Advertisement

Film Setan Alas Usung Meta-Horor, Tayang Serentak 181 Layar Bioskop

Andreas Yuda Pramono
Selasa, 03 Maret 2026 - 15:47 WIB
Maya Herawati
Film Setan Alas Usung Meta-Horor, Tayang Serentak 181 Layar Bioskop Sutradara Film Setan Alas Yusron Fuadi (pakai kacamata) sedang berfoto bersama tim film dari Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM) di Gedung TILC SV UGM, Selasa (3/3/2026). - Harian Jogja - Andreas Yuda Pramono

Advertisement

Harianjogja.com, SLEMAN–Atmosfer mencekam dari sebuah vila tua di lereng gunung dengan vegetasi yang rapat menjadi panggung utama bagi teror yang tidak masuk akal.

Karya terbaru dari Akasacara Film berjudul Setan Alas ini siap menyuguhkan pengalaman sinematik berdurasi 84 menit yang bakal menghiasi 181 layar bioskop di berbagai kota besar di tanah air mulai Kamis (5/3/2026).

Advertisement

Mengambil latar lokasi di Wisma Djembranasari, kawasan Kaliurang, film ini tidak sekadar menjual ketakutan biasa melainkan membawa penonton masuk ke dalam labirin genre meta-horor.

Sutradara Yusron Fuadi mengungkapkan bahwa film ini bertindak sebagai alat refleksi sosial di mana para tokohnya terjebak di antara mitos dan kenyataan, bahkan sempat mempertanyakan apakah rentetan kejadian ganjil yang mereka alami mirip dengan skenario film.

Kualitas produksinya telah teruji setelah menyabet penghargaan bergengsi dalam Indonesian Screen Awards di Jogja-Netpac Asian Film Festival (JAFF) 2023 untuk kategori Best Film, Best Storytelling, dan Best Editing.

Setan Alas berhasil bersaing ketat dengan judul-judul besar lainnya seperti Jatuh Cinta Seperti di Film-Film, Women from Rote Island, Onde Mande, hingga Ali Topan.

“Dari segi manajemen produksi, film ini memang benar-benar dikembangkan di bawah naungan laboratorium kampus UGM. Di Sekolah Vokasi kan ada center of excellence, sekitar sebelas lab. Lab industri kreatif ada di lantai tujuh,” kata Yusron saat ditemui di SV UGM, Selasa (3/3/2026).

Ia menegaskan bahwa karya ini merupakan hasil maksimal dari potensi lokal Yogyakarta yang melibatkan kolaborasi lintas instansi, termasuk siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

Bagi para sinefil yang merindukan pembaruan, Yusron menjanjikan teknik multiple twist yang akan memancing imajinasi liar namun tetap terasa segar dan lucu di beberapa bagian.

“Keluar bioskop nanti akan senyam-senyum sendiri. Satu jam terakhir akan banyak eksplorasi imajinasi lucu, seru, segar, tapi tetap mencekam. Kami tetap melibatkan pengetahuan penonton,” jelasnya.

Sisi edukasi juga menjadi napas utama dalam proyek ini, sebagaimana disampaikan Associate Producer Setan Alas, Unan Yusmaniar Oktiawati, yang menekankan pentingnya ekosistem industri kreatif di UGM. Fakultas Ekonomi turut dilibatkan dalam strategi pemasaran, sementara Sekolah Vokasi bertindak sebagai penanggung jawab utama produksi. Langkah ini diharapkan menjadi sarana pembelajaran nyata bagi mahasiswa dalam menghadapi standar industri perfilman nasional.

Selain layar lebar, tim SV UGM tengah menyempurnakan gim bertajuk Ganyang Setan Alas yang dijadwalkan meluncur pada 2026 melalui platform Steam. Gim yang berlatar di Hutan Wanagama, Gunungkidul ini mengadaptasi ide-ide liar yang belum sempat tertuang di film, lengkap dengan nuansa lokalitas seperti zombi berbusana jarik serta iringan gending Jawa. Musik latar supranatural tersebut dibangun secara eksploratif oleh tiga komposer lintas kampus, yakni Clemens Felix Setiyawan (UMN), I Ketut Sumerjana (ISI Bali), dan Pandan Purwachandra (ISI Yogyakarta).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Berita Terkait

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

Polri Siagakan 110 Jelang Mudik Lebaran 2026

Polri Siagakan 110 Jelang Mudik Lebaran 2026

News
| Selasa, 03 Maret 2026, 18:47 WIB

Advertisement

Festival Imlek Nasional 2026 Pecahkan Rekor Dunia Lontong Cap Go Meh

Festival Imlek Nasional 2026 Pecahkan Rekor Dunia Lontong Cap Go Meh

Wisata
| Minggu, 01 Maret 2026, 22:47 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement