Advertisement

Waspada! Ini 6 Penyakit Silent Killer yang Picu Kematian

Arlina Laras
Senin, 12 Desember 2022 - 21:17 WIB
Bhekti Suryani
Waspada! Ini 6 Penyakit Silent Killer yang Picu Kematian Hipertensi. - Bisnis.com

Advertisement

Harianjogja.com, JAKARTA– Ada beberapa penyakit yang patut diwaspadai, sebab dikenal sebagai pembunuh senyap alias silent killer, di mana penyakit tersebut menampakkan gejala sama sekali, tetapi dapat merenggut nyawa penderitanya secara tiba-tiba. 

Salah satu ciri khas dari silent killer adalah penyakit yang dapat muncul sekaligus memburuk tanpa gejala yang jelas. Tidak jarang penyakit-penyakit ini sulit dideteksi pada tahap awal.

Advertisement

PROMOTED:  Dari Garasi Rumahan, Kini Berhasil Perkenalkan Kopi Khas Indonesia di Kancah Internasional

Padahal penyakit yang masuk kategori ini cukup berbahaya, bahkan sering kali, penanganan penyakit sudah sangat terlambat dan bahkan diketahui ketika penderita di ambang kematian.

Melansir dari Times of India, berikut daftar penyakit yang bisa masuk ke dalam kategori silent killer. Simak ulasannya

1. Tekanan darah tinggi

Tekanan darah tinggi atau hipertensi adalah salah satu kondisi kesehatan paling berbahaya yang dapat menyebabkan penyakit kronis lainnya. Perkiraan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan bahwa 1,28 miliar orang dewasa berusia 30-79 tahun di seluruh dunia menderita hipertensi.

Alasan mengapa tekanan darah tinggi dianggap sebagai silent killer adalah karena penyakit ini muncul tanpa gejala tertentu. Hanya setelah kerusakan itu terjadi adalah ketika orang menyadari gawatnya situasi. Tidak hanya berdampak pada jantung dan arteri, penyakit ini juga membuat seseorang lebih rentan terhadap penyakit kardiovaskular yang serius seperti serangan jantung, gagal jantung, stroke, dan banyak lagi.

Meskipun sulit untuk dideteksi, melakukan pemeriksaan tekanan darah secara rutin dan teratur, mengonsumsi makanan yang kaya kalium, serat, dan protein serta rendah garam serta menjaga berat badan yang sehat adalah cara-cara untuk mengurangi risiko Anda terkena hipertensi. Orang yang merokok dan minum harus menghindari praktik tidak sehat seperti itu, lebih baik menginvestasikan lebih banyak waktu dalam aktivitas fisik.

2. Penyakit jantung koroner

Penyakit jantung koroner mampu mengancam jiwa, di mana tertutupnya aliran darah di pembuluh koroner tersebut disebabkan adanya plak/sumbatan/stenosis/penyempitan, yang diawali penimbunan lemak, hingga membuat darah tidak dapat mengalir melewati penyempitan itu.

Semua yang terjadi diatas adalah suatu “proses”, mulai dari ringan sampai dengan berat (sampai tertutup total sehingga serangan jantung) yang tentunya memerlukan waktu yang panjang, hanya mulainya proses itu sering tidak disadari pasien. 

Salah satu gejala penyakit jantung adalah apabila ada gejala nyeri dada kiri seperti tertekan benda berat, menjalar ke lengan kiri/punggung/leher, keringat dingin, sesak nafas, berdebar dll, kita dapat mencurigai itu sebagai tanda serangan jantung, tetapi apabila tidak ada gejala atau tidak berat gejalanya, bisa saja penyakit tersebut terus mengintai.

Tanpa skrining yang tepat dan gaya hidup yang sehat untuk jantung, mencegah penyakit arteri koroner nyaris mustahil. Bahkan ketika seseorang yang menderita kondisi tersebut diberikan pengobatan cepat, mereka mungkin mengalami gagal jantung dan aritmia.

