Bersih Kandang Wajib Pakai Masker! Virus Hanta Bisa Mematikan

Jumali
Jumali Kamis, 07 Mei 2026 22:07 WIB
Bersih Kandang Wajib Pakai Masker! Virus Hanta Bisa Mematikan

Ilustrasi hewan pengerat./JIBI

Harianjogja.com, JOGJA— Aktivitas sederhana seperti membersihkan gudang, lumbung, atau ruangan lama ternyata bisa memicu ancaman kesehatan serius. Epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman, mengingatkan masyarakat agar tidak meremehkan debu bercampur kotoran tikus karena dapat menularkan virus hanta, penyakit langka yang mampu menyebabkan gagal napas akut dengan tingkat kematian tinggi.

Ancaman ini dinilai perlu diwaspadai terutama oleh warga yang tinggal di lingkungan padat, area persawahan, pelabuhan, gudang penyimpanan, hingga rumah yang memiliki populasi tikus cukup tinggi. Penularan virus hanta disebut dapat terjadi hanya melalui udara yang terhirup saat debu terkontaminasi beterbangan.

Dicky Budiman menjelaskan virus hanta atau hantavirus umumnya menyebar melalui partikel kecil dari urine, air liur, dan feses tikus yang mengering. Saat area kotor dibersihkan tanpa perlindungan, partikel tersebut dapat masuk ke saluran pernapasan manusia.

“Cara penularan utamanya itu inhalasi aerosol, jadi terhirup dari debu urine yang mengering, feses tikus, ataupun air liur tikus yang sakit itu,” ujar Dicky, dikutip Kamis (7/5/2026).

Selain melalui udara, risiko penularan juga bisa muncul dari kontak langsung dengan permukaan yang sudah terkontaminasi. Meski begitu, penularan antarmanusia disebut sangat jarang dan hanya terjadi pada jenis virus tertentu seperti strain Andes.

Virus hanta dapat memicu Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), penyakit yang menyerang paru-paru dan pembuluh darah. Kondisi ini menyebabkan cairan memenuhi paru-paru sehingga tubuh mengalami kekurangan oksigen secara drastis.

Dalam dunia medis, kondisi tersebut dikenal sebagai vascular leakage syndrome atau sindrom kebocoran pembuluh darah. Dampaknya tidak hanya menyebabkan sesak napas berat, tetapi juga berpotensi memicu gagal napas akut dalam waktu singkat.

Gejala awal infeksi umumnya terlihat seperti penyakit biasa, mulai dari demam, nyeri otot, sakit kepala, hingga tubuh lemas. Namun kondisi dapat memburuk cepat hanya dalam hitungan hari apabila pasien terlambat mendapatkan penanganan medis.

“Faktor ketahanan hidup adalah diagnosis yang tepat dan cepat untuk menghindari fase paru berat dan kematian karena keterlambatan diagnosis,” kata Dicky.

Hingga kini belum tersedia obat antivirus khusus untuk menangani virus hanta. Penanganan pasien masih bersifat suportif, seperti penggunaan ventilator, bantuan oksigen, dan pengaturan cairan tubuh secara ketat di rumah sakit.

Meski memiliki tingkat fatalitas tinggi, Dicky menilai potensi virus hanta menjadi pandemi global relatif kecil. Alasannya, penularan utama berasal dari hewan ke manusia, bukan antarmanusia seperti Covid-19.

Namun ancaman lokal tetap perlu diperhatikan, terutama di area dengan sanitasi buruk dan populasi tikus yang tinggi. Karena itu, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan saat membersihkan area tertutup yang lama tidak digunakan.

Beberapa langkah pencegahan yang dianjurkan antara lain membersihkan sarang tikus secara rutin, memastikan ventilasi udara tetap baik, serta menggunakan masker ketika membersihkan gudang atau ruangan berdebu. Warga juga diminta tidak langsung menyapu kotoran tikus dalam kondisi kering karena dapat membuat partikel beterbangan ke udara.

Kebiasaan sederhana seperti memakai masker dan menjaga kebersihan rumah dinilai menjadi perlindungan paling efektif untuk menekan risiko penularan virus hanta. Apalagi, kasus infeksi sering kali terlambat disadari karena gejalanya menyerupai flu biasa pada tahap awal.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online