Ramadan Rawan Kebocoran Data, Ini Peringatan ICT
Risiko kebocoran data pribadi meningkat saat Ramadan. ICT Institute mengingatkan lonjakan transaksi online picu phishing dan DDoS.
Gado-gado. Kondisi microbiome dapat tetap terjaga apabila kita dapat mengubah pola makan menjadi lebih bervariasi. /infojakarta.net
Harianjogja.com, JAKARTA - Pola makan ternyata bukan hanya berpengaruh pada imunitas tubuh, tetapi juga kesehatan kulit. Hal ini terungkap dari penelitian yang dilakukan Nusantics dan Burgreens.
Penelitian yang dilakukan terhadap kurang lebih 166 orang dengan rentang usia 25-35 tahun menunjukan bahwa kelompok orang yang menerapkan pola makan bervariasi baik dari sumber nabati dan hewani dengan durasi minimal 6 bulan memiliki kondisi kulit yang lebih tangguh terhadap serangan penyakit.
Sementara itu sisanya, yaitu yang mengonsumsi variasi makanan nabati kurang dari 8 jenis per hari, cenderung rentan terhadap gangguan imunitas dan penyakit kulit seperti jerawat, mudah iritasi dan kemerahan.
Adapun sampel penelitian ini dibagi menjadi 2 jenis, yaitu kriteria kelompok orang yang memiliki pola makan bervariasi dengan mengonsumsi lebih dari 8 jenis sayuran, buah, dan protein (nabati dan hewani) per hari dan kelompok orang yang mengonsumsi kurang dari 8 jenis makanan yang disebutkan per hari.
“Dari hasil penelitian ini kita bisa mendapat insight baru mengenai pentingnya menjaga pola makan yang bervariasi demi kesehatan tubuh kita,” ujar Co-founder dan CTO Nusantics Revata Utama dalam siaran pers, Selasa (27/4/2021).
Dari hasil penelitian tersebut juga dilihat fakta bahwa makanan yang dikonsumsi sangat mempengaruhi kondisi microbiome usus, kesehatan secara umum, dan imunitas kulit. Microbiome adalah kumpulan mikro-organisme yang terdiri dari bakteri, jamur, virus dan arkea yang hidup di tanah, air, udara, serta pada lebih dari 50 persen tubuh manusia.
Microbiome yang hidup pada organ dan kulit manusia, sedikit banyak menunjukan kesehatan dan imunitas kulit, maka penting untuk mengetahui sejauh mana gaya hidup dan pola makan mempengaruhi keseimbangan dan keberagaman mereka.
“Nusantics percaya bahwa kondisi microbiome dapat tetap terjaga apabila kita dapat mengubah pola makan menjadi lebih bervariasi dengan memperbanyak konsumsi dari sumber nabati seperti gado-gado, pecel, rujak, urap dan sejenisnya,” sebut Revata.
Untuk mendapatkan informasi mengenai kondisi microbiome kulit seperti dalam penelitian tersebut, Nusantics menyediakan layanan Biome Scan yaitu analisa profil microbiome kulit pertama di Indonesia.
Nusantics katanya juga tengah mengembangkan riset untuk menganalisa kondisi microbiome di air, tanah, dan udara yang dapat dimanfaatkan untuk memahami kondisi lingkungan dan langkah yang harus diambil untuk mencegah kerusakan lebih lanjut.
“Semoga hasil penelitian ini bisa membuka mata anak muda untuk lebih peduli terhadap lingkungan dan kesehatan dengan menerapkan pola makan yang lebih sehat serta lebih berorientasi pada sumber nabati,” tutur Founder Burgreens Max Mandias menambahkan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
BBPOM Yogyakarta mempercepat penerbitan NIE bagi UMKM pangan olahan agar produk lokal Jogja aman, bermutu, dan mampu bersaing.
Wapres Gibran bertemu Hun Many membahas reformasi birokrasi, olahraga, serta penanganan TPPO terkait penipuan daring.
Menteri PKP Maruarar Sirait optimistis target penyaluran 350.000 rumah subsidi FLPP pada 2026 tercapai. Realisasi hingga Juli telah melampaui 111.000 unit.
Mahasiswa KKN-PPM UGM menggandeng BRI BO Wates mengedukasi warga Giripeni, Kulonprogo, agar memanfaatkan KUR dan KPP serta menghindari pinjol ilegal.
Gempa magnitudo 4,2 mengguncang laut selatan Malang. BMKG memastikan gempa tidak berpotensi tsunami dan belum ada laporan kerusakan.