Cuaca Panas Ekstrem Mengintai, Ini Cara Cegah dan Atasi Heatstroke

Jumali
Jumali Sabtu, 01 Agustus 2026 22:57 WIB
Cuaca Panas Ekstrem Mengintai, Ini Cara Cegah dan Atasi Heatstroke

Ilustrasi. /Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Cuaca panas ekstrem yang menyertai musim kemarau tahun ini tidak hanya berdampak pada sektor pertanian, sumber daya air, dan energi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga mengingatkan adanya risiko gangguan kesehatan yang meningkat, salah satunya heatstroke atau sengatan panas yang dapat berakibat fatal apabila terlambat ditangani.

BMKG mencatat dinamika iklim dan musim kemarau saat ini memberikan dampak signifikan terhadap berbagai sektor kehidupan. Karena itu, lembaga tersebut terus berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk mendorong langkah antisipasi dan mitigasi terhadap dampak kekeringan maupun cuaca panas berkepanjangan.

Dalam rekomendasinya, BMKG meminta pelaku sektor pertanian menyesuaikan jadwal tanam dan memilih varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kondisi kering. Sementara pengelola sumber daya air dan energi diminta menghitung ketersediaan air baku serta mengantisipasi dampak terhadap produksi listrik tenaga air.

Namun di luar sektor ekonomi dan lingkungan, ancaman kesehatan juga menjadi perhatian serius. Curah hujan yang minim selama musim kemarau dapat memperburuk kualitas udara dan meningkatkan risiko penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

BMKG juga mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai peningkatan risiko penyakit yang berkaitan dengan perubahan cuaca, seperti demam berdarah dengue (DBD), malaria, hingga heatstroke akibat paparan suhu tinggi dalam waktu lama.

“Minimnya curah hujan selama musim kemarau juga berdampak langsung pada penurunan kualitas udara yang berpotensi meningkatkan penyakit ISPA. Seluruh pihak diminta mewaspadai ancaman ini, sekaligus menyiapkan mekanisme respons cepat terhadap dinamika sebaran penyakit DBD, malaria, hingga bahaya heatstroke akibat cuaca panas ekstrem,” tulis BMKG dalam keterangan resminya.

Apa Itu Heatstroke?

Mengacu pada informasi Dinas Kesehatan Pemerintah Aceh, heatstroke merupakan kondisi kegawatdaruratan medis yang terjadi ketika suhu tubuh meningkat hingga lebih dari 40 derajat Celsius dan disertai gangguan pada sistem saraf.

Kondisi ini terjadi saat tubuh kehilangan kemampuan mengatur suhu secara normal akibat paparan panas yang berlebihan. Jika tidak segera ditangani, heatstroke dapat menyebabkan kerusakan organ vital, gangguan saraf permanen, hingga kematian.

Beberapa gejala heatstroke yang perlu diwaspadai meliputi:

  • Suhu tubuh mencapai 40 derajat Celsius atau lebih.
  • Keringat berlebihan.
  • Sakit kepala hebat.
  • Pusing atau kepala terasa ringan.
  • Kulit memerah dan bibir kering.
  • Denyut nadi meningkat secara tiba-tiba.
  • Napas menjadi lebih cepat.
  • Mual dan muntah.
  • Kebingungan atau bicara tidak jelas.
  • Penurunan kesadaran.
  • Pingsan, terutama pada lansia.

Apabila seseorang menunjukkan gejala tersebut setelah beraktivitas di bawah terik matahari atau berada di lingkungan bersuhu tinggi, pertolongan pertama harus segera dilakukan.

Pertolongan Pertama Saat Heatstroke

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah memindahkan penderita ke tempat yang lebih sejuk dan teduh, seperti ruangan berpendingin udara atau area yang terlindung dari sinar matahari langsung.

Setelah itu, upayakan menurunkan suhu tubuh dengan memberikan kompres dingin menggunakan handuk basah pada area leher, ketiak, dan selangkangan yang memiliki banyak pembuluh darah besar.

Jika tersedia dan memungkinkan, metode ice bath atau merendam tubuh dalam air dingin dapat dilakukan. Namun cara ini tidak dianjurkan untuk lansia, anak-anak, penderita penyakit kronis, maupun orang yang baru selesai berolahraga berat.

Apabila penderita masih sadar, berikan air putih secara bertahap untuk membantu menggantikan cairan tubuh yang hilang akibat dehidrasi.

Sebaliknya, jangan memaksa memberikan minuman kepada orang yang mengalami penurunan kesadaran karena dapat meningkatkan risiko tersedak.

Masyarakat juga diingatkan untuk tidak memberikan obat penurun panas seperti parasetamol atau asetaminofen karena obat tersebut tidak efektif mengatasi heatstroke dan berpotensi memperberat gangguan organ.

Cara Mencegah Heatstroke

Pencegahan menjadi langkah terbaik untuk menghindari dampak heatstroke saat cuaca panas ekstrem.

Pertama, pastikan tubuh tetap terhidrasi dengan minum air putih secara berkala. Dianjurkan mengonsumsi sekitar 250 mililiter air setiap satu jam atau dua hingga tiga teguk secara rutin.

Kedua, gunakan perlindungan dari panas seperti topi lebar, payung, kacamata hitam, serta pakaian longgar berbahan ringan dan berwarna terang.

Ketiga, hindari aktivitas fisik berat pada siang hari saat suhu udara sedang tinggi. Istirahat yang cukup juga penting untuk membantu tubuh beradaptasi terhadap kondisi panas.

Keempat, dinginkan tubuh secara berkala dengan menyemprotkan air ke kulit, mengusap kepala menggunakan handuk basah, atau merendam pergelangan tangan dalam air dingin.

Kelima, gunakan tabir surya minimal SPF 30 dan ulangi pemakaian setiap dua jam sekali ketika beraktivitas di luar ruangan.

Terakhir, kenali gejala awal yang muncul. Jika mulai merasa pusing, lemah, kehilangan orientasi, atau mengalami gangguan konsentrasi akibat panas, segera cari tempat teduh dan dapatkan bantuan medis sebelum kondisi berkembang menjadi heatstroke.

Dengan meningkatnya suhu udara selama musim kemarau, kewaspadaan terhadap heatstroke menjadi semakin penting. Penanganan cepat dan langkah pencegahan sederhana dapat membantu mengurangi risiko gangguan kesehatan serius akibat cuaca panas ekstrem.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online