Advertisement

Timbangan Naik Saat Diet Sehat Ini Penjelasan Dokter

Maya Herawati
Senin, 23 Maret 2026 - 07:07 WIB
Maya Herawati
Timbangan Naik Saat Diet Sehat Ini Penjelasan Dokter Foto ilustrasi menu diet berupa salad sayur. / Freepik

Advertisement

Harianjogja.com, JAKARTA—Fenomena berat badan naik meski sudah makan sehat dan rutin berolahraga semakin banyak dialami. Kondisi ini bukan sekadar soal kalori masuk dan keluar, melainkan berkaitan dengan perubahan sistem metabolisme di dalam tubuh.

Dalam sejumlah kasus, tubuh justru beradaptasi terhadap pola diet yang dijalani. Akibatnya, pembakaran energi melambat dan lemak lebih mudah tersimpan, sehingga angka di timbangan tetap naik meski pola makan sudah dijaga.

Advertisement

Perubahan Metabolisme yang Tak Terasa

Ahli menjelaskan, tubuh memiliki mekanisme bertahan hidup yang membuatnya menyesuaikan diri saat asupan kalori berkurang dalam jangka panjang. Proses ini dikenal sebagai adaptasi metabolik.

Dalam kondisi tersebut, tubuh mulai menghemat energi dan membakar kalori lebih sedikit dibanding sebelumnya. Dampaknya, pola makan yang dulu efektif menurunkan berat badan justru hanya mempertahankan atau bahkan menambah berat badan.

Studi dari National Institutes of Health menunjukkan bahwa laju metabolisme bisa menurun setelah penurunan berat badan. Kondisi ini membuat fase stagnan atau plateau menjadi sulit dihindari.

Peran Hormon yang Sering Tak Disadari

Selain metabolisme, hormon juga berperan besar dalam mengatur berat badan. Salah satunya insulin, yang tidak hanya mengatur gula darah tetapi juga penyimpanan lemak.

Menurut Dr. G. Moinoddin, pakar medis yang fokus pada masalah obesitas dan metabolisme di India, insulin bekerja sebagai hormon yang mendorong penumpukan lemak. Saat resistensi insulin terjadi, tubuh memproduksi lebih banyak insulin sehingga lemak lebih mudah disimpan daripada dibakar.

Kondisi lain yang turut memengaruhi adalah resistensi leptin. Hormon ini seharusnya memberi sinyal kenyang ke otak, tetapi ketika terjadi gangguan, seseorang bisa terus merasa lapar meski sudah makan cukup.

Akibatnya, asupan makanan bisa berlebih tanpa disadari. Dalam jangka panjang, kondisi ini berkontribusi pada kenaikan berat badan.

Gangguan Hormon dan Kondisi Medis

Beberapa kondisi medis juga dapat memperlambat metabolisme dan memicu penambahan berat badan. Hipotiroidisme, misalnya, menyebabkan metabolisme berjalan lebih lambat.

Selain itu, PCOS atau sindrom polikistik ovarium sering dialami perempuan dan memengaruhi cara tubuh menyimpan lemak, terutama di area perut. Sementara itu, sindrom Cushing meningkatkan kadar kortisol yang berkaitan dengan penumpukan lemak.

Perubahan kecil pada hormon-hormon tersebut dapat berdampak besar pada keseimbangan energi tubuh.

Makanan Sehat Tetap Bisa Picu Kelebihan Kalori

Meski dikenal menyehatkan, makanan seperti kacang-kacangan, buah, biji-bijian, dan smoothies tetap mengandung kalori. Jika dikonsumsi berlebihan, makanan ini tetap berpotensi menyebabkan kenaikan berat badan.

Seperti dikutip dari The Times of India, Senin (23/3/2026 Dr. Jatin Kumar Majhi menekankan bahwa ukuran porsi menjadi faktor penting. Tubuh tetap akan menyimpan kelebihan energi, terlepas dari apakah sumbernya berasal dari makanan sehat atau tidak.

Stres dan Kurang Tidur Jadi Faktor Tambahan

Faktor gaya hidup juga turut memengaruhi metabolisme tubuh. Kurang tidur dapat meningkatkan hormon lapar, sementara stres memicu peningkatan kortisol.

Kondisi ini diperparah dengan peradangan kronis yang dapat mengganggu proses pembakaran lemak. Bahkan, menurut Centers for Disease Control and Prevention, kurang tidur berkaitan erat dengan kenaikan berat badan dan gangguan metabolisme.

Artinya, meski pola makan sudah dijaga dengan baik, kualitas tidur dan tingkat stres tetap menjadi faktor penting yang menentukan hasil akhir.

Fenomena ini menunjukkan bahwa pengelolaan berat badan tidak cukup hanya mengandalkan diet sehat, tetapi juga perlu memperhatikan keseimbangan hormon, pola tidur, serta kondisi tubuh secara keseluruhan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : The Times of India

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

Polres Wonosobo Pastikan Balon Udara Lebaran 2026 Wajib Ditambatkan

Polres Wonosobo Pastikan Balon Udara Lebaran 2026 Wajib Ditambatkan

News
| Senin, 23 Maret 2026, 01:17 WIB

Advertisement

Sukolilo Pati Sempat Viral, Ternyata Simpan Banyak Tempat Wisata

Sukolilo Pati Sempat Viral, Ternyata Simpan Banyak Tempat Wisata

Wisata
| Minggu, 22 Maret 2026, 16:57 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement