Destry Damayanti Dipilih Jadi Gubernur BI, Usung Visi 3I+1S
Komisi XI DPR menetapkan Destry Damayanti sebagai Gubernur BI 2026-2031. Ia membawa visi 3I+1S untuk arah kebijakan bank sentral.
Polusi udara - Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA—Paparan terhadap polusi udara selama kehamilan dikaitkan dengan kelahiran prematur, berat badan lahir rendah, dan komplikasi seperti gangguan hipertensi.
Dikutip dari Medical Daily, Sabtu, studi terbaru menunjukkan bahwa dampaknya juga mencakup kesehatan mental, dengan paparan polusi hampir melipatgandakan risiko depresi pasca persalinan.
Risiko yang meningkat ini dapat bertahan hingga tiga tahun, seperti diungkapkan dalam studi terbaru.
Tingkat tinggi nitrogen dioksida (NO2) dan partikel matter yang dapat terhirup (PM10), terutama dalam jangka waktu lama, diketahui dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan seperti asma, serangan jantung, dan stroke.
Studi yang diterbitkan dalam Science of the Total Environment mengungkapkan bahwa polutan ini juga terkait dengan peningkatan risiko depresi pasca persalinan.
"Yang benar-benar baru dari penelitian ini adalah bahwa kami mampu memperluas pemeriksaan depresi hingga lebih dari satu tahun setelah persalinan, dan menunjukkan efek berkelanjutan dari polusi udara selama kehamilan terhadap gejala depresi hingga tiga tahun pasca persalinan," kata Tracy Bastain, penulis utama studi tersebut dalam siaran pers.
Para peneliti mengikuti 361 ibu hamil dari awal kehamilan hingga tiga tahun pasca persalinan.
BACA JUGA: Air dan Udara di Jogja Kian Merana, Terjadi Tren Penurunan Kualitas
Gejala depresi para peserta dikumpulkan satu, dua, dan tiga tahun setelah mereka melahirkan. Data itu dibandingkan dengan pengukuran polusi udara mingguan di sekitar rumah mereka selama kehamilan.
Analisis menunjukkan bahwa wanita yang terpapar tingkat NO2 yang lebih tinggi antara minggu ke-13 dan ke-29 kehamilan memiliki risiko depresi pasca persalinan 3,86 kali lebih tinggi hingga tiga tahun.
Mereka yang terpapar tingkat PM10 yang lebih tinggi antara minggu ke-12 dan ke-28 juga memiliki risiko serupa yang lebih tinggi (3,88 kali).
Setelah satu tahun, 17,8 persen wanita mengalami gejala depresi, 17,5 persen setelah dua tahun, dan 13,4 persen setelah tiga tahun.
"Studi kami sebenarnya menemukan persentase depresi yang secara klinis signifikan lebih tinggi dibandingkan dengan data CDC terbaru. Ini sangat penting, kemungkinan ada lebih banyak kasus depresi pasca persalinan daripada yang ditunjukkan oleh data prevalensi nasional kami," kata Bastain.
"Implikasi penting lainnya dari penelitian kami adalah bahwa depresi dapat bertahan lama setelah 12 bulan pertama pasca persalinan, dan para ibu harus berbicara dengan penyedia layanan kesehatan mereka jika mereka terus mengalami gejala depresi," tambah Bastain.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Komisi XI DPR menetapkan Destry Damayanti sebagai Gubernur BI 2026-2031. Ia membawa visi 3I+1S untuk arah kebijakan bank sentral.
Gal Gadot memastikan tak kembali sebagai Wonder Woman di DCU baru. Simak perjalanan Gadot sebagai Diana Prince dan rencana DC Studios.
Polri menetapkan 89 tersangka kasus karhutla dari 189 laporan polisi. Penyidik juga menelusuri kemungkinan keterlibatan korporasi.
Empat mobil pick up untuk usaha 2026, dari Gran Max hingga Isuzu Traga. Simak harga, spesifikasi, kapasitas bak, dan kegunaannya.
Pieter Huistra masih mencari pemain lokal untuk PSS Sleman. Ia menginginkan pemain versatile yang bisa mengisi beberapa posisi.
Timnas voli putri Indonesia kalah 1-3 dari Iran pada perempat final AVC Women's Continental 2026. Garuda Pertiwi gagal melaju ke semifinal.