Mendes Yandri Laporkan 73 Akun Penyebar Hoaks ke Bareskrim
Mendes PDT Yandri Susanto melaporkan 73 akun ke Bareskrim Polri terkait video AI deepfake yang menarasikan warung desa akan ditutup.
Ilustrasi panti pijat
Harianjogja.com, JAKARTA—Seseorang yang mengidap gangguan irama jantung atau aritmia disarankan untuk tidak melakukan pijat di bagian leher untuk mempertahankan kualitas hidupnya.
“Kalau sudah umur Enggak disarankan pergi ke tukang urut dan di pijat di leher karena ada saraf vagus yang menekan detak jantung jadi lebih rendah kalau ditekan pada orang tua dan risiko aritimia,” kata Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah lulusan Universitas Indonesia dr. Alexandra Gabriella dalam diskusi kesehatan tentang gangguan irama jantung aritmia bersama RS Pondok Indah Group di Jakarta, Jumat (7/6/2024).
Dokter yang disapa Gabi ini mengatakan pemijatan pada leher tidak disarankan pada pasien dengan detak jantung yang rendah. Pasalnya, pada leher terdapat saraf penting bernama nervus vagus yang mengatur ritme jantung dan tekanan darah. Jika saraf tersebut ditekan atau diurut bisa menyebabkan detak jantung semakin rendah dan memicu efek samping seperti tekanan darah yang semakin turun, membuat pandangan menjadi kabur dan gelap bahkan sampai pingsan.
Pada orang yang belum pernah memeriksakan permasalahan di leher, prosedur pemijatan di leher dapat berisiko pengapuran dan plak yang terbawa di aliran darah ke otak dan berisiko menyebabkan strok.
Baca Juga
Kamu Harus Tahu, Ini Segudang Manfaat Terapi Pijat
Memijat Bagian Tubuh Terkilir Wajib Ekstra Hati-Hati, Begini Caranya...
Waspada Serangan Jantung Mendadak, Begini Ciri-Ciri Fisiknya
Untuk menjaga kualitas hidup pasien dengan aritmia, disarankan untuk melakukan kegiatan yang disarankan dokter seperti tidak di urut di bagian leher, mengejan terlalu kuat dan olahraga yang terlalu berat.
“Olahraga yg disarankan untuk semua pasien dengan gangguan jantung seminggu tiga kali sampai lima kali, sekali olahraga 30 menit resep latihannya dari treadmill test,” ucap Gabi.
Sedangkan jenis olahraga yang disarankan adalah yang tidak mengandung unsur kompetitif misalnya bersepeda, berjalan kaki atau jogging, dan berenang. Gejala aritmia bisa dirasakan dari detak jantung yang tidak teratur, skip a beat atau merasa tidak ada detakan, pusing, lemas, sesak napas, dan rasa tidak nyaman di dada atau pingsan.
Cara mudah untuk mengetahui irama jantung adalah menggunakan alat seperti smartwatch, pemeriksaan elektrokadriogram (EKG) jantung atau holter monitoring untuk pemeriksaan 24 jam saat pasien yang merasa irama jantung tidak beraturan dalam beberapa hari.
“Ada ECG portabel yang kecil alatnya bisa dipegang di tangan dan dikirim hasilnya ke HP, kalau advancenya pemeriksaan electrophysiology study di ruang kateterisasi,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Mendes PDT Yandri Susanto melaporkan 73 akun ke Bareskrim Polri terkait video AI deepfake yang menarasikan warung desa akan ditutup.
BSSN mengingatkan AI membuat serangan siber ke sektor keuangan makin otomatis, personal, dan sulit dibedakan dari komunikasi asli.
Wayang Jogja Night Carnival (WJNC) 2026 tak lagi sekadar menjadi acara puncak HUT Kota Jogja. Perayaan yang memasuki tahun ke-10 itu dikemas menjadi WJNC Festiv
PSEL Piyungan diproyeksikan mengolah 1.000 ton sampah per hari. DIY menyiapkan pasokan dari Gunungkidul, Kulonprogo hingga Jateng.
Taman Budaya Yogyakarta (TBY) akan menggelar Lomba dan Pameran Fotografi Rana Budaya #4 dengan tajuk FYP (For Your People), sekaligus pameran arsip
DPRD Sleman mendorong penguatan peran masyarakat dalam pelestarian dan pengembangan cagar budaya melalui Rancangan Peraturan Daerah (Raperda)