Lereng Barat Daya Merapi Diguyur Deras, Warga Diminta Waspada
Hujan deras di lereng barat daya Merapi picu risiko lahar dan awan panas. Warga diminta menjauhi sungai berhulu Merapi.
Gula putih dan gula aren. - Foto dibuat oleh AI/StockCake
Harianjogja.com, JAKARTA—Konsumsi gula dan karbohidrat olahan secara berlebihan disebut dapat memengaruhi kinerja otak hingga memicu gangguan kesehatan mental. Dampaknya tidak hanya pada fisik, tetapi juga pada kestabilan emosi dan kemampuan berpikir.
Menurut Georgia Ede dari Diet Doctor yang dikutip Medical Daily, Selasa (7/4/2026) pola makan sehari-hari memiliki peran besar terhadap kesehatan otak. Asupan yang terlihat sederhana seperti gula dan karbohidrat olahan dapat memicu efek berantai di dalam tubuh yang berdampak pada fungsi otak dan keseimbangan hormon.
Dampak pada Hormon dan Kesehatan Mental
Dokter Georgia Ede menjelaskan karbohidrat olahan dapat memengaruhi senyawa yang masuk ke otak dan mengacaukan keseimbangan hormon.
Gangguan ini tidak hanya terjadi pada insulin, tetapi juga berdampak pada hormon lain seperti aldosteron yang mengatur tekanan darah, estrogen, hingga hormon stres seperti adrenalin dan kortisol.
Fluktuasi hormon tersebut dapat memicu berbagai gejala, mulai dari perubahan suasana hati, kecemasan, insomnia, mudah marah, hingga kesulitan berkonsentrasi.
Risiko Peradangan hingga Gangguan Serius
Konsumsi gula dan karbohidrat berlebih juga meningkatkan oksidasi dan peradangan dalam tubuh. Kondisi ini menjadi pemicu berbagai penyakit, termasuk gangguan psikotik seperti skizofrenia dan gangguan bipolar.
Hal ini menunjukkan bahwa pola makan tidak hanya memengaruhi tubuh secara fisik, tetapi juga berperan dalam kesehatan mental jangka panjang.
Alternatif Pola Makan untuk Otak
Untuk menjaga kesehatan otak, pola makan rendah karbohidrat hingga diet ketogenik disebut dapat menjadi pilihan.
Dalam pola ini, tubuh memproduksi keton melalui proses ketogenesis yang dapat memenuhi hingga 70% kebutuhan energi otak.
Selain itu, tubuh tetap menghasilkan glukosa melalui proses glukoneogenesis di hati, sehingga kebutuhan energi otak tetap terpenuhi meski asupan karbohidrat rendah.
Dengan keseimbangan ini, otak mendapatkan sumber energi alternatif tanpa harus bergantung pada asupan gula dan karbohidrat berlebih.
Dengan memahami dampak pola makan terhadap otak, masyarakat diharapkan lebih bijak dalam mengatur konsumsi gula dan karbohidrat agar kesehatan mental dan fisik tetap terjaga.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Medical Daily
Hujan deras di lereng barat daya Merapi picu risiko lahar dan awan panas. Warga diminta menjauhi sungai berhulu Merapi.
Timnas Iran memindahkan markas ke Meksiko jelang Piala Dunia 2026 demi mengatasi masalah visa dan keamanan.
Kepuasan pelanggan KAI Daop 6 Jogja terus meningkat hingga 4,55 pada 2025. Layanan makin nyaman, aman, dan ramah lingkungan.
BNPB mengimbau masyarakat waspada cuaca ekstrem usai BMKG memprediksi hujan lebat disertai angin kencang di sejumlah wilayah Indonesia.
Jadwal KRL Jogja-Solo terbaru 25 Mei 2026 lengkap. Tarif Rp8.000, berangkat hampir tiap jam, solusi cepat anti macet.
Bruno Fernandes mencetak 21 assist musim ini, memecahkan rekor Liga Inggris dan mengungguli Thierry Henry serta Kevin De Bruyne.