Advertisement
Asal-usul Nama Virus Nipah: Berawal dari Desa di Malaysia
Virus - Foto dibuat oleh AI - StockCake
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA—Nama penyakit Virus Nipah yang kembali ramai diperbincangkan publik ternyata berasal dari bahasa Melayu dan merujuk pada sebuah desa di Malaysia, bukan dari India tempat kasus terbaru terdeteksi. Hal ini diungkapkan Adjunct Professor Griffith University, Prof. Tjandra Yoga Aditama, dalam keterangan resmi yang dikonfirmasi di Jakarta, Jumat.
Menurut Prof. Tjandra, dunia saat ini memang tengah waspada mengikuti perkembangan kasus Virus Nipah yang muncul di India. Namun, penamaan virus tersebut memiliki akar sejarah epidemiologi yang kuat di Asia Tenggara. “Nama virus ini, Nipah, bukanlah bahasa India. Ini adalah bahasa Melayu yang kita kenal bersama,” ujarnya.
Advertisement
Berdasarkan hasil penyelidikan epidemiologi secara komprehensif, klaster awal Virus Nipah pertama kali muncul pada akhir September 1998 di sekitar Kota Ipoh, Negara Bagian Perak, Malaysia. Pada fase awal ini, penyakit tersebut belum dikenali sebagai entitas baru.
Klaster kedua kemudian terjadi di sekitar Kota Sikamat, Negara Bagian Negeri Sembilan, pada Desember 1998 hingga Januari 1999. Pada masa dua klaster awal tersebut, penyakit ini bahkan sempat diduga sebagai Japanese Encephalitis (JE) karena gejala utama yang muncul berupa radang otak atau ensefalitis.
BACA JUGA
Kebingungan identifikasi berlanjut ketika penyakit tersebut juga sempat dikira sebagai penyakit Hendra, mengingat kemiripan gejala klinis dan kedekatan asal-usul virus. Dugaan ini tercatat dalam jurnal ilmiah Morbidity and Mortality Weekly Report (MMWR) berjudul “Outbreak of Hendra-Like Virus—Malaysia and Singapore, 1998–1999” yang terbit pada April 1999.
Situasi berubah seusai munculnya klaster ketiga yang menjadi wabah terbesar, yakni di Kampung Sungai Nipah, Bukit Pelandok, dan sekitarnya di wilayah Port Dickson, Negara Bagian Negeri Sembilan, yang mulai terdeteksi pada Desember 1998. Pemerintah setempat kemudian menetapkan lockdown di Kampung Sungai Nipah untuk menekan penyebaran penyakit.
Dari data epidemiologi di Kampung Sungai Nipah inilah dilakukan penelitian mendalam yang akhirnya menyimpulkan bahwa wabah tersebut disebabkan oleh virus baru. Virus tersebut kemudian secara resmi diberi nama Virus Nipah, merujuk pada lokasi pertama kali identifikasi ilmiah dilakukan.
Prof. Tjandra menegaskan bahwa penamaan ini juga ditegaskan dalam literatur internasional. Buku Nipah Virus Infection terbitan WHO Southeast Asia Regional Office (SEARO) tahun 2008 menyebutkan bahwa nama virus ini diambil dari desa di Malaysia tempat virus tersebut ditemukan secara resmi. “Penamaan virus ini memang menunjukkan pada desa di Malaysia,” ujarnya.
Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara itu menambahkan, dugaan awal sebagai JE muncul karena kesamaan gejala ensefalitis pada pasien. Sementara dugaan sebagai penyakit Hendra muncul karena kedekatan karakteristik virus.
Pada akhirnya, Virus Nipah bersama Virus Hendra (HeV) dikelompokkan dalam genus virus baru bernama Henipavirus—gabungan dari Hendra dan Nipah—yang termasuk dalam famili Paramyxoviridae. Prof. Tjandra sendiri dikenal sebagai tokoh kesehatan publik yang pernah menjabat sebagai Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Mantan Kepala Badan Litbang Kesehatan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : Antara
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
India Deportasi 2 Turis Inggris yang Tempel Stiker Free Palestine
Advertisement
Berita Populer
- UNISA Jogja Respons Dugaan Kekerasan Mahasiswa, Fokus pada Korban
- Misterius, Kerangka Manusia Ditemukan di Rumah Kosong Gamping Sleman
- Derbi Mataram PSIM Jogja vs Persis Solo Dijaga Ketat Ratusan Personel
- Dinkes Jogja Tegaskan Nihil Kasus Virus Nipah, Warga Diminta Waspada
- Sentra Genteng Sambirejo Gunungkidul Sambut Program Gentengisasi
Advertisement
Advertisement




