Karhutla Semeru Meluas ke 7 Titik, 2 Helikopter Dikerahka
Karhutla Gunung Semeru meluas ke tujuh titik di kawasan TNBTS. Dua helikopter dikerahkan untuk water bombing ke area sulit dijangkau.
Bentuk hidung/Kabar24-Bisnis.com
Harianjogja.com, JAKARTA — Kebiasaan bernapas melalui mulut, baik saat tidur maupun berolahraga, ternyata dapat berdampak negatif bagi kesehatan jika berlangsung dalam jangka panjang. Kondisi ini membuat udara masuk ke tubuh tanpa melalui proses penyaringan alami yang dilakukan oleh hidung.
Hidung memiliki peran penting dalam sistem pernapasan, yakni sebagai penyaring dan pengatur udara. Organ ini berfungsi menghangatkan dan melembapkan udara sebelum masuk ke paru-paru, sekaligus menangkap debu, kotoran, dan mikroorganisme berbahaya agar tidak masuk ke saluran pernapasan.
Namun, ketika seseorang terbiasa bernapas melalui mulut, seluruh proses tersebut terlewati. Akibatnya, udara yang masuk menjadi lebih dingin, kering, dan kurang bersih, sehingga berpotensi mengiritasi saluran pernapasan dan membebani kerja paru-paru.
Asisten Profesor di SDM Institute of Ayurveda and Hospital, Dr. Samhita Ullod, menjelaskan bahwa kebiasaan ini dapat mengurangi efisiensi pertukaran oksigen dalam tubuh.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat tubuh harus bekerja lebih keras untuk mendapatkan oksigen yang cukup. Dampaknya bisa berupa kelelahan, penurunan konsentrasi, hingga gangguan pernapasan jika terjadi terus-menerus.
Selain itu, tanda awal dari kebiasaan bernapas melalui mulut dapat dikenali dari bibir kering saat bangun tidur atau sering terbangun di malam hari karena merasa haus. Pola pernapasan yang tidak optimal juga berhubungan dengan kualitas tidur yang buruk.
“Ini terkait dengan tidur yang terfragmentasi dan jika terus berlanjut dapat memperburuk kondisi sleep apnea,” ujar Dr. Ullod.
Pada anak-anak, dampaknya bisa lebih serius. Kebiasaan bernapas melalui mulut dalam jangka panjang dapat memengaruhi perkembangan struktur rahang dan susunan gigi, serta meningkatkan risiko gangguan gusi dan infeksi tenggorokan.
Untuk mengatasi kebiasaan ini, langkah awal yang dapat dilakukan adalah memastikan saluran hidung tidak tersumbat, misalnya dengan menjaga kebersihan dan kesehatan hidung. Selain itu, latihan pernapasan juga dapat membantu tubuh kembali terbiasa bernapas melalui hidung.
Aktivitas fisik secara rutin juga dianjurkan untuk meningkatkan kapasitas paru-paru dan efisiensi sistem pernapasan secara keseluruhan.
Dengan memahami dampaknya, masyarakat diharapkan lebih memperhatikan pola pernapasan sehari-hari, karena kebiasaan sederhana seperti cara bernapas ternyata memiliki pengaruh besar terhadap kesehatan jangka panjang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Karhutla Gunung Semeru meluas ke tujuh titik di kawasan TNBTS. Dua helikopter dikerahkan untuk water bombing ke area sulit dijangkau.
Banjir bandang dan longsor di Nepal-China menewaskan 633 orang dan hampir 3.000 masih hilang. Pencarian korban terus dilakukan.
Muktamar Ke-35 NU akan menentukan mekanisme pemilihan Ketua Umum PBNU lewat voting tertutup setelah dua opsi belum menemui kesepakatan.
Prakiraan cuaca DIY Minggu 30 Agustus 2026, Jogja berkabut pagi dan suhu mencapai 33 derajat Celsius. Simak cuaca Sleman hingga Gunungkidul.
Niatnya cuma beli satu, tapi setelah checkout ternyata pesanan yang sama masuk dua kali. Salah satu transaksi memang ingin dibatalkan, tetapi pembayaran sudah t
Ribuan wisatawan menyaksikan Sabetan Pencak 4 jam di Titik Nol Jogja, penutup Pencak Wisata Budaya 2026 yang mengusung regenerasi silat.