13 Ribu Pelajar Magetan Alami Gangguan Mata, Gadget Jadi Sorotan
Dinkes Magetan mencatat 13.000 pelajar alami gangguan mata dari 57.000 skrining 2025, sebagian besar akibat visus dan penggunaan gadget.
Ilustrasi bercak hitam di kulit wajah./Getty Images \r\n
Harianjogja.com, JOGJA—Polusi udara dapat memberikan dampak buruk bagi kesehatan kulit, seperti memicu stres oksidatif dan peradangan. Hal tersebut disampaikan oleh dr Arini Astasari Widodo, MS, SpKK, dokter spesialis kulit dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI).
"Polusi udara dapat menyebabkan berbagai efek merugikan pada kesehatan kulit. Partikulat zat halus, misalnya, dapat menembus jauh ke dalam kulit, memicu stres oksidatif dan peradangan," ujar Arini dikutip dari Antara, Kamis (15/6/2023).
Anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI) itu melanjutkan paparan polutan pada kulit seperti partikel debu, gas buang kendaraan bermotor, hingga polutan industri dapat meningkatkan kekeringan, peradangan, dan sensitivitas bahkan memperburuk pasien dengan kondisi kulit yang pernah dialami sebelumnya termasuk gejala eksaserbasi.
Tak lupa polutan dapat pula memperburuk kondisi kulit yang sudah ada seperti jerawat, eksim, dan rosacea. Selain itu, paparan terhadap polutan secara berkala berisiko meningkatkan perubahan pigmentasi kulit salh satunya hiperpigmentasi atau meningkatnya produksi melanin.
"Hal ini dapat menyebabkan mudah timbul masalah bintik atau bercak gelap pada kulit yang terpapar secara langsung dengan polutan," imbuhnya.
Baca juga: Jajal Pesona Gunung Ireng Gunungkidul, Spotnya Melamun di Atas Bukit
Potensi penuaan dini maupun kerusakan kulit turut meningkat akibat partikel halus (PM2.5) pada polusi udara serta polutan oksidatif, yang merusak kolagen dan elastisitas kulit sehingga kulit menjadi keriput, munculnya garis halus, serta menghilangkan kekencangan kulit.
Dokter lulusan Harvard Medical School itu pun membagikan cara untuk mencegah dampak buruk polusi udara bagi kesehatan kulit, yakni rutin merawat kulit meliputi membersihkan secara teratur guna menghilangkan polutan yang menumpuk di kulit, melembapkan kulit, dan melindungi kulit dari faktor-faktor lingkungan lainnya.
"Selain itu, regimen perawatan kulit yang kuat yang dapat melindungi barrier kulit dan penggunaan produk yang kaya antioksidan dapat memberikan pertahanan terhadap efek merugikan polusi dengan membantu dalam menetralkan radikal bebas dan mengurangi peradangan,” tambah Arini.
Menurut Arini, mendorong publik dan pemerintah guna mengurangi emisi serta menciptakan regulasi polutan industri yang lebih ketat dapat membantu mengurangi dampak buruk polusi terhadap lingkungan dan kesehatan kulit. "Dengan meningkatkan kesadaran, menerapkan langkah-langkah pencegahan, dan memfasilitasi kolaborasi antara peneliti, dokter, dan pembuat kebijakan, kita dapat bekerja untuk mempertahankan dan meningkatkan kesehatan kulit di dunia yang semakin terpapar polusi," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Dinkes Magetan mencatat 13.000 pelajar alami gangguan mata dari 57.000 skrining 2025, sebagian besar akibat visus dan penggunaan gadget.
Gempa DIY membuat perjalanan kereta sempat dihentikan sementara. KAI Daop 6 memastikan seluruh operasional kereta kini kembali normal dan aman.
Jadwal KRL Solo-Jogja hari ini Minggu 28 Juni 2026 lengkap dari Palur hingga Yogyakarta. Tarif tetap Rp8.000 sekali perjalanan.
Alumni FHUI 1991 menggelar reuni di Bantul dengan menanam pohon bersama lansia dan ABK sebagai legacy bagi lingkungan dan masyarakat.
Polda DIY membangun sumur bor dan menyalurkan air bersih bagi sekitar 550 warga Gunungkidul dalam rangka Hari Bhayangkara ke-80.
Jadwal KRL Jogja-Solo hari ini Minggu 28 Juni 2026 lengkap dari Yogyakarta hingga Palur. Tarif tetap Rp8.000 sekali perjalanan.