Meskipun demikian, jika Anda memiliki tekanan darah tinggi dan/atau kolesterol tinggi, atasi dengan pemeriksaan rutin. Lakukan perubahan gaya hidup yang diperlukan seperti makan sehat, berolahraga lebih banyak, hindari merokok, minum, dan aktivitas tidak sehat lainnya. 

3. Diabetes

Diabetes atau kadar gula darah tinggi dapat terdiri dari dua jenis, tipe satu dan tipe dua. Pada diabetes tipe satu, pankreas menghasilkan sedikit atau tidak ada insulin, sedangkan diabetes tipe dua memengaruhi cara tubuh Anda memproses gula darah, juga dikenal sebagai glukosa. 

Dalam kasus yang terakhir, individu seringkali tidak merasakan gejala. Hanya ketika penyakit berkembang, dapat menyebabkan kelelahan, penurunan berat badan, sering buang air kecil dan haus.

Diabetes tingkat lanjut juga dapat mempengaruhi organ tubuh lainnya seperti jantung, ginjal, dan penglihatan Anda. Sehingga, Anda harus berfokus pada pola makan yang tepat, berolahraga, menjaga berat badan yang sehat, dan pemeriksaan rutin adalah hal yang dapat mencegah komplikasi.

4. Osteoporosis

Osteoporosis adalah penyakit tulang yang masuk ke dalam kategori silent killer, di mana individu yang terkena seringkali tidak menyadari kondisinya, karena tidak menunjukkan tanda atau gejala apa pun, sampai mereka mengalami patah tulang dan mendapatkan diagnosis. Selain mempengaruhi kepadatan tulang, hal itu juga dapat berdampak pada kesehatan mulut.

Makan makanan yang kaya kalsium dan vitamin D sangat penting untuk mencegah segala bentuk penyakit tulang. Seseorang juga harus latihan menahan beban termasuk, berjalan, joging, menaiki tangga, sambil melakukan pemeriksaan rutin. 

5. Sleep apnea

Sleep apnea adalah gangguan tidur yang parah, di mana orang bernapas dengan keras saat tidur. Sehingga, menyebabkan dengkuran keras, kelelahan ekstrem di siang hari, dan banyak lagi. Pasien dengan apnea tidur yang parah lebih rentan dan rentan terhadap kematian mendadak dan stroke saat tidur, yang juga membuatnya menjadi silent killer. 

Untuk kasus apnea tidur ringan, perubahan gaya hidup tertentu mungkin bisa membantu. Menurunkan berat badan, makan dengan baik, berhenti merokok, dan mendapatkan perawatan yang tepat untuk alergi hidung dapat membantu Anda menyingkirkan kondisi tersebut atau bahkan mengelolanya dengan baik. Namun, konsultasikan dengan dokter Anda untuk mengetahui seberapa ringan atau parah kasus sleep apnea Anda, sehingga mereka dapat meresepkan perawatan yang sesuai.

6. Fatty liver disease

Fatty liver disease atau perlemakan hati berarti penumpukan lemak di organ hati. Dalam dunia medis, perlemakan hati juga dikenal sebagai hepatic steatosis. 
 
Biasanya, orang yang mengonsumsi alkohol berlebih dalam jangka panjang berisiko mengalami perlemakan hati. Namun, tidak menutup kemungkinan perlemakan hati juga terjadi pada mereka yang tidak banyak mengonsumsi alkohol, karena faktor genetik, yang disertai faktor-faktor lain seperti obesitas, kadar kolesterol tinggi, usia lanjut, sleep apnea, hipotiroidisme, malnutrisi dan penurunan berat badan secara drastis.
 
Jika tidak mendapat penanganan yang tepat, perlemakan hati akan menimbulkan komplikasi antara lain penumpukan cairan pada abdomen, pembengkakan pembuluh darah esofagus yang bisa pecah, kanker hati, dan gagal hati (liver failure).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : JIBI/Bisnis.com

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Harga BBM Nonsubsidi Pertamina Naik Per 1 Februari 2023

News
| Rabu, 01 Februari 2023, 01:17 WIB

Advertisement

alt

Ini Nih... Wisata di Solo yang Instagramable, Ada yang di Dalam Pasar!

Wisata
| Selasa, 31 Januari 2023, 23:17 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement