Peneliti Temukan Resep Membuat Es Krim Anti Meleleh
Peneliti membuat terobosan baru setelah menemukan cara untuk membuat es krim yang hampir tidak meleleh.
Elang Peregrine yang termasuk hewan tercepat di dunia. - Oddity Central/Facebook
Harianjogja.com, JOGJA—Cheetah selama ini dikenal sebagai hewan yang paling cepat di darat. Namun, kecepatan cheetah ternyata mampu diungguli hewan tercepat lainnya yang ada di udara.
Hewan elang jenis Peregrine terkenal dengan kecepatannya. Pasalnya, elang ini mampu menukik mangsa yang tanpa menaruh curiga dengan kecepatan lebih dari 300 km/jam.
Melansir Oddity Central, elang Peregrine disebut sebagai salah satu pemangsa paling efisien di Bumi berkat kecepatannya yang tak tertandingi. Kecepatan tertinggi elang peregrine bisa mencapai 389 km/jam (242 mph).
Pencapaian ini membuatnya lebih cepat daripada sebagian besar mobil yang tersedia secara komersial. Hewan ini juga jauh lebih cepat daripada rekor kecepatan cheetah yang hanya 64 mph.
Saat terbang dalam garis lurus, elang peregrine sangat cepat, mencapai kecepatan 40-55 km/jam (25-34 mph) saat perjalanan biasa. Ia bisa jauh lebih cepat mencapai 112 km/jam (69 mph) saat mengejar mangsa secara langsung. Namun, mereka benar-benar menunjukkan kekuatan mereka yang sebenarnya ketika menyelam dan menukik ke bawah dengan kecepatan sangat tinggi, yang mampu membahayakan siapapun.
Struktur tubuh Elang Peregrine benar-benar dibangun untuk kecepatan. Mereka memiliki rangka yang ringan dan bentuk tubuh yang aerodinamis sehingga dapat menstabilkan dirinya sendiri saat bergerak mendekati mangsanya. Hal ini dikarenakan elang peregrine memiliki sayap (berstruktur V) dan ekor yang panjang, juga bulu-bulu yang bergelombang untuk membantu mengatur aliran udara pada tubuhnya saat terbang.
Belum lagi, saat menyelam dengan kecepatan lebih dari 300 km per jam akan menyebabkan kerusakan pada paru-paru burung lain, tetapi elang memiliki tuberkel kecil yang mengarahkan udara bertekanan menjauh dari lubang hidungnya, yang memungkinkannya bernapas dengan mudah. Selaput nictating juga melindungi mata burung selama menyelam.
Fitur penting lainnya adalah kecepatan pemrosesan visual elang peregrine, yang mampu merekam 129 bingkai per detik atau 129 hertz. Sebagai perbandingan, kita manusia memiliki kecepatan pemrosesan visual maksimum 60 hertz.
Di balik fisiknya yang luar biasa, sungguh menyedihkan bahwa beberapa dekade yang lalu, makhluk agung ini hampir punah. Pestisida DDT meracuni elang Peregrine dewasa dan membuat kulit telurnya jauh lebih tipis sehingga perkembangan embrio banyak yang gagal. Hal ini menyebabkan kerusakan parah pada elang Peregrine dan banyak spesies burung lainnya.
Baru setelah DDT dilarang pada tahun 1972, populasi burung mulai pulih. Pada tahun 1999, elang Peregrine dikeluarkan dari daftar spesies yang terancam punah dan jumlahnya stabil sejak saat itu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Oddity Central
Peneliti membuat terobosan baru setelah menemukan cara untuk membuat es krim yang hampir tidak meleleh.
Keraton Jogja gelar konser YRO di Jakarta bertajuk Gregah Nusa. Angkat semangat kebangkitan budaya dan identitas bangsa.
Pemkot Jogja bedah rumah warga dengan genting daur ulang. Ramah lingkungan, tahan lama, dan bantu kurangi sampah kota.
Kasus penyakit kronis kini banyak menyerang usia muda akibat gaya hidup. Simak penyebab dan upaya pencegahannya.
Veda Ega Pratama finis ke-8 Moto3 Catalunya 2026 usai start dari posisi 20. Tampil impresif dan raih poin penting untuk Indonesia.
Video viral terduga pelaku curanmor diamuk massa di Ponorogo. Polisi amankan pelaku dan lakukan penyelidikan lebih lanjut.