Ada Program Sertakan BPJamsostek, Perusahaan di Jogja Diajak Lindungi Pekerja Informal
BPJS Ketenagakerjaan Yogyakarta mengajak 45 perusahaan memperluas perlindungan pekerja informal melalui program Sertakan dan CSR.
Ilustrasi. /Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA — Sebuah penelitian terbaru membuka peluang baru dalam deteksi dini gangguan fungsi otak. Bukan melalui tes rumit, melainkan dari aktivitas sederhana yang sering dilakukan sehari-hari: menulis tangan.
Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Human Neuroscience ini mengungkap bahwa kecepatan dan pola tulisan tangan dapat menjadi indikator awal penurunan fungsi kognitif, khususnya pada kelompok lanjut usia (lansia).
Peneliti utama, Dr. Ana Rita Matias dari University of Évora, Portugal, menjelaskan bahwa menulis bukan sekadar aktivitas fisik, tetapi melibatkan kerja kompleks otak.
“Menulis membutuhkan koordinasi gerakan halus sekaligus proses kognitif seperti memahami bahasa, memori kerja, dan pengolahan informasi,” jelasnya dikutip dari Antara, Sabtu (22/5/2026)
Uji pada Lansia, Hasilnya Mengejutkan
Penelitian ini melibatkan 58 lansia berusia 62 hingga 92 tahun yang tinggal di fasilitas perawatan. Dari jumlah tersebut, 38 peserta telah didiagnosis mengalami gangguan kognitif.
Para peserta diminta menjalani serangkaian tugas menggunakan pena digital dan tablet, mulai dari menggambar garis sederhana hingga menulis kalimat berdasarkan dikte.
Hasilnya, tugas sederhana seperti menggambar garis tidak menunjukkan perbedaan signifikan. Namun, saat diminta menulis berdasarkan dikte, perbedaan mulai terlihat jelas.
Pola Tulisan Jadi Petunjuk
Pada peserta dengan gangguan kognitif, pola tulisan cenderung lebih lambat, terputus-putus, dan kurang terkoordinasi.
Beberapa indikator penting yang diamati meliputi:
Peneliti menilai perubahan ini berkaitan erat dengan penurunan fungsi memori kerja dan kontrol eksekutif di otak.
Berpotensi Jadi Alat Deteksi Dini
Menariknya, metode ini dinilai praktis dan berpotensi menjadi alat skrining awal yang mudah diterapkan. Cukup dengan perangkat digital sederhana, tenaga kesehatan dapat memantau perubahan fungsi kognitif secara non-invasif.
Pendekatan ini juga dinilai lebih ramah bagi lansia karena tidak memerlukan prosedur medis yang kompleks.
Masih Perlu Pengembangan
Meski menjanjikan, para peneliti menegaskan bahwa metode ini masih dalam tahap awal pengembangan. Diperlukan penelitian lanjutan dengan jumlah peserta yang lebih besar dan beragam untuk memastikan akurasi hasil.
Selain itu, faktor lain seperti pengaruh obat-obatan juga belum sepenuhnya diperhitungkan dalam studi ini.
Ke depan, teknologi berbasis analisis tulisan tangan diharapkan dapat menjadi alat pemeriksaan cepat dalam layanan kesehatan sehari-hari. Dengan deteksi yang lebih dini, penanganan gangguan kognitif pun bisa dilakukan lebih cepat dan tepat.
Temuan ini sekaligus menegaskan bahwa hal sederhana seperti tulisan tangan bisa menyimpan informasi penting tentang kondisi kesehatan otak manusia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
BPJS Ketenagakerjaan Yogyakarta mengajak 45 perusahaan memperluas perlindungan pekerja informal melalui program Sertakan dan CSR.
Bupati Sleman Harda Kiswaya meminta petugas meningkatkan kesiapsiagaan drainase, irigasi, dan infrastruktur air menghadapi musim hujan.
PSI Singapura masuk kategori tidak sehat menjelang F1 2026. FIA menyebut balapan tetap diperkirakan berjalan, tetapi hiburan bisa dibatasi.
Claude Haiku 5.5 resmi dirilis dengan harga mulai Rp1.791 per 1 juta token dan dirancang untuk pekerjaan AI berulang dalam volume besar.
Persib dan Borneo FC langsung ke perempat final League Cup 2026/2027. Sebanyak 36 klub berebut enam tiket tersisa.
Suzuki V-Strom SX mendapat warna baru di India dengan harga sekitar Rp38 juta. Mesin 249 cc tetap dipertahankan.