Hiphop, Diplomasi yang Datang dari Jalanan
Program Next Level di Bantul menunjukkan jejak diplomasi hiphop sebagai medium ekspresi generasi muda dan dialog budaya lintas negara.
Alice Mizrachi, salah satu dari lima seniman yang menjadi edukator dalam program Next Level./Istimewa-PSBK
Harianjogja.com, BANTUL—Program Next Level menunjukkan betapa generasi muda memaknai diplomasi secara berbeda. Bagi mereka, diplomasi tidak harus berlangsung di ruang-ruang resmi, tetapi bisa hadir di panggung, di sesi diskusi komunitas, atau dalam kolaborasi lintas disiplin.
Hiphop pun menjadi medium yang lentur, mampu merangkul isu lokal sekaligus terhubung dengan percakapan global tentang identitas, keadilan sosial, dan kebebasan berekspresi.
Alice Mizrachi, salah satu dari lima seniman yang menjadi edukator dalam program Next Level mengatakan aerosol art yang ia geluti menjadi bagian yang tak bisa dilepaskan dari hiphop.
Memang, sejak lahir di Bronx, New York, pada 1970-an, hiphop berkembang sebagai kultur yang mencakup empat elemen utama, yakni MC-ing (rap), DJ-ing, breakdance, dan aerosol art. “Dalam konteks inilah aerosol art menemukan rumahnya, sebagai medium visual dari semangat jalanan,” kata Alize.
Dalam sejarahnya, hiphop menjadi bentuk kspresi komunitas Afrika-Amerika dan Latin yang terpinggirkan. Ia bukan produk negara, melainkan suara warga. Tetapi dalam perkembangannya, pemerintah Amerika Serikat melihat potensi hiphop sebagai medium diplomasi budaya. Di titik inilah terjadi pergeseran menarik, budaya yang lahir sebagai bentuk resistensi justru menjadi jembatan diplomasi. “Hiphop dipresentasikan sebagai from the people, for the people,” kata Alize.
Posisi aerosol art, kata dia, pun menjadi penting lantaran bersifat visual, langsung, dan mudah diterjemahkan lintas bahasa. Tembok kota menjadi kanvas global. Simbol, warna, dan karakter melintasi batas negara “tanpa perlu visa”.
Disinggung soal industri yang kini sudah menyertai perkembangan hiphop, Alize tak menampiknya.
Menurut dia, hiphop kini telah menjadi industri besar: label rekaman, brand fesyen, sponsor, dan festival global. Kini pun sudah banyak “bendera” berdiri di bawah payung hiphop. Sebagian melihat ini sebagai pelemahan spirit awal; sebagian lain melihatnya sebagai evolusi.
Bagi dia, hiphop selalu ada di dua sisi, yakni yang mentah dan intuitif, serta yang terstruktur dan komersial. Tetapi dia menekankan bahwa jika seseorang tulus dalam berkarya, hiphop tetap bisa berjalan tanpa harus sepenuhnya tunduk pada industri. “Komersialisasi bisa hadir, tetapi tidak selalu menentukan nilai,” ucap dia.

Antok Gantazz (Istimewa/PSBK)
Menjaga Muruah
Senada, Antok Gantazz, salah satu personel Jogja Hiphop Foundation (JHF), sebuah grup hiphop asal Jogja, menilai industrialisasi sejatinya tak hanya melanda hiphop, tetapi juga cabang seni yang lain.
Untuk itu, hal terpenting adalah bukan soal kontaminasi industrialisasi pada seni, tetapi sejauh mana seni itu mampu menjaga muruah dan spiritnya untuk tetap berkontribusi pada peradaban dan nilai-nilai kemanusiaan.
“Di JHF, kami masih menjaga betul muruah itu. Bukan karena kami independen, tetapi kami sadar, spirit hiphop adalah perlawanan dan kemanusiaan,” kata dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Rio de Janeiro terpilih jadi tuan rumah peluncuran MotoGP 2027 di Pantai Botafogo, 21 Februari. Seluruh tim dan pembalap hadir, sambut era mesin 850cc.
Persija Jakarta gelar team launching dan uji coba internasional lawan Brisbane Roar di JIS, 29 Agustus 2026. Skuad dan jersey terbaru diperkenalkan. Cek detail
Mengisi daya HP pakai kabel USB ternyata tak boleh sembarangan. Hindari 5 kesalahan ini agar baterai awet dan proses charging cepat! Cas HP yang benar di sini.
Polresta Jogja menegaskan bahwa seluruh layanan SIM Keliling hanya melayani perpanjangan SIM A dan SIM C yang masih berlaku.
Harga emas Antam, UBS, dan Galeri 24 di Pegadaian kompak naik pada Rabu 12 Agustus 2026. Emas Antam 1 gram naik menjadi Rp2,819 juta, sementara UBS Rp2,741 juta