Advertisement

Ruminasi Picu Depresi, Ini Cara Memutus Siklus Pikiran Negatif

Maya Herawati
Rabu, 14 Januari 2026 - 13:07 WIB
Maya Herawati
Ruminasi Picu Depresi, Ini Cara Memutus Siklus Pikiran Negatif Foto ilustrasi overthinking. / Freepik

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA—Kebiasaan memikirkan hal-hal negatif secara berulang atau ruminasi kerap dianggap sepele, padahal pola pikir ini dapat menggerus kesehatan mental, menurunkan produktivitas, hingga memicu depresi dan kecemasan. Dampak tersebut diungkapkan Harvard Health yang menilai ruminasi sebagai salah satu faktor yang paling sering memperpanjang stres psikologis dalam kehidupan modern.

Ruminasi dalam istilah psikologi adalah pola berpikir berlebihan yang berulang dan sulit dihentikan. Pikiran terus berputar pada masalah, kesalahan masa lalu, atau kekhawatiran masa depan tanpa menghasilkan solusi nyata.

Advertisement

Harvard Health mencatat, kondisi ini bukan hanya mengganggu konsentrasi dan pekerjaan, tetapi juga berdampak pada kesehatan fisik, mulai dari gangguan tidur hingga penurunan daya tahan tubuh.

Para ahli menegaskan, siapa pun yang terus bergulat dengan ruminasi sebaiknya mencari bantuan profesional. Namun, di luar terapi klinis, sejumlah perubahan sederhana dalam keseharian terbukti mampu membantu memutus siklus pikiran negatif tersebut.

Pendekatan pertama adalah mengalihkan perhatian secara sadar. Cognitive Behavioral Therapy Los Angeles menyebut pengalihan fokus sebagai cara efektif menghentikan arus ruminasi.

Kegiatan seperti menekuni hobi, membaca buku, menonton film, atau berbincang dengan teman dan keluarga dapat “memaksa” otak keluar dari lingkaran pikiran yang sama. Aktivitas yang menyerap perhatian membantu pikiran menemukan jalur baru yang lebih sehat.

Perubahan lingkungan juga berperan besar. Terlalu lama berada di ruang tertutup sering membuat seseorang terjebak dalam pikirannya sendiri. Berada di luar ruangan, sekadar berjalan santai di taman, berolahraga ringan, atau menghabiskan waktu di tempat baru, memberi rangsangan segar bagi otak. Lingkungan yang berubah membantu pikiran melepaskan fokus dari kecemasan yang berulang.

Latihan mindfulness atau kesadaran penuh menjadi langkah penting berikutnya. Harvard Health menekankan bahwa mindfulness melatih seseorang hadir pada saat ini tanpa menghakimi pikirannya sendiri. Praktik sederhana seperti meditasi, pernapasan dalam, atau mengamati sekitar dengan pancaindra membantu mengenali pikiran yang muncul tanpa harus terjebak di dalamnya. Kesadaran ini membuat ruminasi kehilangan cengkeramannya.

Jarak Diri dan Pikiran Negatif

Menulis jurnal juga terbukti efektif. University of Rochester Medical Center menjelaskan bahwa menuangkan pikiran ke atas kertas membantu “memindahkan” beban dari kepala ke media yang lebih konkret. Proses ini memberi jarak antara diri dan pikiran negatif. Yang terpenting bukan kualitas tulisan, melainkan keberanian mengekspresikan isi pikiran secara jujur.

Langkah terakhir adalah belajar melihat gambaran yang lebih besar. Tidak semua kekhawatiran layak menguras waktu dan energi. Para ahli menyarankan untuk bertanya pada diri sendiri apakah perenungan tersebut benar-benar membantu menyelesaikan masalah atau justru memperbesarnya.

Jika kekhawatiran berada di luar kendali atau bersumber dari ketakutan yang tidak rasional, memilih untuk melepaskannya adalah bentuk perlindungan diri.

Ruminasi pada dasarnya adalah sinyal bahwa pikiran sedang kelelahan. Dengan mengubah kebiasaan kecil, mengalihkan perhatian, mengubah lingkungan, melatih kesadaran, menulis, dan menilai ulang kekhawatiran, seseorang dapat mulai membangun jarak dari pikiran negatif dan memulihkan kesehatan mental secara bertahap.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : The Times of India

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

Pemerintah Siapkan Perpres AI sebagai Payung Regulasi Nasional

Pemerintah Siapkan Perpres AI sebagai Payung Regulasi Nasional

News
| Rabu, 14 Januari 2026, 15:57 WIB

Advertisement

Tren Wisata 2026: Bangkok Teratas, Bali 10 Besar Dunia

Tren Wisata 2026: Bangkok Teratas, Bali 10 Besar Dunia

Wisata
| Selasa, 13 Januari 2026, 16:17 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement