Advertisement

Kebiasaan Manis Berlebihan Bisa Ganggu Kinerja Otak

Maya Herawati
Selasa, 07 April 2026 - 19:07 WIB
Maya Herawati
Kebiasaan Manis Berlebihan Bisa Ganggu Kinerja Otak Gula putih dan gula aren. - Foto dibuat oleh AI - StockCake

Advertisement

Harianjogja.com, JAKARTA—Konsumsi gula dan karbohidrat olahan secara berlebihan disebut dapat memengaruhi kinerja otak hingga memicu gangguan kesehatan mental. Dampaknya tidak hanya pada fisik, tetapi juga pada kestabilan emosi dan kemampuan berpikir.

Menurut Georgia Ede dari Diet Doctor yang dikutip Medical Daily, Selasa (7/4/2026) pola makan sehari-hari memiliki peran besar terhadap kesehatan otak. Asupan yang terlihat sederhana seperti gula dan karbohidrat olahan dapat memicu efek berantai di dalam tubuh yang berdampak pada fungsi otak dan keseimbangan hormon.

Advertisement

Dampak pada Hormon dan Kesehatan Mental

Dokter Georgia Ede menjelaskan karbohidrat olahan dapat memengaruhi senyawa yang masuk ke otak dan mengacaukan keseimbangan hormon.

Gangguan ini tidak hanya terjadi pada insulin, tetapi juga berdampak pada hormon lain seperti aldosteron yang mengatur tekanan darah, estrogen, hingga hormon stres seperti adrenalin dan kortisol.

Fluktuasi hormon tersebut dapat memicu berbagai gejala, mulai dari perubahan suasana hati, kecemasan, insomnia, mudah marah, hingga kesulitan berkonsentrasi.

Risiko Peradangan hingga Gangguan Serius

Konsumsi gula dan karbohidrat berlebih juga meningkatkan oksidasi dan peradangan dalam tubuh. Kondisi ini menjadi pemicu berbagai penyakit, termasuk gangguan psikotik seperti skizofrenia dan gangguan bipolar.

Hal ini menunjukkan bahwa pola makan tidak hanya memengaruhi tubuh secara fisik, tetapi juga berperan dalam kesehatan mental jangka panjang.

Alternatif Pola Makan untuk Otak

Untuk menjaga kesehatan otak, pola makan rendah karbohidrat hingga diet ketogenik disebut dapat menjadi pilihan.

Dalam pola ini, tubuh memproduksi keton melalui proses ketogenesis yang dapat memenuhi hingga 70% kebutuhan energi otak.

Selain itu, tubuh tetap menghasilkan glukosa melalui proses glukoneogenesis di hati, sehingga kebutuhan energi otak tetap terpenuhi meski asupan karbohidrat rendah.

Dengan keseimbangan ini, otak mendapatkan sumber energi alternatif tanpa harus bergantung pada asupan gula dan karbohidrat berlebih.

Dengan memahami dampak pola makan terhadap otak, masyarakat diharapkan lebih bijak dalam mengatur konsumsi gula dan karbohidrat agar kesehatan mental dan fisik tetap terjaga.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Medical Daily

Advertisement

Harian Jogja

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

Trump Ancam Iran, Sebut Bisa Hancur dalam Semalam

Trump Ancam Iran, Sebut Bisa Hancur dalam Semalam

News
| Selasa, 07 April 2026, 22:27 WIB

Advertisement

Mekar Hanya Beberapa Hari, Bunga Bangkai di Palupuh Diserbu Turis

Mekar Hanya Beberapa Hari, Bunga Bangkai di Palupuh Diserbu Turis

Wisata
| Minggu, 05 April 2026, 21:47 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement