Advertisement
Kebiasaan Ini Bisa Memicu Stres dan Berpotensi Menaikkan Kortisol
Ilustrasi stres berkepanjangan / Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Kadar kortisol yang terus tinggi sering menjadi penyebab rasa stres berkepanjangan, mudah lelah, dan emosi tidak stabil, bahkan ketika tidak ada masalah besar. Menurut dokter, sejumlah kebiasaan harian yang tampak sepele justru berperan besar menjaga hormon stres tetap aktif sepanjang hari.
Kortisol merupakan hormon penting yang membantu tubuh merespons tekanan. Namun, jika kadarnya terus meningkat tanpa jeda pemulihan, dampaknya dapat mengganggu keseimbangan fisik dan mental. Pola hidup tertentu diketahui dapat memicu kondisi ini secara perlahan dan berulang.
Advertisement
Seorang dokter asal India, Kunal Sood, seorang ahli anestesi dan spesialis pengobatan nyeri intervensi, seperti dikutip dari Hindustan Times, mengungkapkan bahwa enam kebiasaan harian berikut dapat membuat kadar kortisol tetap tinggi dan memperparah respons stres tubuh. Penjelasan ini ia sampaikan melalui edukasi kesehatan yang banyak dibagikan di media sosial.
1. Kurang Tidur
BACA JUGA
Kurang tidur menjadi salah satu penyebab utama meningkatnya kadar kortisol. Tubuh seharusnya menurunkan produksi hormon stres pada malam hari, namun pola tidur yang terganggu justru membuat kadar kortisol tetap tinggi.
"Tidur normal membantu menekan kortisol di malam hari. Bahkan satu malam kurang tidur dapat meningkatkan kadar kortisol pada sore hari, sedangkan kurang tidur kronis membuat hormon ini terus tinggi hingga keesokan harinya," ujar Dr. Sood.
2. Olahraga Berlebihan tanpa Pemulihan
Olahraga memang dapat meningkatkan kortisol dalam jangka pendek, tetapi biasanya akan kembali normal setelah tubuh pulih. Masalah muncul ketika latihan dilakukan berlebihan tanpa waktu istirahat yang cukup.
"Ketika intensitas latihan melebihi kemampuan pemulihan tubuh, ritme kortisol menjadi tidak normal. Kondisi ini mencerminkan gangguan pada sumbu HPA, bukan adaptasi yang sehat," jelas Dr. Sood.
3. Konsumsi Kafein Berlebihan
Kafein bersifat stimulan dan dapat meningkatkan kewaspadaan dengan menaikkan kadar kortisol. Jika dikonsumsi berlebihan, terutama saat tubuh sedang stres, efeknya bisa berlangsung lebih lama.
"Kafein memblokir adenosin dan merangsang pelepasan ACTH serta kortisol. Penelitian menunjukkan kadar kortisol dapat tetap tinggi selama beberapa jam, bahkan pada peminum rutin, terutama jika dikombinasikan dengan stres," kata Dr. Sood.
4. Stres Emosional Berkepanjangan
Tekanan emosional yang berlangsung lama berdampak langsung pada sistem pengatur stres tubuh. Kondisi ini memicu aktivasi terus-menerus pada sumbu hipotalamus–pituitari–adrenal (HPA).
"Stres psikologis kronis dapat menjaga kortisol tetap tinggi atau tidak stabil, yang pada akhirnya memengaruhi suasana hati, fungsi kognitif, dan keseimbangan sistem imun," jelasnya.
5. Melewatkan Waktu Makan
Kebiasaan melewatkan makan, terutama sarapan, dapat meningkatkan kadar kortisol. Tubuh menganggap kondisi ini sebagai stres metabolik dan merespons dengan meningkatkan hormon stres untuk menjaga kadar gula darah.
"Melewatkan makan membuat kortisol naik demi mempertahankan glukosa darah. Jika dilakukan terus-menerus, ritme alami kortisol bisa terganggu," ujar Dr. Sood.
6. Paparan Layar Berlebihan
Penggunaan gawai dalam waktu lama, terutama pada malam hari, dapat mengganggu ritme alami tubuh. Paparan cahaya biru diketahui menekan produksi melatonin dan memengaruhi pola tidur.
"Waktu layar yang berlebihan berkaitan dengan kadar kortisol yang lebih tinggi di malam hari. Cahaya biru mengganggu ritme sirkadian dan secara tidak langsung meningkatkan hormon stres," jelas Dr. Sood.
Memahami kebiasaan pemicu stres dan kortisol tinggi merupakan langkah awal untuk menjaga keseimbangan fisik dan mental. Dengan memperbaiki pola tidur, pola makan, aktivitas fisik, serta membatasi paparan layar dan kafein, tubuh dapat kembali pada ritme alaminya. Mengelola kebiasaan sehari-hari menjadi kunci penting untuk menurunkan kadar kortisol dan meningkatkan kualitas hidup.
Catatan untuk pembaca: Artikel ini hanya untuk tujuan informatif dan bukan pengganti saran medis profesional.
BACA JUGA
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : Hindustan Times
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Sekretariat Kabinet Jelaskan Pasal Krusial KUHP dan KUHAP Baru
Advertisement
Korea Selatan Perpanjang Bebas Biaya Visa hingga Juni 2026
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement



