Kisah Denver Si Selebdog, Foto Bareng Rp25.000 untuk Bantu Anjing Telantar
Denver, anjing malamut alaska seberat 70 kg di Semarang, ‘bekerja’ lewat sesi foto berbayar untuk membantu biaya shelter anjing telantar.
Filter Instaram. /Ist- instagram.com samanta.elsener
Harianjogja.com, JAKARTA - Gadget menjadi salah satu sarana bermain anak. Salah satunya bisa digunakan untuk bermain karakter melalui ffilter. Fitur filter instagram memang muncul sangat beragam. Mulai dari bikin cantik sampai membuat wajah menjadi aneh.
Belakangan banyak orangtua yang menggunakan filter kuda (horse morph) untuk melihat reaksi anak-anak mereka.
Reaksi anak mungkin terlihat menggemaskan dan menghibur, namun penggunaan filter ini unutuk menjahili anak Anda malah bisa timbulkan masalah kesehatan mental anak nantinya.
Menurut Psikolog Samanta Elsener dalam akun Instagramnya menyatakan bahwa filter ini akan menyenangkan jika anak Anda sudah memahaminya. Namun banyak anak yang menangis karena takut dengan filter tersebut.
Baca juga: Keseringan Main Game Bisa Berdampak Susah Tidur, Ini Cara Mengatasinya
"Parents, anak-anak tiap usia ada perkembangannya sendiri, termasuk perkembangan kognitif anak itu beda tiap usia sehingga enggak bisa disamakan," catat Elsener.
"Kalau anak yang masih batita belum bisa paham dengan konsep filter, ya bisa histeris dengan layar yang mendadak mengubah bentuk wajah orangtuanya," imbuhnya.
Saat anak-anak belum paham dengan filter, kondisi terburuknya mereka bisa mengalami trauma karena ketakutan.
"Beberapa video yang ku lihat ada yang anaknya jadi nangis histeris karena meyakini itu benaran akhirnya efeknya jadi trauma lho bahkan ada beberapa yang DM aku menceritakan hal ini dialami oleh anaknya sendiri," imbuhnya.
Baca juga: Anak Perlu Didampingi Jelang Menstruasi, Ini yang Sebaiknya Dilakukan Orang Tua
Melansir dari Lifestyle, menakuti anak memang tak sekadar bisa bikin nangis, namun juga pengaruhi masalah kesehatan mental.
"Menanamkan rasa takut yang tidak semestinya pada anak-anak dapat menyebabkan luka psikologis yang merusak dalam jangka panjang," kata Dr. Bess de Guia, anggota dari Fakultas Kedokteran Universitas Santo Tomas (UST) di The Medical City (TMC).
"Ketakutan seperti itu mungkin menjadi akar penyebab masalah seperti gangguan stres pasca-trauma, serangan panik, dan gangguan kecemasan, efek psikologis yang umum adalah reaksi fobia kronis yang dapat meluas hingga remaja dan seterusnya," tambah Dr. Nina Halili-Jao, seorang psikiater anak dari TMC.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Suara.com
Denver, anjing malamut alaska seberat 70 kg di Semarang, ‘bekerja’ lewat sesi foto berbayar untuk membantu biaya shelter anjing telantar.
Kelurahan Keparakan membagikan telur omega dan susu kepada anak berisiko stunting melalui program PMT pada September 2026.
Kekeringan Kulonprogo meluas ke tujuh kapanewon. BPBD telah menyalurkan 1,8 juta liter air dan memperpanjang siaga darurat hingga 31 Desember.
Kustomfest 2026 di Jogja hadir 10-11 Oktober dengan charity riding, dukungan pendidikan anak, musik, kuliner, dan tema High Octane.
KNMP Poncosari Bantul didorong menjadi pusat kegiatan nelayan dan pengembangan hasil perikanan dengan fasilitas cold storage dan pabrik es.
BCA memeriksa mata lebih dari 3.500 pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu melalui program Mata Cemerlang, Prestasi Gemilang.