Advertisement
Lima Kelompok Rentan yang Perlu Diet Rendah Garam
Ilustrasi. - Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA—Tidak semua orang wajib menghindari garam, tetapi ada lima penyakit yang harus membatasi konsumsi natrium secara ketat. Dokter spesialis jantung dan transplantasi jantung Dr. Dmitry Yaranov menegaskan, garam bisa menjadi “bahan bakar penyakit” pada kondisi medis tertentu.
Pernyataan tersebut dikutip dari laman Hindustan Times. Menurut Dr. Yaranov, meski garam sering dianggap musuh dalam diet dan tren kesehatan, kenyataannya natrium tetap penting bagi tubuh. Namun, pada kelompok pasien tertentu, konsumsi berlebihan justru memperburuk kondisi medis yang sudah ada.
Advertisement
“Pada tubuh tertentu, garam bukanlah bumbu. Garam adalah bahan bakar bagi penyakit,” katanya.
Kelompok pertama yang harus membatasi asupan garam adalah pasien gagal jantung. Kelebihan natrium dapat memicu retensi cairan, memperparah penumpukan cairan dalam tubuh, meningkatkan frekuensi rawat inap, dan dalam jangka panjang dikaitkan dengan penurunan harapan hidup.
BACA JUGA
Kedua, pasien hipertensi resisten—yang membutuhkan tiga hingga empat obat untuk menjaga tekanan darah tetap terkontrol—juga sangat rentan terhadap dampak garam.
“Jika tekanan darah Anda membutuhkan tiga hingga empat obat, garam bukanlah 'netral'. Ini adalah sabotase,” ujarnya.
Ketiga, pasien penyakit ginjal kronis umumnya disarankan mengurangi konsumsi natrium. Garam dapat mempercepat penurunan fungsi ginjal dan menyulitkan pengendalian volume cairan dalam tubuh.
Keempat, penderita hipertensi portal akibat sirosis hati perlu waspada. Tekanan darah tinggi pada sistem vena portal dapat semakin memburuk jika terjadi retensi cairan, yang pada akhirnya memperparah asites atau penumpukan cairan di rongga perut.
Kelima, lansia dengan kekakuan pembuluh darah juga berisiko lebih tinggi. Seiring bertambahnya usia, arteri kehilangan kemampuan menangani natrium secara efisien, sehingga konsumsi garam berlebih dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular.
Meski demikian, Dr. Yaranov menekankan bahwa natrium tetap berperan penting dalam fungsi tubuh, termasuk sinyal saraf, kontraksi otot, keseimbangan cairan, serta pengaturan tekanan darah.
Ia mengingatkan agar masyarakat tidak menyederhanakan anjuran kesehatan secara berlebihan. Menurutnya, yang terpenting adalah memahami kondisi fisiologis masing-masing individu sebelum membatasi atau mengonsumsi garam secara ekstrem.
“Garam bukanlah musuh bagi semua orang. Garam tidak menghancurkan umat manusia. Saran kesehatan yang terlalu disederhanakanlah yang melakukannya. Natrium itu penting. Saraf. Otot. Pengaturan tekanan darah. Kehidupan,” katanya.
Dengan memahami siapa yang perlu membatasi konsumsi garam—seperti pasien gagal jantung, hipertensi resisten, penyakit ginjal kronis, hipertensi portal, dan lansia dengan kekakuan pembuluh darah—masyarakat dapat mengatur pola makan secara lebih bijak tanpa mengabaikan kebutuhan dasar tubuh terhadap natrium.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : Antara
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Kota London Sambut Ramadan, Wali Kota Nyalakan Lampu Hias Meriah
Advertisement
Festival Sakura 2026 di Arakurayama Batal, Turis Jadi Sorotan
Advertisement
Berita Populer
- SPPG di Sleman Tunggu Skema MBG Ramadan dari BGN
- Ratusan Pedagang Pasar Niten Ikuti Cek Kesehatan Gratis
- Sinau Sejarah, Perdalam Pemahaman Generasi Muda Akan Keistimewaan DIY
- Pemkab Bantul Pastikan Program MBG Tetap Jalan Selama Ramadan 2026
- Dugaan Pelecehan Anak di Umbulharjo, Terduga Pelaku Diringkus Polisi
Advertisement
Advertisement







