Festival AHU 2026, Kemenkum Buka Akses 470 Layanan Hukum
Kemenkum menyediakan 470 layanan hukum digital melalui super app PASTI dalam Festival Layanan AHU Berdampak 2026 di Bandung.
Foto ilustrasi leher. - Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA—Banyak orang membunyikan leher untuk meredakan tegang atau stres tanpa memikirkan konsekuensinya. Padahal, kebiasaan ini dapat memengaruhi stabilitas tulang leher dan memberi tekanan pada arteri penting yang terhubung langsung dengan otak.
Seperti dikutip dari laman Hindustan Times, belum lama ini dokter bidang Anestesiologi dan Pengobatan Nyeri Intervensional Dr. Kunal Sood, MD, mengatakan suara letupan yang biasa terdengar itu sendiri bukanlah bahaya.
“Rasa lega sementara itu berasal dari peregangan sendi yang cepat dan pelepasan gelembung gas dalam cairan sinovial. Suara yang Anda dengar tidak berbahaya dengan sendirinya,” katanya.
Sood menakan risiko sebenarnya muncul ketika leher berulang kali dipaksa melampaui rentang gerak normalnya. Seiring waktu, ini dapat melonggarkan ligamen dan meng-destabilisasi tulang belakang leher, memungkinkan gerakan yang lebih tidak terkontrol selama putaran tiba-tiba.
Saat stabilitas berkurang, struktur di dalam leher menjadi lebih rentan.
“Gerakan leher yang tajam atau kuat dapat memberikan tekanan geser abnormal pada arteri vertebralis dan karotis yang melewati leher,” kata Dr. Sood.
Dalam kasus yang jarang terjadi, stres ini dapat menyebabkan komplikasi serius. Lapisan dalam arteri dapat robek, suatu kondisi yang dikenal sebagai diseksi arteri serviks. Ketika ini terjadi, darah dapat berkumpul di lokasi cedera, membentuk gumpalan, dan berpotensi mengalir ke otak, menghalangi aliran darah dan menyebabkan stroke.
“Sebagian besar orang yang membunyikan lehernya tidak akan pernah mengalami hal ini. Namun, mekanismenya telah didokumentasikan dengan baik, itulah sebabnya manipulasi leher yang berulang dan kuat, terutama manipulasi sendiri, tidak disarankan,” tambahnya.
Sood mengatakan ada alternatif yang lebih aman untuk mengatasi kekauan leher yakni dengan latihan mobilitas ringan, koreksi postur, penguatan yang ditargetkan, atau terapi terarah, daripada membunyikan klem secara agresif.
Menjaga leher tetap sehat membutuhkan pendekatan yang lebih aman daripada membunyikannya secara paksa. Dengan mobilitas ringan, perbaikan postur, dan terapi yang tepat, risiko cedera leher dapat ditekan sekaligus menjaga sistem saraf dan pembuluh darah tetap terlindungi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Kemenkum menyediakan 470 layanan hukum digital melalui super app PASTI dalam Festival Layanan AHU Berdampak 2026 di Bandung.
ASEACCU ke-32 resmi berakhir di Ganjuran, Jogja. Thailand ditunjuk menjadi tuan rumah konferensi perguruan tinggi Katolik ke-33.
Aida S. Budiman resmi disetujui menjadi Deputi Gubernur Senior BI 2026–2031. Simak profil, karier, pendidikan, dan tugasnya.
Muktamar ke-35 NU di Jombang ricuh setelah massa pendukung Gus Yusuf memprotes aturan masa iddah politik bagi calon Ketum PBNU.
Kota Jogja meraih 11 Warisan Budaya Takbenda DIY Tahun Penetapan 2025, menjadi perolehan terbanyak dibandingkan wilayah lain.
Kapolri Listyo Sigit Prabowo mengajak eks anggota JI bergabung Garda Satya NKRI dalam silaturahmi akbar di Solo yang dihadiri 6.500 orang.