Marbot di Sleman Dapat Santunan BPJamsostek Rp42 Juta di Milad DMI
Milad ke-54 DMI Sleman diwarnai penyerahan santunan Rp42 juta kepada marbot. Program perlindungan ini hasil kolaborasi BPJamsostek, Baznas, BSI, dan Pemkab Slem
Ilustrasi. /Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA — Sebuah penelitian terbaru membuka peluang baru dalam deteksi dini gangguan fungsi otak. Bukan melalui tes rumit, melainkan dari aktivitas sederhana yang sering dilakukan sehari-hari: menulis tangan.
Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Human Neuroscience ini mengungkap bahwa kecepatan dan pola tulisan tangan dapat menjadi indikator awal penurunan fungsi kognitif, khususnya pada kelompok lanjut usia (lansia).
Peneliti utama, Dr. Ana Rita Matias dari University of Évora, Portugal, menjelaskan bahwa menulis bukan sekadar aktivitas fisik, tetapi melibatkan kerja kompleks otak.
“Menulis membutuhkan koordinasi gerakan halus sekaligus proses kognitif seperti memahami bahasa, memori kerja, dan pengolahan informasi,” jelasnya dikutip dari Antara, Sabtu (22/5/2026)
Uji pada Lansia, Hasilnya Mengejutkan
Penelitian ini melibatkan 58 lansia berusia 62 hingga 92 tahun yang tinggal di fasilitas perawatan. Dari jumlah tersebut, 38 peserta telah didiagnosis mengalami gangguan kognitif.
Para peserta diminta menjalani serangkaian tugas menggunakan pena digital dan tablet, mulai dari menggambar garis sederhana hingga menulis kalimat berdasarkan dikte.
Hasilnya, tugas sederhana seperti menggambar garis tidak menunjukkan perbedaan signifikan. Namun, saat diminta menulis berdasarkan dikte, perbedaan mulai terlihat jelas.
Pola Tulisan Jadi Petunjuk
Pada peserta dengan gangguan kognitif, pola tulisan cenderung lebih lambat, terputus-putus, dan kurang terkoordinasi.
Beberapa indikator penting yang diamati meliputi:
Peneliti menilai perubahan ini berkaitan erat dengan penurunan fungsi memori kerja dan kontrol eksekutif di otak.
Berpotensi Jadi Alat Deteksi Dini
Menariknya, metode ini dinilai praktis dan berpotensi menjadi alat skrining awal yang mudah diterapkan. Cukup dengan perangkat digital sederhana, tenaga kesehatan dapat memantau perubahan fungsi kognitif secara non-invasif.
Pendekatan ini juga dinilai lebih ramah bagi lansia karena tidak memerlukan prosedur medis yang kompleks.
Masih Perlu Pengembangan
Meski menjanjikan, para peneliti menegaskan bahwa metode ini masih dalam tahap awal pengembangan. Diperlukan penelitian lanjutan dengan jumlah peserta yang lebih besar dan beragam untuk memastikan akurasi hasil.
Selain itu, faktor lain seperti pengaruh obat-obatan juga belum sepenuhnya diperhitungkan dalam studi ini.
Ke depan, teknologi berbasis analisis tulisan tangan diharapkan dapat menjadi alat pemeriksaan cepat dalam layanan kesehatan sehari-hari. Dengan deteksi yang lebih dini, penanganan gangguan kognitif pun bisa dilakukan lebih cepat dan tepat.
Temuan ini sekaligus menegaskan bahwa hal sederhana seperti tulisan tangan bisa menyimpan informasi penting tentang kondisi kesehatan otak manusia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Milad ke-54 DMI Sleman diwarnai penyerahan santunan Rp42 juta kepada marbot. Program perlindungan ini hasil kolaborasi BPJamsostek, Baznas, BSI, dan Pemkab Slem
Cek harga emas Antam, UBS, dan Galeri 24 di Pegadaian Minggu 23 Agustus 2026, lengkap dengan harga jual dan buyback
BMKG memprakirakan mayoritas wilayah Indonesia cerah berawan pada Minggu, termasuk Jogja. Sejumlah daerah berpotensi hujan dan kabut.
Cek rute dan tarif Trans Jogja 2026, mulai Rp500 untuk pelajar hingga Rp3.500 untuk pembayaran tunai.
Ole Romeny mendapat kartu merah saat Fortuna Sittard kalah 0-2 dari AZ Alkmaar. Justin Hubner tampil membela Fortuna hingga pertandingan berakhir.
Bayern Muenchen mengalahkan Borussia Dortmund 2-1 dan menjadi juara Piala Super Jerman 2026 dalam laga Der Klassiker.