Advertisement

Kebiasaan Sehat Dinilai Efektif Kurangi Keparahan GERD

Newswire
Senin, 26 Januari 2026 - 14:37 WIB
Maya Herawati
Kebiasaan Sehat Dinilai Efektif Kurangi Keparahan GERD Ilustrasi gerd / Freepik

Advertisement

Harianjogja.com, JAKARTA—Pola hidup sehat menjadi faktor penting dalam menekan risiko keparahan Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) pada anak muda, seiring meningkatnya kasus gangguan pencernaan yang dipicu kebiasaan tidak sehat di usia produktif.

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Prof. Dr. dr. Rino Alvani Gani Sp.PD K-GEH menjelaskan, penerapan healthy lifestyle atau gaya hidup sehat berperan besar dalam mengurangi tingkat keparahan GERD, terutama pada kelompok usia muda yang rentan terpapar pola hidup tidak teratur.

Advertisement

“Cara menguranginya adalah healthy-life style, tidak merokok, berolahraga, makan teratur, tidak gemuk, kelola stress dengan baik,” kata Prof. Rino, Senin (26/1/2026).

GERD atau Gastroesophageal Reflux Disease merupakan gangguan pencernaan kronis yang terjadi ketika asam lambung naik kembali ke kerongkongan (esofagus) secara berulang, sehingga memicu rasa tidak nyaman hingga peradangan.

Menurut Rino, banyak anak muda saat ini belum menerapkan gaya hidup sehat secara konsisten, sehingga berisiko mengalami gangguan kesehatan di usia dini, termasuk GERD. Kondisi tersebut diperparah oleh minimnya aktivitas fisik, kebiasaan merokok, serta pola makan yang tidak teratur atau cenderung tidak sehat.

Ia menilai kelebihan berat badan pada anak muda kerap dipicu oleh kurangnya olahraga dan konsumsi makanan tidak seimbang, yang kemudian meningkatkan risiko gangguan pencernaan. Padahal, penerapan gaya hidup sehat dapat menekan risiko keparahan GERD dan mencegah terjadinya peradangan pada saluran cerna bagian atas.

Jika tidak dikendalikan, GERD berpotensi menimbulkan keluhan lanjutan, mulai dari rasa panas atau nyeri di dada, gangguan menelan akibat sensasi seperti ada gumpalan di tenggorokan, hingga gangguan pernapasan.

“GERD bisa menimbulkan rasa sakit atau panas di dada, dapat menimbulkan peradangan saluran cerna atas, dapat menyebabkan sulit menelan karena seperti ada gumpalan di tenggorokan, dapat memicu asma atau batuk-batuk lama, dapat timbul rasa pusing,” katanya.

Rino menegaskan, meski dapat memicu berbagai keluhan kesehatan, GERD bukanlah penyebab utama kematian langsung atau kematian mendadak. Namun, pengelolaan stres yang buruk menjadi faktor risiko yang dapat memperparah kondisi GERD, bahkan memicu stres berlebihan yang berdampak pada keluhan jantung berdebar.

Dalam kasus tertentu, GERD juga berisiko menimbulkan komplikasi serius, seperti peradangan kerongkongan hingga kanker esofagus. Selain itu, terdapat risiko pneumonia aspirasi ketika asam lambung masuk ke paru-paru, sehingga pengendalian GERD melalui gaya hidup sehat menjadi langkah pencegahan yang penting dan berkelanjutan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : Antara

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

BNPB Meminta Warga Waspada Hujan Lebat dan Angin hingga 29 Januari

BNPB Meminta Warga Waspada Hujan Lebat dan Angin hingga 29 Januari

News
| Senin, 26 Januari 2026, 16:47 WIB

Advertisement

Festival Lampion Dinosaurus Zigong Tarik Wisatawan ke Sichuan

Festival Lampion Dinosaurus Zigong Tarik Wisatawan ke Sichuan

Wisata
| Sabtu, 24 Januari 2026, 15:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement