Polda Metro Bongkar Judi Berkedok Arena Game di Jakbar-Jakut
Polda Metro Jaya gerebek dua lokasi judi berkedok arena game di Jakbar dan Jakut, amankan 60 orang dan ratusan mesin permainan.
Ilustrasi. /Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA—Tidak semua orang wajib menghindari garam, tetapi ada lima penyakit yang harus membatasi konsumsi natrium secara ketat. Dokter spesialis jantung dan transplantasi jantung Dr. Dmitry Yaranov menegaskan, garam bisa menjadi “bahan bakar penyakit” pada kondisi medis tertentu.
Pernyataan tersebut dikutip dari laman Hindustan Times. Menurut Dr. Yaranov, meski garam sering dianggap musuh dalam diet dan tren kesehatan, kenyataannya natrium tetap penting bagi tubuh. Namun, pada kelompok pasien tertentu, konsumsi berlebihan justru memperburuk kondisi medis yang sudah ada.
“Pada tubuh tertentu, garam bukanlah bumbu. Garam adalah bahan bakar bagi penyakit,” katanya.
Kelompok pertama yang harus membatasi asupan garam adalah pasien gagal jantung. Kelebihan natrium dapat memicu retensi cairan, memperparah penumpukan cairan dalam tubuh, meningkatkan frekuensi rawat inap, dan dalam jangka panjang dikaitkan dengan penurunan harapan hidup.
Kedua, pasien hipertensi resisten—yang membutuhkan tiga hingga empat obat untuk menjaga tekanan darah tetap terkontrol—juga sangat rentan terhadap dampak garam.
“Jika tekanan darah Anda membutuhkan tiga hingga empat obat, garam bukanlah 'netral'. Ini adalah sabotase,” ujarnya.
Ketiga, pasien penyakit ginjal kronis umumnya disarankan mengurangi konsumsi natrium. Garam dapat mempercepat penurunan fungsi ginjal dan menyulitkan pengendalian volume cairan dalam tubuh.
Keempat, penderita hipertensi portal akibat sirosis hati perlu waspada. Tekanan darah tinggi pada sistem vena portal dapat semakin memburuk jika terjadi retensi cairan, yang pada akhirnya memperparah asites atau penumpukan cairan di rongga perut.
Kelima, lansia dengan kekakuan pembuluh darah juga berisiko lebih tinggi. Seiring bertambahnya usia, arteri kehilangan kemampuan menangani natrium secara efisien, sehingga konsumsi garam berlebih dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular.
Meski demikian, Dr. Yaranov menekankan bahwa natrium tetap berperan penting dalam fungsi tubuh, termasuk sinyal saraf, kontraksi otot, keseimbangan cairan, serta pengaturan tekanan darah.
Ia mengingatkan agar masyarakat tidak menyederhanakan anjuran kesehatan secara berlebihan. Menurutnya, yang terpenting adalah memahami kondisi fisiologis masing-masing individu sebelum membatasi atau mengonsumsi garam secara ekstrem.
“Garam bukanlah musuh bagi semua orang. Garam tidak menghancurkan umat manusia. Saran kesehatan yang terlalu disederhanakanlah yang melakukannya. Natrium itu penting. Saraf. Otot. Pengaturan tekanan darah. Kehidupan,” katanya.
Dengan memahami siapa yang perlu membatasi konsumsi garam—seperti pasien gagal jantung, hipertensi resisten, penyakit ginjal kronis, hipertensi portal, dan lansia dengan kekakuan pembuluh darah—masyarakat dapat mengatur pola makan secara lebih bijak tanpa mengabaikan kebutuhan dasar tubuh terhadap natrium.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Polda Metro Jaya gerebek dua lokasi judi berkedok arena game di Jakbar dan Jakut, amankan 60 orang dan ratusan mesin permainan.
Pemerintah siapkan PLTG 2.000 MW senilai Rp70 triliun untuk dorong swasembada energi dan target pertumbuhan ekonomi 8%.
Jogja didorong jadi destinasi unggulan selain Bali. Kunjungan wisman ke Borobudur–Prambanan meningkat signifikan.
Jadwal KRL Jogja–Solo Minggu 14 Juni 2026 lengkap semua stasiun, tarif Rp8.000, beroperasi dari pagi hingga malam.
Prabowo bertemu Menhan Jepang bahas kerja sama pertahanan, dari pendidikan militer hingga teknologi dan keamanan maritim.
Jadwal KRL Solo–Jogja Minggu 14 Juni 2026 lengkap dari pagi hingga malam. Tarif Rp8.000, cek jam keberangkatan terbaru di sini.