Kejuaraan Arung Jeram di Oya, Sleman Kirim Skuat Atlet Muda
Sleman mengirimkan satu tim bermaterikan lima atlet mudanya untuk bertanding di ajang Kejuaraan Arung Jeram Open R4-2026 di Sungai Oya, Gunungkidul.
Temu wicara Kita Berkebaya persembahan Bakti Budaya Djarum Foundation bersama Narasi di Artjog 2025 di Jogja National Museum, Kamis (7/8/2025). - Harian Jogja/Ist
Harianjogja.com, JOGJA—Di panggung Artjog, Kita Berkebaya persembahan Bakti Budaya Djarum Foundation bersama Narasi menggemakan gerakan berkebaya sebagai pakaian keseharian.
Acara yang diawai dengan rangkaian aktivitas kreatif dan edukatif ini bertujuan meningkatkan apresiasi dan pemahaman masyarakat, khususnya generasi muda, terhadap kebaya sebagai bagian dari identitas budaya yang terus berkembang.
Di panggung Artjog, Jogja National Museum, Kamis (7/8/2025), ratusan audiens lantas disuguhi film pendek karya sutradara Bramsky berjudul #KitaBerkebaya yang berdurasi sekitar 14 menit.
Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation Renitasari Adrian memaparkan kebaya merupakan warisan budaya Indonesia yang penuh dengan makna dan filosofi, serta mencerminkan nilai-nilai tradisi, martabat, dan identitas perempuan Indonesia.
“Hal ini mendorong kami untuk menginisiasi gerakan Kita Berkebaya yang kembali mengingatkan kebaya sebagai simbol ekspresi diri, kebanggaan budaya, dan pemberdayaan perempuan lintas generasi,” ujarnya, Kamis.
Renita mengaku awalnya #KitaBerkebaya dikonsep sebagai film yang meriah namun dalam prosesnya, film dijadikan alat pergerakan memasyarakatkan kebaya lagi karena pakaian nusantsara itu bisa dipakai dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui kehadiran Kita Berkebaya di panggung ARTJOG ini, diharapkan lahir kesadaran baru akan pentingnya merawat dan menghidupkan kembali kebaya sebagai bagian dari identitas budaya yang kaya dan terus berkembang dan menjadi kekuatan ekonomi yang memberdayakan, baik dari penjual kain, penjahit, pembatik, perancang busana, hingga pelaku industri kreatif lainnya di seluruh Indonesia,.
Setelah pemutaran film, acara kemudian dilanjut dengan karya artistik dari abdi dalem Pura Mangkunegaran yang merepresentasikan makna kebaya. Penampilan ini menjadi pengantar menuju diskusi seputar budaya, ekspresi diri dan pemberdayaan.
GRAj Ancillasura Marina Sudjiwo, Pengageng Kawedanan Panti Budaya Pura Mangkunegaran, mengatakan melampaui perannya sebagai busana tradisional, diskusi membahas kebaya dari berbagai sudut pandang, mulai dari pengaruh budaya Jawa, sejarah, dan warisan keraton yang membentuk karakternya, hingga perannya sebagai identitas dan bentuk ekspresi diri perempuan.
“Kebaya bukan hanya warisan kain dan jahitan melainkan cerita tentang perjalanan budaya, identitas dan jati diri perempuan Indonesia. Generasi muda memiliki peran penting untuk menghidupkan kembali kebaya, tidak hanya dengan memakainya, tetapi juga dengan memberi nafas baru lewat ide, kolaborasi, dan kreativitas,” paparnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Toprak Razgatlioglu sambut proyek Yamaha 850cc dengan optimisme tinggi. Meski uji coba Brno belum maksimal, ia sebut hasilnya memuaskan. Target bertarung di pap
Persib Bandung di ambang juara Dewata Challenge Series 2026. Simak jadwal Bali United vs Persib dan peluang Maung Bandung meraih trofi.
Daftar bansos PKH dan BPNT kini bisa dilakukan secara mandiri melalui portal perlinsos Kemensos. Cukup pakai HP dan IKD aktif. Simak langkah-langkah dan syarat
Lamborghini menegaskan belum berencana menghadirkan mobil transmisi manual dan memilih fokus pada pengembangan supercar hybrid berperforma tinggi.
BPBD NTT mencatat 7.968 rumah dan 744 fasilitas umum rusak akibat gempa magnitudo 7,7 di Nagekeo. Pendataan masih terus dilakukan.