KPK Geledah Rumah Anggota BPK Bobby Adhityo Rizaldi
KPK menggeledah rumah anggota BPK Bobby Adhityo Rizaldi dan menyita barang bukti elektronik terkait penyidikan suap audit Muara Enim.
Foto ilustrasi leher. - Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA—Banyak orang membunyikan leher untuk meredakan tegang atau stres tanpa memikirkan konsekuensinya. Padahal, kebiasaan ini dapat memengaruhi stabilitas tulang leher dan memberi tekanan pada arteri penting yang terhubung langsung dengan otak.
Seperti dikutip dari laman Hindustan Times, belum lama ini dokter bidang Anestesiologi dan Pengobatan Nyeri Intervensional Dr. Kunal Sood, MD, mengatakan suara letupan yang biasa terdengar itu sendiri bukanlah bahaya.
“Rasa lega sementara itu berasal dari peregangan sendi yang cepat dan pelepasan gelembung gas dalam cairan sinovial. Suara yang Anda dengar tidak berbahaya dengan sendirinya,” katanya.
Sood menakan risiko sebenarnya muncul ketika leher berulang kali dipaksa melampaui rentang gerak normalnya. Seiring waktu, ini dapat melonggarkan ligamen dan meng-destabilisasi tulang belakang leher, memungkinkan gerakan yang lebih tidak terkontrol selama putaran tiba-tiba.
Saat stabilitas berkurang, struktur di dalam leher menjadi lebih rentan.
“Gerakan leher yang tajam atau kuat dapat memberikan tekanan geser abnormal pada arteri vertebralis dan karotis yang melewati leher,” kata Dr. Sood.
Dalam kasus yang jarang terjadi, stres ini dapat menyebabkan komplikasi serius. Lapisan dalam arteri dapat robek, suatu kondisi yang dikenal sebagai diseksi arteri serviks. Ketika ini terjadi, darah dapat berkumpul di lokasi cedera, membentuk gumpalan, dan berpotensi mengalir ke otak, menghalangi aliran darah dan menyebabkan stroke.
“Sebagian besar orang yang membunyikan lehernya tidak akan pernah mengalami hal ini. Namun, mekanismenya telah didokumentasikan dengan baik, itulah sebabnya manipulasi leher yang berulang dan kuat, terutama manipulasi sendiri, tidak disarankan,” tambahnya.
Sood mengatakan ada alternatif yang lebih aman untuk mengatasi kekauan leher yakni dengan latihan mobilitas ringan, koreksi postur, penguatan yang ditargetkan, atau terapi terarah, daripada membunyikan klem secara agresif.
Menjaga leher tetap sehat membutuhkan pendekatan yang lebih aman daripada membunyikannya secara paksa. Dengan mobilitas ringan, perbaikan postur, dan terapi yang tepat, risiko cedera leher dapat ditekan sekaligus menjaga sistem saraf dan pembuluh darah tetap terlindungi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
KPK menggeledah rumah anggota BPK Bobby Adhityo Rizaldi dan menyita barang bukti elektronik terkait penyidikan suap audit Muara Enim.
Penampilan impresif Timnas Tanjung Verde di Piala Dunia 2026 memicu lonjakan minat wisatawan dunia. Negara kepulauan di Afrika Barat ini menawarkan pantai tropi
Gianni Infantino dilaporkan ke IOC atas dugaan intervensi kasus Balogun & hubungan dengan Trump. FairSquare tuduh pelanggaran netralitas, FIFA bantah.
WhatsApp siapkan cloud backup sendiri untuk iPhone, bebas iCloud! Kuota 2GB gratis, 50GB berbayar, enkripsi end-to-end otomatis. Simak detailnya.
BPKA DIY menegaskan pergeseran anggaran kajian renovasi Stadion Mandala Krida tidak memerlukan persetujuan BPKA dan cukup disetujui Pengguna Anggaran.
Spanyol 2026 sukses mencapai final Piala Dunia dengan gaya bermain yang berbeda dari generasi juara dunia 2010. Lamine Yamal menjadi simbol transformasi La Roja