BNPB: 1,18 Juta Liter Air Bersih Disalurkan untuk Warga Klaten
BNPB mencatat 10.407 warga Klaten terdampak kekeringan menerima 1,18 juta liter air bersih selama 15 Juni hingga 13 Juli 2026.
Foto ilustrasi makanan cepat saji. - Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA—Konsumsi berlebih lemak jenuh dan gula terbukti dapat menurunkan kemampuan otak menavigasi lingkungan, menurut riset yang dipublikasikan di International Journal of Obesity.
Dilansir dari Medical Daily pada Sabtu (4/10/2025), peneliti dari Universitas Sydney menemukan bahwa pola makan yang tinggi lemak jenuh dan gula tidak hanya meningkatkan risiko obesitas dan gangguan kesehatan kronis, tetapi juga dapat menurunkan kemampuan spasial otak, seperti mengenali lokasi, mengingat rute, dan memperkirakan jarak.
Temuan tersebut dipublikasikan dalam International Journal of Obesity yang menunjukkan dampak lain dari konsumsi makanan cepat saji terhadap fungsi otak.
Dalam penelitian tersebut, sebanyak 55 partisipan berusia muda diminta menavigasi labirin virtual dengan berbagai penanda visual untuk menemukan peti harta karun tersembunyi.
Peserta diberi enam kali kesempatan, masing-masing selama empat menit. Jika gagal, lokasi sebenarnya ditunjukkan selama 10 detik. Pada percobaan terakhir, peti dihapus dari permainan, dan peserta diminta menandai posisinya dari ingatannya untuk mengukur seberapa baik mereka mempelajari rute tersebut.
Selain itu, pola makan para peserta dievaluasi melalui kuesioner, sementara kemampuan memori kerja diuji melalui latihan mengingat angka.
Hasilnya, peserta yang sering mengonsumsi makanan tinggi lemak jenuh dan gula olahan mengalami kesulitan lebih besar dalam mengingat lokasi peti dibanding mereka yang menerapkan pola makan lebih sehat.
Penelitian ini juga mengindikasikan bahwa pola makan tinggi lemak dan gula dapat memengaruhi fungsi hippocampus yakni bagian otak yang berperan penting dalam navigasi spasial dan pembentukan memori.
“Penelitian ini memberikan bukti bahwa pola makan berperan penting bagi kesehatan otak di usia dewasa muda, masa ketika fungsi kognitif biasanya masih optimal,” kata peneliti dari Departemen Psikologi Fakultas Sains Universitas Sydney Dr. Dominic Tran, yang memimpin riset tersebut.
Meski demikian, para peneliti optimistis bahwa dampak negatif terhadap fungsi kognitif ini dapat diperbaiki melalui perubahan pola makan.
“Kabar baiknya, kami percaya kondisi ini dapat dengan mudah dibalik. Perubahan pola makan dapat meningkatkan kesehatan hippocampus, dan dengan demikian memperbaiki kemampuan kita dalam menavigasi lingkungan seperti saat menjelajahi kota baru atau mempelajari rute pulang,” ujar Dominic.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
BNPB mencatat 10.407 warga Klaten terdampak kekeringan menerima 1,18 juta liter air bersih selama 15 Juni hingga 13 Juli 2026.
Regulator gas mendesis bisa dipicu seal, pemasangan, atau regulator rusak. Simak penyebab dan cara mengatasinya dengan aman.
Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo meraih penghargaan dalam Jogja Brand and Business Awards 2026 sebagai “Kepala Daerah Inovator Pembangunan dan Ketahanan
Masa tunggu haji reguler turun menjadi rata-rata 26 tahun. Pemerintah masih mengkaji berbagai skema percepatan keberangkatan jemaah.
Ketua RT mengungkap tersangka teror bom SDN Srengseng Sawah 15 Pagi pernah mengirim ancaman serupa kepada warga di lingkungan tempat tinggalnya.
Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih meraih penghargaan dalam Jogja Brand and Business Awards 2026 sebagai “Kepala Daerah Akselerator Pariwisata