Pemutihan Denda PBB Klaten 2026, Bayar Pokok Saja hingga 31 Desember
Pemkab Klaten hapus denda PBB 2020-2025. Warga cukup bayar pokok pajak hingga 31 Desember 2026.
Ilustrasi. /Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Kafein, kandungan yang umum ditemui dalam kopi dan teh, seringkali menjadi pilihan untuk menangkal rasa kantuk, meningkatkan suasana hati maupun kinerja fisik. Bahkan kafein juga dipercaya dapat meningkatkan sistem metabolisme dan mental seseorang.
Genetik memainkan peran penting terhadap tingkat toleransi kafein pada tubuh sebab ada yang mengalami efek seperti pusing, denyut jantung lebih cepat, sering buang air kecil, terjaga sepanjang hari, dan lainya namun sebagian lain tidak mengalami efek serupa atau pengaruhnya tidak terlalu besar.
Terlepas dari tingkat toleransi kafein, mengonsumsinya secara berlebihan dapat memberi efek samping yang buruk bagi tubuh. Salah satu yang paling umum ialah insomnia yang membuat waktu tidur berkurang atau kesulitan untuk tidur.
Selain itu terdapat beberapa efek samping lainnya akibat mengonsumsi kafein berlebihan, selengkapnya simak rangkuman berikut melansir dari Healthline:
Kafein dalam dosis rendah hingga sedang pada sebagian orang dapat meningkatkan kewaspadaan atau kesadaran seseorang, sementara dalam dosis lebih tinggi berpotensi dapat menyebabkan kecemasan atau kegelisahan.
Studi telah menunjukkan asupan kafein yang sangat tinggi sekitar 1.000 mg atau lebih per hari menyebabkan kegugupan, kegelisahan dan gejala serupa juga dapat dialami pada seseorang yang lebih sensitif terhadap kafein, meski hanya mengonsumsi kafein dalam dosis sedang.
Sering kali orang minum kopi di pagi hari untuk membantu buang air besar. Efek pencahar pada kopi ini mengakibatkan pelepasan gastrin, hormon yang diproduksi perut guna mempercepat aktivitas di usus besar.
Tak ayal jika mengonsumsi kafein dalam dosis tinggi akan memicu seseorang untuk buang air besar, diare, bahkan dapat memperburuk penyakit gastroesophageal reflux (GERD) pada sejumlah orang.
Meskipun kafein tidak meningkatkan risiko penyakit jantung atau stroke pada sebagian besar orang. Namun sebuah studi menemukan kafein dapat meningkatkan tekanan darah sebab efek stimulasinya pada sistem saraf.
Untungnya, efek tersebut hanya sementara meski tidak memungkiri dampak lebih kuat dapat terjadi bagi orang yang tidak terbiasa mengonsumsinya. Hal ini tentu berbahaya sebab tekanan darah tinggi dapat merusak arteri lalu menghambat aliran darah ke jantung dan otak, singkatnya menjadi salah satu faktor risiko serangan jantung dan stroke
Penelitian menunjukkan kafein memicu bahan kimia otak tertentu yang hampir sama dengan kokain dan amfetamin, akan tetapi tidak menimbulkan efek kecanduan seperti pada obat-obatan tersebut.
Namun, seseorang yang terbiasa minum kafein dosis tinggi setiap harinya dapat mengalami ketergantungan psikologis atau fisik, sehingga jika tidak mengonsumsi kafein dalam beberapa jam atau sehari memicu rasa sakit kepala, kelelahan, dan gejala lainnya.
Oleh karenanya, agar terhindar dari efek samping tersebut penting untuk memperhatikan jumlah dan waktu mengonsumsi kafein sehingga tidak mengganggu sistem metabolisme dan tubuh bekerja secara optimal.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemkab Klaten hapus denda PBB 2020-2025. Warga cukup bayar pokok pajak hingga 31 Desember 2026.
Meutya Hafid mengungkap hampir 200 ribu anak di Indonesia terpapar judi online, termasuk 80 ribu anak di bawah usia 10 tahun.
Mentan Amran melepas ekspor pupuk urea ke Australia senilai Rp7 triliun untuk memperkuat industri pupuk nasional dan pasar global.
Gereja Katedral Jakarta menggelar empat sesi misa Kenaikan Yesus Kristus, Polda Metro Jaya amankan 860 tempat ibadah.
ILRC mencatat kasus femisida seksual di Indonesia meningkat pada 2025. Korban didominasi anak perempuan hingga perempuan muda.
Aktivitas parkir bus wisata di Eks Menara Kopi Kotabaru Jogja melonjak saat libur panjang, bisa tembus lebih dari 35 bus per hari.