Resmikan Museum Marsinah, Prabowo: Buruh Harus Dilindungi!
Prabowo resmikan Museum Marsinah di Nganjuk, soroti keadilan sosial dan nilai Pancasila dalam kasus buruh Indonesia.
Ilustrasi. /Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA-Banyak model pakaian wanita yang muncul dan menjadi fashion favorit kaum hawa. Namun hati-hati dengan pakaian yang punya ukuran ketat karena pakaian ini bisa membawa dampak negatif untuk tubuh.
Minimal pakaian ketat bisa membuat seseorang sulit bergerak.
Melansir laman Step to Health, berikut beberapa dampak negatif menggunakan pakaian ketat.
Pakaian yang ketat akan membuat kulit menjadi tertekan. Hal tersebut akan membuat aliran darah dalam tubuh menjadi terhambat. Akibat aliran darah yang terhambat, ia akan merasa mudah lelah.
Selain itu, aliran darah yang terhambat juga dapat menyebabkan bengkak. Bahkan, terhambatnya aliran darah ini juga memengaruhi darah untuk kembali ke jantung.
Pakaian ketat akan membuat sirkulasi darah menjadi buruk. Menurut penelitian, sekitar 31 persen wanita penderita varises kerap menggunakan celana ketat serta berdiri terlalu lama. Oleh karena itu, penggunaan pakaian ketat meningkatkan risiko seseorang terkena varises.
Selulit merupakan tekstur kulit yang menyerupai kulit jeruk akibat timbunan lemak. Biasanya kondisi ini akan membuat garis-garis pada kulit. Rupanya penggunaan pakaian yang ketat menjadi penyebab munculnya selulit pada kulit.
Pakaian ketat juga kerap membuat seseorang mengalami kesulitan benapas. Hal ini karena pakaian yang ketat akan menekan paru-paru dan trakea. Pakaian ketat juga membuat pertukaran gas tidak berlangsung secara efisien hingga mempercepat oksidasi sel tubuh. Kondisi ini dapat membuat penuaan dini pada seseorang.
Pakaian ketat akan membuat gerak seseorang menjadi terbatas. Kondisi ini akan membuat otot-otot sulit untuk bergerak dan melakukan peregangan. Sementara itu, tulang juga akan menjadi tertekan. Hal ini membuat rasa sakit pada punggung dan pinggul
Penggunaan pakaian ketat akan membuat perus sulit untuk mengembang. Hal ini akan membuat proses pencernaan pada seseorang menjadi sulit. Apalagi jika pakaian ketat tersebut juga dilengkapi dengan ikat pinggang.
Pakaian ketat akan membuat udara sulit untuk keluar. Hal ini akan membuat suhu tubuh menjadi meningkat dan lembap. Kondisi itu justru mendorong pertumbuhan jamur dan bakteri pada tubuh seseorang.
Tidak hanya itu, lelaki penggunaan pakaian ketat juga bisa berisiko memengaruhi kualitas sperma. Bahkan, pakaian ketat yang digunakannya juga dapat membuat rasa nyeri pada bagian testis.
Kulit rupanya juga mudah mengalami iritasi saat menggunakan pakaian ketat. Hal ini karena pakaian ketat dapat membuat udara suli untuk masuk. Kulit yang teritasi dapat menimbulkan kemerahan, gatal, dan masalah lainnya.
Pakaian ketat akan membuat udara sulit untuk masuk dan keluar. Kondisi ini mendorong seseorang berkeringat lebih banyak. Keringat yang banyak berpotensi menimbulkan bau tak sedap pada ketiak atau area genital lain.
Tidak hanya itu, pakaian ketat yang terbuat dari kain nilon atau lycra berpotensi sebagai tempat berkembak biak bakteri pada tubuh.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : suara.com
Prabowo resmikan Museum Marsinah di Nganjuk, soroti keadilan sosial dan nilai Pancasila dalam kasus buruh Indonesia.
Kosti memperluas komunitas sepeda ontel hingga Papua Tengah dan menargetkan generasi muda melalui program kampus dan sekolah.
Perguruan tinggi didorong mencetak lulusan adaptif, inovatif, dan berjiwa wirausaha untuk menghadapi era Society 5.0.
Prabowo meresmikan 1.061 Koperasi Merah Putih di desa dan menargetkan 30.000 koperasi beroperasi pada Agustus 2026.
Kabupaten Klaten bakal menjadi tuan rumah penyelenggaraan event berskala internasional bernama Klaten International Cycling Festival (KLIC Fest) 2026.
Kapal induk Prancis Charles de Gaulle bergerak menuju Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan Iran, AS, dan Israel.