka misalnya, merespons perubahan lanskap akibat konversi komoditas dan hilangnya identitas lokal. Ragil Dwi Putra dari Jakarta mengangkat isu ekstraksi batu gamping untuk pembangunan kota.

Lisa, yang berasal dari Australia, membuat sebuah meja berbahan kayu trembesi berusia 30 tahun yang berasal dari Sungai Code. Sebagai kaki-kaki mejanya, Lisa mengumpulkan batu-batu dari enam sungai yang ada di DIY.

Art director Dark Garden, Irene Agrivina, memaparkan residensi berlangsung selama sebulan sebelum akhirnya karya-karya dipamerkan sepanjang Juli 2026 ini. Para seniman dibebaskan mencari ide-ide, termasuk ke mana saja mereka akan mencari ide.

Kurator pameran, Arami Kasih, menjelaskan Dark Garden berangkat dari kesadaran bahwa manusia hidup di tengah paradoks ketika pengetahuan dan kepedulian terhadap perubahan iklim terus berkembang, berbagai tindakan yang memperparah krisis juga terus berlangsung.

“Dark Garden mengajak semua mengakui hidup dalam sebuah paradoks. Di tengah meningkatnya kesadaran terhadap perubahan iklim, juga menyaksikan berbagai tindakan yang terus memperparah krisis,” tuturnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Galih Eko Kurniawan
Galih Eko Kurniawan Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online