Mentrans Dorong Hunian Vertikal Tipe 45 di Lokasi Transmigrasi
Mentrans dorong hunian vertikal dan standar rumah tipe 45 di kawasan transmigrasi untuk solusi lahan sempit.
Ilustrasi keriput./Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA—Paparan sinar Matahari yang kerap dianggap sepele ternyata bisa memicu perubahan serius pada kulit. Dalam jangka panjang, dampaknya tidak hanya membuat kulit tampak lebih tua, tetapi juga meningkatkan risiko kanker kulit.
Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin dr. R Amanda Sumantri, SpKK, FINSDV yang berpraktik di RS Premier Bintaro menjelaskan, paparan sinar ultraviolet (UV) secara terus-menerus dapat merusak DNA sel kulit. Kondisi ini menjadi pemicu utama penuaan dini sekaligus meningkatkan potensi munculnya kanker kulit.
“Paparan sinar ultraviolet yang mengenai kulit selama bertahun-tahun akan mengubah DNA dalam sel-sel kulit sehingga memicu penuaan dini dan meningkatkan risiko kanker kulit,” ujarnya dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Kamis (26/3/2026).
Dampak tersebut paling sering terlihat pada bagian tubuh yang terbuka. Area seperti wajah, leher, punggung tangan, lengan, kaki, hingga dada bagian atas menjadi lokasi yang rentan mengalami perubahan.
Tanda-tandanya pun beragam dan kerap muncul perlahan. Mulai dari pembuluh darah halus menyerupai laba-laba di hidung, pipi, dan leher, hingga berkurangnya elastisitas kulit yang ditandai munculnya garis halus serta kerutan di sekitar mata dan mulut.
Selain itu, paparan UV juga dapat memicu bercak merah kasar dan bersisik yang dikenal sebagai keratosis aktinik. Perubahan pigmen seperti melasma, bintik penuaan, hingga bercak putih di lengan, kaki, dan punggung tangan juga kerap muncul.
Kondisi tersebut membuat warna kulit menjadi tidak merata dan teksturnya berubah, bahkan bisa menyebabkan kulit menipis seiring waktu.
Perlindungan Harian Jadi Kunci
Untuk menekan risiko tersebut, penggunaan tabir surya menjadi langkah utama yang tidak boleh diabaikan. Amanda menyarankan penggunaan sunscreen ber-SPF tinggi dan tahan air setiap hari, terutama pada area kulit yang terbuka.
“Menghindari paparan sinar matahari langsung mulai pukul 10 pagi sampai 4 sore juga dapat membantu mengurangi risiko,” katanya.
Ia menambahkan, kerusakan DNA akibat sinar UV tidak dapat pulih sepenuhnya. Namun, sejumlah perawatan medis masih bisa membantu memperbaiki tampilan kulit.
Beberapa metode yang dapat dipertimbangkan antara lain laser skin rejuvenation untuk merangsang kolagen dan mengurangi kerutan, microdermabrasion untuk mengangkat sel kulit mati, serta chemical peels guna memperbaiki warna kulit.
Pilihan lainnya termasuk suntik dermal filler untuk menggantikan kolagen yang berkurang dan terapi intense pulsed light (IPL) yang memanfaatkan gelombang cahaya panjang untuk mengurangi tanda penuaan.
Dengan risiko yang terus mengintai, perlindungan kulit sejak dini menjadi langkah penting agar dampak paparan sinar matahari tidak berkembang menjadi gangguan yang lebih serius.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Mentrans dorong hunian vertikal dan standar rumah tipe 45 di kawasan transmigrasi untuk solusi lahan sempit.
Guru Besar UMY menilai pencegahan kekerasan seksual di lingkungan pendidikan harus dilakukan dengan membangun ekosistem perlindungan yang menyeluruh.
Siswi SMAN 1 Bantul Anggita Ayu Mahanani Hanifah lolos Paskibraka Nasional 2026 mewakili DIY setelah melewati seleksi berjenjang.
Dishub Solo memberi sanksi kepada jukir yang menarik tarif parkir Rp5.000 di atas ketentuan dan mencatut nama RT di Jalan Gajahmada.
GSI SMP Sleman 2026 menjadi ajang pencarian bibit pesepak bola muda untuk memperkuat kontingen Sleman pada GSI tingkat DIY.
FWA 5G diprediksi menjadi mesin pertumbuhan baru internet rumah di Indonesia dengan kualitas mendekati FTTH dan menjangkau wilayah minim fiber.