Demi Moore Sebut AI Tak Akan Pernah Gantikan Jiwa Seni
Demi Moore menegaskan AI tidak akan pernah menggantikan jiwa seni dalam konferensi pers Cannes Film Festival 2026.
Netflix
Harianjogja.com, JOGJA—Serial terbaru The Art of Sarah menghadirkan premis misteri yang awalnya sangat memikat, namun perlahan terasa melelahkan karena plot yang dibuat terlalu berlapis. Drama ini menyoroti penyelidikan mendalam terhadap sosok Sarah Kim yang diperankan oleh Shin Hye-sun, seorang pengusaha glamor bergelimang harta yang namanya mendadak terseret dalam pusaran kasus pembunuhan.
Butwhytho melaporkan, penonton diajak menyelami dunia kelas atas yang penuh kepalsuan, di mana setiap simbol kemewahan menyimpan rahasia gelap yang berusaha ditutupi. Atmosfer elegan dan sinematografi yang mewah menjadi daya tarik utama sejak episode pertama.
Shin Hye-sun kembali membuktikan kualitas aktingnya dengan menghidupkan berbagai sisi kepribadian Sarah Kim secara meyakinkan. Transformasinya terasa halus—dari figur sosialita penuh percaya diri hingga perempuan rapuh yang terjebak dalam teka-teki identitasnya sendiri.
Sayangnya, keseimbangan karakter tidak sepenuhnya terjaga. Detektif Park Mu-gyeong yang diperankan Lee Joon-hyuk kurang mendapat pendalaman emosi yang memadai. Padahal, karakter ini seharusnya menjadi jangkar rasional dalam pusaran misteri yang semakin kompleks.
Salah satu kekuatan The Art of Sarah terletak pada kritik sosialnya. Serial ini secara elegan memotret sisi kelam industri barang mewah serta tajamnya jurang kelas sosial. Simbolisme tas desainer sebagai representasi status sosial menjadi metafora yang kuat terhadap pergeseran nilai di masyarakat modern.
Kemewahan dalam drama ini bukan sekadar estetika, melainkan bahasa visual yang menyiratkan ironi: semakin tinggi status seseorang, semakin rapuh fondasi identitasnya.
Meskipun memiliki landasan cerita yang kuat, serial ini terjebak dalam ambisi untuk membuat misteri yang terlalu kompleks. Identitas Sarah yang dibuat berlapis-lapis justru mengaburkan inti konflik.
Memasuki pertengahan episode, banyaknya twist yang dipaksakan di setiap bagian cerita justru mengurangi kekuatan dramatis. Alih-alih meningkatkan ketegangan, alur yang terlalu rumit membuat penonton kesulitan terhubung secara emosional.
Seolah ingin terus mengejutkan, drama ini justru melupakan esensi misteri yang solid: fokus dan konsistensi naratif.
Pada akhirnya, The Art of Sarah menyisakan refleksi menarik tentang identitas dan makna status sosial. Drama ini berhasil menawarkan visual memukau dan akting kelas atas dari Shin Hye-sun, tetapi kurang disiplin dalam menjaga kesederhanaan struktur cerita.
Filosofi “less is more” terasa relevan di sini. Misteri yang kuat sejatinya tidak selalu membutuhkan banyak lapisan tambahan—cukup karakter yang kokoh dan alur yang terarah.
Meski demikian, bagi pencinta drama psikologis penuh simbol dan intrik sosial, The Art of Sarah tetap menjadi tontonan yang layak disimak—setidaknya untuk menikmati kemilau akting Shin Hye-sun yang kembali bersinar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Demi Moore menegaskan AI tidak akan pernah menggantikan jiwa seni dalam konferensi pers Cannes Film Festival 2026.
Wagub DIY Paku Alam X pastikan seluruh rekomendasi DPRD ditindaklanjuti. Evaluasi pembangunan fokus pada pemerataan ekonomi dan tata kelola.
Pembongkaran SDN Nglarang untuk proyek Tol Jogja-Solo rampung. Lahan kini 100% bebas, proyek masuk tahap penimbunan dan pengecoran.
Wali Kota Solo Respati Ardi prioritaskan guru dan nakes dalam rekrutmen CASN. Pemkot kejar solusi kekurangan tenaga pendidikan.
Perubahan tampak pada pembaruan Grand Vitara, yaitu penyematan Electronic Parking Brake yang menggantikan sistem tuas rem parkir mekanis pada keluaran sebelumny
Menkeu Purbaya dan Menteri ESDM Bahlil bahas strategi peningkatan PNBP, swasembada energi, dan listrik desa. Ini target dan datanya.